Manajemen Atopik Dermatitisp Pada Anjing

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Line Today

Atopik dermatitis adalah penyakit kulit kronis dengan gejala gatal yang sering terjadi pada anjing, pengobatan bervariasi dari waktu ke waktu dan berbeda berdasarkan lokasi geografis (Olivry, 2010). Hal ini disebabkan oleh reaksi hipersensitivitas imunologis terhadap zat-zat umum di lingkungan. Canine atopic dermatitis (CAD) diperkirakan mempengaruhi 15% hingga 30% dari populasi anjing (Hillier dan Griffin, 2001) dan penyakit seumur hidup dalam banyak kasus. Manajemen penyakit atopik dermatitis seringkali membuat frustasi pemilik dan dokter hewan.

Brutus adalah anjing jantan Golden Retriever yang tidak dikebiri, berusia 3 tahun dengan masalah kulit sejak September 2016. Dia adalah anjing yang aktif dan responsif yang suka berenang. Pemeriksaan fisik dilakukan dan terdapat kerak putih kering di beberapa tempat, belum terlihat kebotakan dan kulit terlihat kering, telah disarankan untuk mengurangi frekuensi berenang dan menggunakan shampo anti jamur (Sebazole). Pada Januari 2017 dia kembali dengan problem gatal pada telinga dan cukup sering menggaruk. Telinga kanan diperiksa dan terdapat keradangan, berhasil diobati dengan pemberian tetes telinga Oticon dan pembersih telinga Epi-Otic.

Brutus datang lagi dengan masalah hot spot di dahi dan beberapa lokasi lain di kepala, pemilik khawatir dengan intensitas gatal Brutus sehingga tubuh di daerah punggung mengalami eritema. Kami memberi injeksi anti inflamasi Dexafort 1,3 ml subkutan untuk berat badannya 26 kg. Dua bulan kemudian ia kembali lagi dengan masalah gatal dan kemerahan di sekitar daerah selangkangan, kami mencurigai adanya alergi terhadap makanan, sehingga disarankan untuk tes alergi tetapi pemiliknya menolak. Prosedur skin tape dilakukan dan dikonfirmasi infeksi yeast (Malasezzia sp.) kambuh kembali. Kami menyarankan mandi dengan shampo anti jamur (Sebazole) setiap minggu, diberikan tetes telinga Oticon, dan food trial.

Dia kembali dan mendapatkan suntikan Dexafort pada Oktober 2018, keluhan utama yaitu rasa gatal, kali ini masalah kulitnya semakin parah, lesi hiperpigmentasi terlihat pada sisi selangkangan. Kami menyarankan makanan untuk alergi dengan pakan komersial khusus z/d diet/Happy Dog Africa untuk kulit hipersensitif dan dilanjutkan mandi setiap minggu dengan shampo Sebazole. Brutus kembali lagi pada November 2018 dan dirawat inap, kami memberikan antibiotik Clindamycin dan anti radang Prednisolone untuk mengurangi rasa gatal dan kemerahan di daerah skrotum. Pemilik akhirnya setuju melakukan tes alergi pada Desember 2018 dan dari hasil tersebut menunjukkan Brutus memiliki alergi terhadap tomat, salmon, kelinci, domba, babi, gandum, oat, dan wijen. Kandungan pakan Brutus selama ini mengandung salmon.

Pada Februari 2019, masalahnya kembali lagi, kemerahan terlihat pada daerah skrotum, dada, dan perut. Kami sudah mencoba berbagai terapi tetapi ternyata tidak terlalu efektif. Akhirnya kami mencoba memberikan Cytopoin secara subkutan. Gejala pruritus berkurang secara memuaskan dalam 3 hari setelah injeksi. Pemulihan klinis lengkap ditunjukkan setelah 5 minggu terapi. 

Alergen menembus lapisan kulit dan menyebabkan reaksi alergi. Protein yang menyebabkan gatal dilepaskan dan menempel pada kulit saraf. Sinyal gatal dikirim ke otak, memicu keinginan untuk menggaruk. Anjing menggaruk dan membuat lapisan barrier sehingga kulit rusak. Cytopoin adalah obat biologis (protein, bukan kimia) yang berfungsi seperti sistem imun anjing sendiri untuk memblokir sinyal yang memicu gatal (Olivry dan Bäumer, 2015). Gonzales et al. (2013) melaporkan generasi protein interleukin-31 dan fungsi biologis sitokin ini dalam sistem anjing.

Canine IL-31 ditemukan untuk mengaktifkan Jalur JAK-STAT serta jalur MAPK dalam sel anjing. Cytopoin bekerja di tempat gatal dimulai dan memutus siklus gatal (Marsella et al., 2012), dimana hal ini berikatan dengan IL-31 yang beredar di tubuh anjing. Manajemen atopic dermatitis pada anjing menggunakan Cytopoin secara subkutan tampaknya efektif untuk mengurangi pruritus.

Penulis: Lita Rakhma Yustinasari, drh., M.Vet.

Link terkait artikel di atas: https://ivj.org.in/users/members/viewarticles.aspx?Y=2019&I=794#  

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu