Potensi Penggunaan Indikator Penanda RFSH terhadap Kesehatan Reproduksi Sapi Betina Friesian Holstein

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Sumber: alibaba

Sapi merupakan hewan ternak yang memiliki keanekaragaman jenis tinggi dan ditemukan hampir di semua negara termasuk Indonesia. Sapi Frieshian Holstein merupakan sapi penghasil susu dengan rata-rata produksi susu yang sangat tinggi, sekitar 25–30 kg/hari. Banyak sifat dari ternak yang bernilai tinggi secara ekonomi menunjukan berbagai macam variasi morfologi (fenotip). Variasi dalam bidang fenotip ini dipengaruhi oleh faktor genetik dan juga lingkungan.

Selain menunjukan variasi dalam bidang fenotip, terkadang pengaruh genetik dan juga lingkungan dapat mempengaruhi kesehatan dari ternak, salah satunya adalah kesehatan reproduksi. Seperti yang kita ketahui kesehatan reproduksi pada ternak merupakan salah satu faktor penting pengembangan populasi ternak. Beberapa sumber mengatakan bahwa ada beberapa penyakit reproduksi yang akan muncul akibat adanya perubahan susunan genetik dari seekor ternak.

Berdasarkan hal tersebut, pengembangan populasi ternak sapi perah ke depan seharusnya dilakukan berdasarkan identifikasi genetik terhadap kandidat sapi betina unggul.  Identifikasi genetik terhadap kondisi kesehatan reproduksi indukan sapi betina, diharapkan dapat meningkatkan percepatan populasi sapi perah Friesian Holstein (FH). Diperlukan penggunaan identifier secara genetik terutama untuk pengendalian reproduksi sehingga betina unggul sapi perah FH di daerah batu dapat dipertanggungjawabkan kualitasnya, karena betina unggul merupakan salah satu kriteria yang harus dimiliki pada saat pengembangan ternak secara massal.

Selama ini identifikasi untuk menentukan tingkat kesuburan dari indukan betina unggul hanya dilakukan melalui pemeriksaan rektal dan USG. Selain itu identifikasi tingkat kesuburan juga dilihat dari penampilan fisik dan menelusuri heritabilitas (garis keturunan). Namun tes ini kurang akurat, karena karakteristik yang baik belum tentu akan diwariskan melalui perkawinan dan tes heritabilitas memakan waktu lama, sehingga tidak efisien.

Potensi Reseptor-FSH (RFSH) sebagai indikator penanda

Penentuan dasar RFSH sebagai prinsip indikator penanda dalam menentukan kesuburan sapi perah FH, didasarkan pada beberapa penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa banyaknya RFSH pada seekor sapi betina berbanding lurus dengan kesuburan dari sapi betina.

Berdasarkan penelitian sebelumnya, adanya mutasi pada sekuens gen RFSH menyebabkan perubahan struktur asam amino protein RFSH, yang dapat menimbulkan perubahan ekspresi reseptor pada permukaan sel sehingga mempengaruhi kemampuan mengikat FSH dan juga untuk transduksi sinyal FSH yang benar. Beberapa contoh mutasi yang terjadi pada sekuens RFSH adalah sebagai berikut Asp5673 menjadi Asn, Thr4493 menjadi Ile, Thr4493 menjadi Ala, Ile5453 menjadi Thr, Asp5673 menjadi Gly, Ala1893 menjadi Val, Asn1913 menjadi Ile, Ile1603 menjadi Thr, Arg5733 menjadi Cys, Asp2243 menjadi Val, Leu6013 menjadi Val, Pro3483 menjadi Arg, Ala4193Thr, Pro5193 menjadi Thr dan Phe5913 menjadi Ser.

Dari semua polimorfisme dan varian-varian alel yang teridentifikasi pada gen RFSH, mereka terbukti meningkatkan adanya beberapa haplotipe berbeda yang dapat mempengaruhi efek dari FSH pada target jaringan (misalnya, mempengaruhi responsifitas ovarium terhadap pemberian FSH eksogen).

Berdasarakan penjabaran diatas, dapat disimpulkan bahwa penggunaan RFSH sebagai indikator penanda genetik dari kesehatan reproduksi induk betina unggul sapi Friesian Holstein memiliki potensi yang baik sebagai indikator penanda dalam seleksi indukan betina unggul yang baik.

Penulis: Tantri Dyah Whidi Palupi

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu