Dermoskopi Sebagai Pemeriksaan Non Invasif pada Tinea Kapitis Anak

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh klikdokter

Setiap tahun, manusia dan hewan terkena infeksi jamur yang menyebabkan infeksi kulit. Dermatofit adalah jamur berfilamen yang membutuhkan substrate keratin seperti pada kulit, rambut, dan kuku, untuk pertumbuhannya. Dermatofit merupakan etiologi penyebab utama yang mengenai area ini. Epidemiologi infeksi dermatofit berbeda tergantung dari keadaan geografi, dengan peningkatan insiden selama satu dekade terakhir.

Tinea kapitis adalah infeksi pada kulit kepala yang menunjukan proliferasi hifa pada stratum korneum yang meluas ke orifisium folikel rambut dan batang rambut. Utamanya anak yang mengalami prepubertas. Gambaran klinis ini disebabkan oleh terapaparnya kulit kepala oleh inokulum dari individu, hewan, atau tanah yang terkontaminasi. Epidemi tinea kapitis diawali dengan papul eritematosa disekitar batang rambut, disertai skuama halus. Terjadinya kebotakan menyeluruh atau setempat akibat rambut rapuh yang patah beberapa millimeter dari kulit kepala.

Rambut yang terinfeksi dapat berwarna keabuan akibat dilapisi jamur. Infeksi non inflamasi dapat disebabkan oleh M. audouinii dan M. ferrugineum, sedangkan T. tonsurans dan M. canis dapat menyebabkan infeksi non inflamasi. Diagnosis dapat ditegakan melalui mikroskop langsung dengan pengecatan KOH (Kalium Hidroksida) 10-20% pada rambut yang terinfeksi atau dengan pemeriksaan kultur Sabouraud agar yang akan memakan waktu beberapa minggu sehingga menyebabkan penundaan pemberian terapi. Pemeriksaan KOH memiliki sensitivitas yang tinggi, tetapi kelemahan dari pemeriksaan ini adalah tidak bisa mengidentifikasi genus dan spesies

Seorang anak laki-laki datang dengan keluhan lesi  melingkar, berbatas jelas pada kulit kepala disertai rambut patah yang memberikan gambaran kebotakan partial. Kerokan pada kulit kepala disertai rambut yang patah diambil, dan diperiksakan dengan mikroskop langsung dengan pengecatan KOH menunjukan artrokonidia di sekitar batang rambut. Pemeriksaan dermoskopi menunjukan skuama halus, patahan rambut dan comma hair. Gambaran blackdots dan corkscrew hairs tidak didapatkan. Pasien ini didiagnosis sebagai tinea kapitis dan diberikan pengobatan griseofulvin oral dan sampo ketoconazole. Setelah inkubasi selama 8 hari pada pemeriksaan kultur jamur, didapatkan pertumbuhan koloni kuning salmon. Gambaran mikroskopik pemeriksaan kultur menunjukan klamidospora dan macroconidia fusiform yang jarang, sesuai dengan M. audouinii.

Gambaran klinis infeksi ”ringworm” pada kulit kepala dapat bervariasi, tergantung dari jenis invasi ke rambut, tingkat ketahanan host, dan respon keradangan host. Sebagian besar mengenai anak usia 6 sampai 12 bulan. Infeksi M audouinii, lesi dasar adalah bercak kebotakan bentuk melingkar, disertai sejumlah rambut yang patah. Keradangan minimal, disertai sisik halus merupakan karakteristik. Pada kasus ini didapatkan patahan rambut yang membentuk kebotakan melingkar, sisik abu dan rasa gatal.

Fluoresen dibawah ultraviolet atau lampu wood merupakan karakteristik gambaran yang tampak pada sebagian besar infeksi ektotrik yang disebabkan oleh spesies Microsporum. Sampai saat ini pemeriksaan penunjang untuk penegakan diagnosis tinea kapitis adalah pemeriksaan mikroskop langsung dan kultur. Pada kasus ini pemeriksaan lampu wood memberikan warna hijau terang pada infeksi rambut. Sampel diambil dari kerokan dan menunjukan infeksi M. audouinii. 

Dermoskopi merupakan teknik diagnosis non invasif yang berperan pada evaluasi tinea kapitis dan kriteria diagnosis khusus seperti black dots, comma hairs, corkscrew hair. Dermoskopi direkomendasikan sebagai alat diagnosis tambahan yang bermanfaat untuk mendiagnosis tinea kapitis. Gambaran black dots hair stubs dapat terlihat lebih jelas. Comma shaped hairs ditemukan pada infeksi ectothrix anak-anak kulit putih, sedangkan ‘comma-shaped’ didapatkan pada tinea kapitis anak Afro-Carribbean. Black dots menunjukan cadaverised hairs, sementara comma hair menunjukan patahan batang rambut yang terisi hifa. Corckscrew hairs menunjukan broken coiled hairs yang merupakan variasi dari comma hairs pada kasus dengan rambut ikal, atau hasil dari tipe jamur tertentu. Dermoskopi pasien ini menunjukan skuama halus, rambut patah dan comma hair.

Pengobatan tinea kapitis antara lain dengan terbinafin, itrakonazol, griseofulvin, dan flukonazol. Griseofulvin merupakan pengobatan pilihan pertama yang efektif khusunya pada tinea kapitis yang disebabkan oleh Microsporum.  Penggunaan obat topikal pada tinea kapitis sebagai terapi ajuvan. Ketokonazol sampo merupakan pengobatan topikal yang digunakan, penggunaannya 2-3x/minggu.

Tujuan akhir pengobatan yang adekuat ditandai tidak hanya dengan respon klinis tetapi juga dengan mycological cure. Oleh karena itu evaluasi pengobatan dengan pemeriksaan ulang elemen jamur setelah selesai terapi sangat direkomendasikan. Pasien ini menunjukan respon klinis yang baik didukung dengan evaluasi pemeriksaan mikroskop dan dermoskop. Rambut pasien tumbuh setelah pengobatan efektif dengan anti jamur selama 8 minggu.

Tinea kapitis merupakan infeksi pada kulit kepala yang sering terjadi, terutama pada anak. Gambaran klinis dapat bervariasi tergantung dari organisme penyebab. Tinea kapitis kurang memberikan respon pada terapi topikal saja, tetapi diperlukan terapi oral. Pilihan pengobatan adalah Griseofulvin. Pemeriksaan kultur jamur harus dipertimbangkan pada lesi kulit kepala yang menetap. Dermoskopi pada kulit kepala atau trichoskopi merupakan pemeriksaan yang bernilai, teknik non invasif untuk mengevaluasi pasien dengan kebotakan akibat infeksi jamur. Pemeriksaan ini sederhana, cepat, dan mudah untuk dilakukan sehingga dapat diterima oleh klinisi dan pasien.

Penulis: Yuri Wida,dr.Sp.KK

Informasi detail dari artikel ini dapat dilihat di:

https://www.pagepress.org/journals/index.php/dr/article/view/8091

Ade Fernandes, Yuri Widia, Sylvia Anggraeni, Linda Astari, Evy Ervianti, Sunarso Suyoso. 2019. Dermoscopic Evaluation of Tinea Capitis: A Case Report. Regional Conference of Dermatology Vol 11 No 1S.

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu