Kulit Buah Naga sebagai Inovasi Bahan Pakan Sumber Serat pada Kelinci

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi kulit buah naga. (Sumber: wikiHow)

Penggunaan pakan alternatif dari produk sisa agroindustri sangat penting karena kandungan nutrisi masih baik, dan harus diprioritaskan sebagai sarana untuk mengurangi limbah pertanian. Indonesia merupakan negara yang kaya akan produk pertanian tentunya mempunyai produk limbah pertanian dan agroindustri yang perlu disikapi sebagai bahan yang perlu di teliti manfaatnya.

Kulit buah naga merah (dragon fruit peel) adalah salah satu produk limbah agroindustri yang masih jarang digunakan khususnya di bidang pakan dan nutrisi hewan. Indikator umpan balik sebagai bahan baku pakan dari produk limbah pertanian yaitu masih mempunyai nilai nutrisi yang baik dan mampu dicerna oleh ternak kelinci. Kebutuhan nutrisi kelinci berupa 17-20 persen protein, 14 persen serat kasar, 4 persen lemak.

Daging kelinci mempunyai jenis warna daging putih seperti daging ayam dengan keunggulan kandungan protein daging hampir sama dengan daging ayam (Protein 20%) tetapi mempunyai kandungan lemak dan kolesterol yang rendah yaitu 10 persen dan 164mg/100 gram. Kelinci merupakan jenis ternak pseudoruminansia yang membutuhkan serat pakan untuk membantu proses pencernaan pakan dengan batas level serat yang sesuai standart kebutuhan. Prospek kelinci sebagai salah satu penghasil daging konsumsi masih menemui kendala karena kebutuhan faktor pakan yang masih cukup tinggi harganya, sehingga diperlukan pakan murah dan sesuai standart nutrisi.

Kelinci termasuk hewan herbivora dengan fisiologi yang cukup untuk beradaptasi dengan asupan pakan dari tanaman yang mengandung  dinding sel tanaman, dan cukup pasokan diet adalah untuk mencegah masalah pencernaan dalam tumbuh kelinci. Oleh karena itu, serat pakan adalah komponen utama dalam pakan kelinci, dalam konsentrasi biasanya berkisar dari 150 sampai 500 g/kg. Beberapa studi yang berdasarkan variasi serat kasar dari alam menunjukkan bahwa asupan serat rendah melibatkan tingkat pertumbuhan yang rendah selama beberapa minggu yang sering dikaitkan dengan masalah asupan atau gangguan pencernaan.

Kajian awal mengenai dragon fruit peel dengan analisa proksimat untuk melihat kandungan nutrisi memperlihatkan bahwa kandungan serat kasar 20.71 persen, protein kasar 5.92 persen, lemak kasar 4.66 persen, Abu 17.13 persen, Metabolic Energi 2278.1 Kcal/Kg. Penelitian sebelumnya dari Chrasinova et al. (2016) menyebutkan kebutuhan serat kasar kelinci adalah 15.23-20.64 persen. Pencernaan pada serat kasar menurut Lebas et al. (1997) adalah 10-30 persen, sehingga proses pencernaan mengenai serat kasar di penelitian ini masih dalam tingkat normal.

Analisa proksimat terhadap dragon fruit peel sebagai bahan baku pakan sumber serat telah sesuai dengan syarat. Kajian berikutnya dengan pembuatan pakan dengan penambahan dragon fruit peel dengan kadar bertingkat mulai dari 6,7, 8, dan 9 persen telah diujicobakan kepada kelinci untuk melihat palatabilitas ternak tersebut, hasil menunjukkan tingkat konsumi pakan 115-120 gram/hari.

Standart konsumsi pakan kelinci berupa pakan pellet sebesar 116 gram/hari. Performa kelinci setelah pemberian pakan dragon fruit peel dinilai bagus terlihat dari pertambahan berat badan yang cukup, kecerahan warna bulu kelinci, tidak ada efek kelainan percernaan seperti mencret atau diare.

Penelitian terhadap kecernaan pakan pada ternak kelinci menghasilkan data bahwa serat kasar yang cukup dalam ransum bisa membantu mikroorganisme atau flora normal dalam perut kelinci dalam proses mencerna pakan. Memang keutuhan serat juga perlu dibatasi, karena jika berlebihan maka proses perubahan polisakarida menjadi monosakarida lebih lama prosesnya.

Digestilitas atau kecernaan dari serat kasar kelinci dengan pemberian dragon fruit peel dinilai  sebagai bahan baku pakan sampai tingkat 9 persen hampir sama seperti kecernaan serat kasar kelinci pada perlakuan control, hal ini berarti dragon fruit peel bisa digunakan sebagai alternative pengganti bahan baku pakan sumber serat yang sudah ada tetapi terlampau mahal harganya seperti tepung pollard, tepung gandum, bekatul dan tepung jagung. Pakan yang diberikan adalah lengkap sesuai dengan kebutuhan nutrisi kelinci. (*)

Penulis: Ragil Angga Prastiya

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

http://ivj.org.in/users/members/viewarticles.aspx?ArticleView=1&ArticleID=9179

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu