Bagaimana Seharusnya Penelitian di Perguruan Tinggi? Belajar Dari Negeri Gajah Putih

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh elicon.com

Dalam 3 tahun terakhir, berdasarkan Scimago Journal and Country Rank, jumlah publikasi Indonesia berada dalam tiga besar setelah Singapura dan Malaysia, satu peringkat di atas Thailand, negara di mana saya sedang menempuh studi doktoral. Namun jika ditelaah lebih lanjut, pada tahun 2017, Indonesia mempublikasi 19.948 penelitiannya, dengan angka sitasi 27.746, 13.368 diantaranya swasitasi, dan rata-rata sitasi per dokumen 1.36. Sementara Thailand mempublikasikan 15.364 hasil penelitian, dengan angka sitasi 35.083, dan swasitasi 7.856. Dengan demikian, rata-rata sitasi per dokumen sebesar 2.13. Hal ini mengindikasikan, dampak penelitian di Thailand lebih besar, lebih banyak dibaca dan disitasi oleh peneliti lainnya.

Mengapa demikian? Ada beberapa hal yang saya alami dan amati mengenai penelitian di negeri gajah putih ini. Pertama adalah dana penelitian yang besar yang digelontorkan oleh pemerintah. Kedua, peralatan yang lengkap dan terbuka untuk digunakan oleh siapa saja baik gratis maupun berbayar. Ketiga, beasiswa untuk melakukan penelitian di pusat riset luar negeri terbuka besar. Keempat, pemilihan jurnal yang tepat dan bukan predator berbayar. Dan yang terakhir dan terpenting, iklim kerjasama antar peneliti dan sikap “ngemong” kepada peneliti muda. Saya akan bahas satu per satu, namun lebih fokus pada hal terakhir.

 Dana penelitian di Thailand cukup besar dan dikelola oleh setidaknya 7 lembaga pemerintahan, dan seluruhnya tergabung dalam komunitas riset nasional. Pemberian dana berdasarkan proposal dengan jangka waktu minimal 2 tahun. Selain untuk bahan habis pakai, dana ini dapat dipergunakan untuk pembelian alat.  Terlebih, perkembangan penelitian dipresetasikan di sebuah forum nasional yang dihadiri seluruh penerima dana penelitian dan berfungsi untuk menjembatani kolaborasi riset lanjutan antar peneliti. Badan pengelola dana penelitian ini juga memberikan beasiswa sejak SMA hingga S3 yang bekerja sama dengan Negara lain. Hampir seluruh beasiswa mencakup penelitian di luar negeri selama minimal 9 bulan. Sehingga sejak menjadi mahasiswa, mereka sudah membuat kolaborasi dengan peneliti yang berpengalaman.

Fasilitas penelitiannya lebih mencengangkan. Di laboratorium tempat saya bekerja yang berukuran tidak lebih dari 6 x 15 m2 saja terdapat 2 buah biosafety laminar-2 untuk kultur sel beserta kelengkapannya, 5 buah mesin PCR (Polymerase Chain Reaction), 2 buah mesin qRT-PCR (Real Time PCR), HPLC, flow cytometry, dan jangan ditanya alat-alat kecil dan lemari pendingin. Untuk alat-alat yang tidak dimiliki oleh masing-masing laboratorium, terdapat central laboratorium di institut berlantai 4 ini. Central laboratorium ini dapat ditemukan di setiap fakultas, dan dapat dipergunakan oleh peneliti di tempat lain secara gratis ataupun berbayar. Kali pertama menggunakan alat tersebut, peneliti akan menerima pelatihan dan pendampingan dari penanggung jawab alat. Selanjutnya, peneliti tersebut bertanggung jawab selama meggunakan alat tersebut.

Pemilihan jurnal untuk publikasi penelitian dilakukan secara seksama seperti mempertimbangkan korelasi antara penelitian dan jurnal. Hal ini dapat meningkatkan jumlah pembaca dan tingkat sitasi. Selain itu, jurnal yang diterbitkan oleh penerbit ternama seperti Elsevier, Springer, Wiley, Dove, Sage, dll dan jurnal yang menjadi rujukan dalam bidang keilmuannya adalah keharusan. Jurnal yang diterbitkan oleh penerbit yang tidak ternama walau terdaftar dalam Scopus tidak terlalu diminati, karena dapat mengurangi angka sitasi.

Dan yang terpenting adalah sikap ngemong dan regenerasi dari para peneliti. Di setiap tingkatan departemen, terdapat grup-grup peneliti yang kemudian berkolaborasi dengan grup yang memiliki minat yang sama di tingkat Fakultas, berkolaborasi lagi di tingkat Universitas dan antar Universitas. Setiap staf pengajar yang baru masuk sudah memilih grup yang diminatinya, lalu seorang mentor akan ditunjuk untuk membimbing.  Tugas mentor tersebut adalah memastikan staf pengajar tersebut paham akan tugas dan ilmunya, juga membimbing proyek penelitian staf baru. Jelas staf baru belum memiliki dana dan peralatan, maka staf baru ini akan menggunakan fasilitas yang dimiliki sang mentor dan grup tempat bernaung hingga akhirnya mendapatkan dana penelitian sendiri. Intinya, tugas sang mentor adalah bagaimana membuat staf pengajar yang baru ini bisa berdiri di atas kaki sendiri.

Sebagai contoh, seorang staf pengajar baru tergabung dalam Thalassemia Research Center, namun keahlian staf baru ini adalah miRNA pada penyakit kanker. Tugas sang mentor adalah menjembatani “gap” ilmu dan bagaimana implementasikan keilmuannya di bidang Thalassemia. Akhirnya dipilihlah miRNA pada Thalassemia. Lalu detil penelitian akan dibuat oleh staf tersebut dengan berdiskusi dengan sang mentor. Jika telah disepakati, maka penelitian pun bisa dimulai dengan menggunakan peralatan yang dimiliki.  Selain itu proposal penelitian segera dibuat agar dapat mendanai proyek penelitian tersebut. Cara lainnya adalah menggunakan dana penelitian sang mentor yang tentunya bidang penelitian harus disesuaikan dengan tema dana penelitian tersebut.

Pertemuan grup dilakukan setiap minggunya untuk melaporkan kemajuan peneltian, membahas permasalahan dan mencari solusinya, serta update keilmuan, dan mencari ide penelitian selanjutnya. Karena masing-masing menyadari, kebersamaan dalam penelitian sangatlah diperlukan untuk menghasilkan penelitian yang berkualitas dan yang paling penting berguna bagi orang lain. Tentunya banyak hal yang bisa dipelajari selama masa studi saya di negara berkembang ini.  Bagi saya, tidak perlu muluk menyamakan diri dengan negara maju, mari sejajarkan penelitian kita dengan negara berkembang lainnya terlebih dahulu. Salam Airlangga.

Penulis: Annette d’Arqom, dr., M.Sc (Dosen Departemen Farmakologi dan Terapi, Fakultas Kedokteran UNAIR)

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu