Mengelola Paradoks Organisasi Guna Meningkatkan Inovasi pada Industri Broadcasting di Indonesia

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh eduvim.com

Agar daya saingnya berkelanjutan, organisasi harus inovatif dalam memproduksi dan melayani pelanggannya (baik dalam bentuk barang maupun jasa). Kebutuhan untuk inovatif ini akan semakin meningkat pada industri kreatif, yang mana di satu sisi konsumen membutuhkan produk yang mereka kenal (familiarity) namun juga membutuhkan sesuatu yang baru (novelty) agar mereka senantiasa tertarik untuk mengonsumsinya. Tensi dari kedua hal yang bertentangan tersebut, familiarity vs. novelty, harus dikelola oleh organisasi untuk mempertahankan daya saingnya di pasar.

Di industri pertelevisian (broadcasting) Indonesia, tensi tersebut juga ada dan harus dikelola agar rating TV bertahan dan meningkat. Sebagaimana kita tahu, TV di Indonesia menganut sistem free-to-air, konsumen (pemirsa) tidak perlu berlangganan secara khusus untuk menikmati berbagai tayangan yang ada. Hingga tahun 2015, market share dari free-to-air TV swasta nasional mencapai > 90%, sedangkan cable TV (perlu membayar untuk menonton, khususnya ke perusahaan-perusahaan yang menawarkan secara bundling: MNCVision, TransVision, dll) memiliki market share hamper 5%, dan sisanya dinikmati oleh TV lokal. Untuk hidup, 10 TV swasta nasional mengandalkan pendapatan dari pemasangan iklan dan tariffnya berdasarkan rating dari acara TV yang ditayangkan. Semakin tinggi ratingnya, maka akan semakin mahal tarif untuk penayangan iklan, dan tentunya pendapatan akan meningkat. Apalagi pengeluaran iklan, khususnya melalui media TV memiliki proporsi terbesar (hampir 70%) dengan nilai lebih dari Rp. 100 triliun, menjadikan industri televisi di Indonesia sangat menjanjikan.

Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana menjadikan organisasi senantiasa inovatif, sedangkan sebagian besar stasiun TV memiliki jam tayang 24 jam pada 7 hari dalam seminggu dan berlangsung sepanjang tahun. Untuk melakukannya, ada 3 kelompok strategi yang dilakukan oleh pengelola TV di Indonesia: mengandalkan tayangan yang diproduksi oleh external production house, mengandalkan in-house production, dan hybrid. Saat ini sebagian besar menggunakan startegi ketiga, yakni hybrid strategy. Namun yang membedakan adalah proporsi external dan in-house production. In-house production secara umum memiliki struktur biaya yang lebih rendah dibandingkan external production house, namun familiarity cenderung terkorbankan meskipun novelty bisa ditingkatkan. Yang menjadi masalah, butuh waktu agar pemirsa menyukai dan selalu menonton tayangan ini, sehingga rating TV di awal relatif rendah dan akan meningkat seiring dengan meningkatnya familiarity yang ada. Sebaliknya, external production house biasanya memiliki familiarity tinggi (biasanya acara yang sudah terkenal), sehingga biayanya mahal; namun stasiun TV memiliki keterbatasan untuk mengontrol novelty jika dirasa pemirsa mulai bosan dengan konsep acara yang ada.

Berangkat dari kondisi tersebut, penulis mengeksplorasi bagaimana TransMedia (pengelola TransTV dan Trans7) yang dianggap mampu menyeimbangkan tensi antara familiarity dan novelty. Hal ini bisa dilihat dari laba bersih yang didapatkan jauh diatas rata-rata industri, misalnya pada tahun 2013 mendapatkan laba bersih senilai Rp. 2 triliun (hanya dari Trans7) dan jauh lebih tinggi dibandingkan laba bersih gabungan dari semua stasiun TV yang ada. Sedangkan TransTV memiliki keuntungan hampir Rp. 1,8 triliun pada periode yang sama. Hal ini terjadi disebabkan oleh penggunaan hybrid strategy, dengan penekanan pada in-house production (biaya rendah dan novelty dapat ditingkatkan seiring berjalannya waktu).

Menggunakan theoretical sampling, peneliti melakukan riset kualitatif menggunakan metode studi kasus. Interview dilakukan pada 52 informan, baik yang internal maupun eksternal (regulator, pesaing, dan pelanggan). Kami juga melakukan observasi yang ditunjang dengan arsip-arsip berita yang berguna ketika triangulasi diperlukan. Hasil analisis menggunakan Metode Gioia menunjukkan bahwa pengelolaan paradoks di TransMedia menyerupai baterai. Nilai inti yang selalu menggerakkan agar organisasi mampu mengelola paradoks untuk tetap inovatif adalah trendsetter, dengan senantiasa menjadi pioneer dalam industri TV di Indonesia. Budaya perusahaan yang ada, yakni semangat Spartan dan mengembangkan acara secara mandiri berdasarkan trial and error, merupakan pembeda dibandingkan stasiun TV yang lain. Budaya tersebut juga menjadi mekanisme internal bilamana TransMedia menghadapi tensi yang ada pada 2 hal: Pertama, manajemen program dengan tensi antara menayangkan acara yang komersial (mendapatkan iklan banyak) atau acara yang ideal (bermanfaat bagi masyarakat). Kedua, manajemen talenta dengan tensi antara menggunakan SDM yang telah “jadi” (dengan konsekuensi gaji lebih mahal namun terjebak pada kreatifitas masa lalu) atau “plain paper” (gaji lebih murah namun kreatifitas tinggi).

Penulis yakin, model baterai yang dihasilkan pada riset ini dapat memberikan inspirasi dan langkah-langkah yang dianggap perlu untuk mengelola paradoks yang dimiliki organisasi dalam meningkatkan inovasi yang berkelanjutan.

Penulis: Badri Munir Sukoco

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

https://www.tandfonline.com/doi/abs/10.1080/17510694.2019.1684094

Badri Munir Sukoco, Chairul Tanjung & SK Ishadi (2019): Managing paradoxes of innovation in an Indonesian TV group, Creative Industries Journal (forthcoming). https://doi.org/10.1080/17510694.2019.1684094

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu