Sparganosis, Penyakit Tropis yang Diabaikan pada Ular

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi Sparganosis. (Sumber:

Indonesia merupakan negara yang beriklim tropis yang kaya akan keanekaragaman hayati. Indonesia diperkirakan memiliki 300.000 jenis satwa atau sekitar 17% satwa yang ada di dunia. Indonesia menempati peringkat ketiga tertinggi di dunia sebagai negara yang memiliki kekayaan jenis reptil. Saat ini diketahui ada sekitar 2.700 jenis ular.

Salah satu contoh ular berbisa adalah ular kobra. Ular Kobra menjadi fokus yang menarik dalam perdagangan satwa liar karena pemanfaatan penggunaan kulitnya sebagai bahan industri, makanan, obat tradisional dan satwa peliharaan. Darah, empedu dan sumsum ular kobra dipercaya masyarakat dapat menyembuhkan rematik dan liver. Ular kobra yang dipercaya memiliki manfaat rentan akan infestasi parasit seperti cacing.

Ular kobra yang dikonsumsi berpotensi sebagai vektor pembawa penyakit zoonosis yaitu penyakit yang dapat ditularkan hewan ke manusia atau sebaliknya melalui makanan (food borne disease). Penularan penyakit infeksius diperkirakan sampai saat ini 70% penyakit zoonosis (infeksi yang bisa menular dari hewan ke manusia) berasal dari satwa liar. Hal itu disebabkan oleh banyaknya jenis penyakit infeksius.

Sparganosis merupakan penyakit zoonosis akibat cacing Spirometra sp yang dapat ditularkan ular kepada manusia. Cacing tersebut bisa menginfeksi satwa liar terutama golongan hewan berdarah dingin dari jenis reptil dan amfibi Sparganosis adalah penyakit parasit pada manusia dan hewan yang disebabkan oleh larva plerocercoid. Ular, burung, babi, merupakan host paratenik dari Spirometra sp, sedangkan bangsa copepods di lingkungan akuatik berperan menjadi host perantara pertama.

Manusia dapat menjadi inang perantara kedua serta menjadi host paratenik Spirometra sp. Manusia dapat terinfeksi penyakit sparganosis apabila memakan daging yang terdapat dari stadium infektif cacing pita Spirometra. Cacing Spirometra banyak ditemukan pada daging maupun jeroan yang dijadikan sebagai bahan utama kuliner ekstrim.

Apabila proses pengolahan masakan menggunakan suhu yang tidak optimal maka dimungkinkan stadium infektif cacing tersebut masih hidup dan siap menginfeksi tubuh kita terlebih lagi individu peminat kuliner ekstrim tersebut lebih menyukai daging yang disajikan dalam kondisi mentah dan setengah matang. Negara di Asia Timur seperti Korea, China, dan Jepang prevalensi sparaganosis tinggi diakibatkan kebiasaan penduduk mengkonsumsi daging katak dan ular mentah dengan alasan pengobatan.

Sparaganosis pada manusia tidak hanya dilaporkan di China namun, 39 negara lain terutama Asia Tenggara dan Asia Timur. Kasus sparaganosis di Indonesia pertama kali di laporkan terjadi di Ambon selain itu terjadi di provinsi Papua (Manokwari), Sumatra Utara (Pulau Samosir), dan Bali (Denpasar dan Gianyar). Namun sangat disayangkan belum pernah ada yang melaporkan secara detail bagaimana kejadian penyakit ini pada satwa liar. Kasus kejadian infeksi pada manusia cenderung diakibatkan oleh dekatnya hubungan manusia dengan satwa liar.

Di Indonesia penelitian mengenai parasit pada ular masih sedikit. Sulitnya mencari refrensi atau pustaka yang membahas mengenai Spirometra ini menjadikan zoonosis yang ditularkan oleh reptil menjadi kurang diwaspadai dan terkesan disepelekan. Padahal penyakit ini bisa menular kepada manusia. Kurangnya data epidemiologi sparganosis di seluruh dunia baik pada manusia maupun spesies hewan menjadi tantangan tersendiri untuk terus mengeksplorasi melalui reserach secara berkelanjutan. (*)

Penulis: Anjani Marisa Kartikasari (Mahasiswa Magister Ilmu Penyakit dan Kesehatan Masyarakat Veteriner Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga)

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu