Tradisi Minum Jamu Berakar dari Budaya Agraris

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi jamu. (Sumber: Pesona Travel)

Tradisi minum jamumengusung semangat budaya agraris yang masyarakatnya suka menanam tanaman obat. Dalam pandangan antropo-telluris, tellus (bhs Latin) artinya bumi, tanah adalah lambang dari masyarakat agraris. Dalam budaya agraris terdapat tokoh dewi yang dikaitkan dengan kesuburuan padi yang selanjutnya  dikenal dengan nama Dewi Sri dalam folklor Jawa.

Bagi perempuan desa yang menjalani hidup dalam kesederhanaan, biasanya jarang punya ambisi untuk berobat ke dokter, puskesmas untuk memeriksaan kesuburan kandungannya. Sebaliknya, mereka punya cara sendiri yang sudah dijalankan turun temurun dengan cara minum jamu kunir-asam (sinom-JW) yang dipercaya dapat menyuburkan kandungan.

Kebiasaan minum jamu terkait dengan kebiasaan ibu-ibu menaman berbagai tanaman obat, seperti kunir, temulawak, kencur, sirih, belimbing sayur daun kelor di halaman rumah. Fungsinya selain untuk bumbu dapur yang dikenal dengan istilah empon-empon, juga untuk media penyembuhan jika sewaktu-waktu ada sanak keluarga ada yang sakit. Kebiasaan menanam tanaman obat tersebut kemudian diadaptasi pemerintah dengan istilah TOGA. Maka dari itu, jamu identik dengan dunia budaya agraris atau budaya petani.

India memanfaatkan tanaman sebagai jamu sudah berlangsung lima ribu tahun. Begitu juga di Indonesia, masing-masing kelompok etnik memiliki resep jamu yang disebarkan secara turun temurun melalui transmisi lisan. Transmisi lisan menjadi fungsi penting sebagai korpus pengetahuan yang berisi berbagai konsep kesehatan dan resep-resep jamu.  Makanya, mencari resep-resep jamu di lingkungan masyarakat tradisional lebih mudah mencari dalam bentuk tradisi lisan dari pada dalam bentuk manusrip.

Minum jamu merupakan warisan budaya cara hidup sehat berbasis kearifan lokal. Sebuah tindakan nyata dari aktivitas sehari-hari yang erat kaitannya dengan heritage yang menunjukkan warisan kepercayaan dan adat istiadat orang Madura di masa sekarang. Ajhemo tergolong warisan spiritual, karena di dalamnya terungkap muatan emosional, kognitif dan ideologis serta historis.

Warisan merupakan penyimpanan pengaruh psikologis dari masa lalu yang tetap hidup dalam masyarakat. Jamu di dalamnya mengandung pengetahuan lokal (local knowledge) yang dimiliki atau dikuasai dan digunakan masyarakat  Indonesia secara turun temurun dan terus berkembang hingga sekarang.

Dahulu, minum jamu hanya dilakukan orang desa, tetapi sekarang minum jamu sudah merambah orang-orang di kota. Jika dahulu minum jamu menjadi cara hidup sehat, tetapi sekarang minum jamu sebagai gaya hidup (life style) masyarakat perkotaan. Istilah gaya hidup akrab dikalangan masyarakat anak muda perkotaaan atau dikalangan masyarakat urban.

Konsumsi adalah suatu proses perubahan yang secara historis dikonstruksi secara sosial. karenanya konsumerisme menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat kapital. Anak-anak muda punya inisiatif sendiri ajhemo, jadi bukan disuruh seperti anaka-naka di BP. Jadi unsur nilai batinah (emosi) keterikatan dengan nilai masa lalu tidak tampak. Mereka ajhemo atas dasar pragmatis bukan emotif. Itu sebabnya, ajhemo dilakukan tidak secara rutin seperti orang-orang di desa BP, tetapi dilakukan secara tentatif.

Gaya hidup  minum jamu masyarakat perkotaan dipengaruhi oleh situasi sosial. Biasa berkaitan dengan fashion atau budaya pop kekinian yang  dikendalikan ole faktor kapital yang mendorang masyarakat anak muda menjadi konsumtif. Gaya hidup modern telah ditawarkan warung jamu dalam konsep modern bernama kafe, yaitu Reina Herbal Drink Café Solo dan Restoran Biku di Seminyak Bali. Keduanya menyajikan Wedang Jahe, Temu Lawak, dan Kunyit Asam yang sebenarnya tergolong jhemo. Kemunculan kafe-kafe jamu di perkotaan di Indonesia sebagai upaya mensosialisasikan jhemo lebih dekat pada generasi muda khususnya dan masyarakat asing.

Minum jamu sebagai gaya hidup modern dengan segala atributnya merupakan tuntutan-tuntuntan yang  meskipun bersifat ekstra namun tidak dapat dikesampingkan. Akhir-akhir ini fenomena gejala penyakit diabetes, hipertensi yang salah satunya indikatornya semakin akrabnya msyarakat gaya hidup modern yang menjauhkan anak-anak muda dari produk kearifan lokal, seperti jamu.

Selama ini, jamu dijual di pasar pakai gerobak atau di rumah-rumah bisa dengan penataan ala kadarnya. Menjual jhemo dengan cara demikian sudah  harus diubah dengan konsep baru yang sesuai dengan selera anak muda.

Gambaran dua tempat ajhemo yang berbeda antara desa dan kota, satu sisi menggambarkan adanya disparitas kebiasaan ajhemo antara masyarakat BP di desa dengan masyakat kota, baik dari aspek makna, dan motifnya. Di sisi lain, ajhemo yang berasal dari kebiasaan leluhur di masa lalu dan berlangsung di masa kini menggambarkan jika ajhemo menuju realitas faktual tatkala berhadapan dengan cara hidup lama yang tampaknya sejalan dengan cara hidup modern.

Sasaran generasi muda kosmopolitan agar  kembali mengkonsumsi minuman sehat asli Indonesia sesuai dengan anjuran back to nature.Cara demikian adalah satu bukti penghargaan generasi muda terhadap local genius bidang pengobatan tradisional yang telah merintis pembuatan jhemo untuk pencengahan dan penyembuhan penyakit. (*)

Penulis: Moch. Ali, Jurianto Jurianto, dan Sri Ratnawati

Informasi lebih lengkap dapat dilihat pada tulisan kami di:

https://www.atlantis-press.com/proceedings/prasasti-19/125915936 .

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu