Pentingnya Peningkatan Pengetahuan Tentang Karakteristik Penyakit Tuberkulosis

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh apotekers

Penyakit tuberkulosis (TB) adalah penyakit infeksi menular yang merupakan salah satu penyebab kematian tertinggi di dunia. Kasus TB di Indonesia menempati urutan ketiga di dunia dengan Provinsi Jawa Timur berada di peringkat kedua. Pengobatan TB bertujuan untuk menyembuhkan pasien, mencegah kekambuhan penyakit, memutuskan rantai penularan penyakit dan mencegah resistensi bakteri terhadap obat antituberkulosis (OAT). Terapi OAT merupakan pengobatan jangka panjang yang terdiri dari dua tahap, yaitu tahap intensif selama dua bulan pertama dan tahap lanjutan selama empat bulan berikutnya dengan potensial risiko ketidakpatuhan minum obat, biaya terapi obat, dan efek samping obat sehingga membutuhkan peran apoteker.

Peran pemerintah dalam mengendalikan penyakit TB ditunjukkan dengan pemberian OAT kombinasi tetap dosis (KDT) secara gratis di setiap puskesmas di Indonesia. Peran aktif petugas kesehatan termasuk apoteker diperlukan untuk keberhasilan manajemen TB. Apoteker adalah tenaga kesehatan terakhir yang dijumpai oleh pasien sebelum mendapatkan obat sehingga apoteker memiliki kesempatan untuk memberikan asuhan kefarmasian tentang cara penggunaan obat. Asuhan kefarmasian adalah landasan filosofis dalam tanggung jawab terapi obat oleh apoteker untuk meningkatkan kualitas hidup pasien yang diwujudkan melalui komunikasi terapeutik antara apoteker dan pasien untuk memenuhi kebutuhan terapi obat pada pasien. Pengetahuan apoteker merupakan kebutuhan dasar untuk dapat menerapkan asuhan kefarmasian yang meliputi pengetahuan tentang karakteristik penyakit, karakteristik obat, dan karakteristik pasien. Implementasi asuhan kefarmasian dilakukan melalui pemberian konseling kepada pasien tentang manfaat obat, efektivitas pengobatan, keamanan minum obat, dan kepatuhan untuk minum obat.

Penelitian tentang asuhan kefarmasian pada pasien TB telah dilakukan di seluruh puskesmas Kota Surabaya. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui penerapan asuhan kefarmasian pada pasien TB dan untuk mengetahui pengetahuan apoteker terkait karakteristik penyakit, karakteristik obat, dan karakteristik pasien. Penelitian ini dilakukan di Kota Surabaya mengingat Kota Surabaya menempati peringkat pertama dalam jumlah kasus TB terbanyak di Provinsi Jawa Timur. Penelitian dilakukan secara cross-sectional menggunakan kuesioner yang diberikan kepada total 63 apoteker seluruh puskesmas di Kota Surabaya. Pengumpulan data dilakukan selama 3 bulan dari Juli hingga September 2018. Instrumen penelitian berupa kuesioner untuk mengukur pengetahuan apoteker, yang terdiri dari pertanyaan tentang karakteristik penyakit, karakteristik obat, dan karakteristik pasien.

Analisis data menggunakan Statistical Product and Service Solutions (SPSS) versi 18 untuk Windows. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan data bahwa 26 (41,27%) apoteker menyiapkan OAT KDT dengan pemberian asuhan kefarmasian pada pasien TB, 16(25,40%) apoteker hanya menyiapkan OAT KDT tanpa memberikan asuhan kefarmasian, dan 21 (33,33%) apoteker tidak menyiapkan OAT KDT dan tidak melakukan asuhan kefarmasian karena dilakukan oleh tenaga kesehatan lain. Jumlah total apoteker yang tidak melakukan asuhan kefarmasian pada pasien TB di puskesmas yaitu 37 (58,73%) apoteker. Saat ini, peran apoteker di puskesmas masih sebatas aktivitas penyediaan OAT KDT sebagai produk, sedangkan aktivitas penyediaan obat sebagai sarana terapi melalui penerapan asuhan kefarmasian pada pasien TB ternyata masih belum optimal sehingga perlu ditingkatkan. Pengetahuan apoteker mengenai karakteristik penyakit TB memiliki nilai terendah 4,67 (46,67%) dari nilai maksimum dibandingkan nilai pengetahuan karakteristik OAT KDT dan nilai pengetahuan karakteristik pasien. Topik pertanyaan tentang karakteristik penyakit TB meliputi gejala penyakit, klasifikasi penyakit, perjalanan penyakit TB paru, sifat basil tahan asam, dan respons terapeutik.

Pengetahuan apoteker mengenai karakteristik penyakit TB perlu ditingkatkan untuk mendukung kemampuan apoteker. Pengetahuan apoteker tentang karakteristik penyakit, karakteristik obat, dan karakteristik pasien sangat diperlukan untuk penerapan asuhan kefarmasian pada pasien TB di puskesmas.


Penulis : Yuni Priyandani1*, Abdul Rahem1, M.Djunaedi1, Umi Athiyah1, M.B.Qomaruddin2, Kuntoro2

1 Fakultas Farmasi Universitas Airlangga

2 Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga

Link terkait artikel di atas: https://www.researchgate.net/publication/337601439_Pharmacist’s_Knowledge_of_Pulmonary_Tuberculosis_in_a_Cross_Sectional_Survey_at_Primary_Health_Care_Centers_in_Surabaya_Indonesia

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu