Mengungkap Pesan Gundik dalam Dramaturgi Lakon “Hikayat Perlawanan Sanikem: Nyai Ontosoroh”

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
ADEGAN Percakapan Nyai Ontosoroh, Darsam, Minke, dan Annelies. (Foto: Istimewa)
ADEGAN Percakapan Nyai Ontosoroh, Darsam, Minke, dan Annelies. (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Pentas pada pengujung 2019 merupakan tahun ke-15 pementasan Dramaturgi oleh Program Studi (Prodi) Bahasa dan Sastra Indonesia (Sasindo) Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (UNAIR). Dramaturgi merupakan mata kuliah wajib kompetensi khusus berkarya sastra di jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia UNAIR.

Berbeda dengan tahun sebelumnya, kali ini dramaturgi mementaskan naskah “Hikayat Perlawanan Sanikem: Nyai Ontosoroh” yang ditulis Faiza Mardzoeki dari adaptasi novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer. Pementasan dramaturgi berlangsung pada Jum’at (20/12.2019) di Gedung Kesenian Cak Durasim Surabaya.

Sejak kali pertama dipentaskan pada tahun 2004, dramaturgi selalu menyajikan lakon yang berbeda-beda dan mengangkat isu-isu yang aktual. Sama halnya naskah dramaturgi tahun ini sangat berhubungan dengan isu-isu terbaru seperti tentang gundik, nyai, dan efek ekor jasa kasus Garuda yang sedang ramai di media sosial.

Puji Karyanto, S.S., M.Hum., dosen pengampu mata kuliah dramaturgi, mengungkapkan bahwa meski dramaturgi terdata sebagai 3 SKS, namun aslinya seperti 10 SKS. Mahasiswa dalam seminggu bisa saja latihan selama empat kali untuk memastikan kematangan masing-masing jobdesk.

“Dramaturgi hadir sebagai ruang untuk melatih kompetensi khusus mahasiswa Sasindo dalam berkarya sastra. Selain itu, mahasiswa juga memperoleh pengalaman produksi, manajemen dan kerja sama tim, hingga belajar saling mengerti satu sama lain,” ujar wakil dekan I FIB UNAIR tersebut.

Adegan Kematian TB. H. Mellema: (Foto: Istimewa)

Pesan yang disampaikan dalam lakon “Hikayat Perlawanan Sanikem: Nyai Ontosoroh” ialah semua orang bisa melawan dan jangan berdiam diri ketika diinjak-injak. Tidak ada seorangpun yang lebih mengerti diri sendiri kecuali orang tersebut.

Hadirnya pementasan dramaturgi menjadi salah satu bentuk resistensi budaya teater di era disrupsi revolusi idustri 4.0 saat ini. Maka dengan adanya pentas tersebut, sekaligus mengajak warga Surabaya dan urban untuk turut hadir mengapresiasi serta memahami makna pementasan karya sastra.

Dramaturgi XV mengajarkan bahwa nilai seseorang tidak terletak pada tanda yang disematkan orang lain atas dirinya. Namun, bagaimana orang itu mau memaksimalkan potensi diri serta berkontribusi untuk fighting spirit terhadap dirinya sendiri.

Seperti tokoh Nyai Ontosoroh, meskipun seorang gundik ia mampu menjadi Nyai yang luar biasa berkat kontribusinya. Terlihat dari kekuatan ekonomi keluarga Mellema yang sekitar 80 persen berada ditangan Nyai meski hanya seorang gundik.

“Semua orang berhak membela harga dirinya, orang boleh tau siapa kamu. Tapi yang lebih tau terhadap dirimu hanya kamu sendiri. Pesan-pesan seperti itulah yang ingin disampaikan dalam pementasan dramaturgi ke-15 tahun ini,” pungkasnya.

Hadirnya dramaturgi setiap tahun diharapkan dapat memotivasi kaum muda untuk terus mencintai dan berperan dalam pelestarian budaya teater. Mengingat, teknologi saat ini secara gamblang menggerus kebudayaan seperti halnya teater. (*)

Penulis: Muhammad Wildan Suyuti

Editor: Feri Fenoria Rifa’i

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu