Kombinasi Dustaseride dan Tamoxifen Efektif untuk Pasien BPH

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh rioaxaca

Benign Prostate Hyperplasia (BPH) adalah suatu kondisi yang ditandai oleh pembesaran jinak kelenjat prostat yang terjadi pada pria seiring berjalannya usia. Manifestasi klinis BPH dikenal sebagai Lower Urinary Tract Symptoms atau LUTS. Sekitar setengah dari populasi pria akan mengalami gejala BPH pada satu titik dalam hidup mereka dan satu dari sepuluh kasus akan berkembang menjadi keganasan. Di negara berkembang, angka kematian akibat BPH menurun dari waktu ke waktu. Di Rumah Sakit Dr. Soetomo sendiri, dari periode Januari hingga Desember 2005, 123 pasien BPH tercatat menjalani prosedurTrans Urethral Resection of the Prostate(TURP), 70 di antaranya mengalami retensi urin, sementara sisanya hanya mengalami LUTS.

Prostat terdiri dari stroma dan epitel, pembesaran pada salah satu atau keduanya dapat menyebabkan BPH. Pembesaran disebabkan oleh regulasi pertumbuhan prostat abnormal yang dikendalikan oleh faktor intrinsik dan ekstrinsik. Faktor intrinsik adalah sinyal dalam prostat itu sendiri, sedangkan faktor ekstrinsik adalah faktor lain dari testis, sistemik, lingkungan, dan faktor genetik.

Pengobatan BPH bervariasi tergantung pada perkembangan penyakit. Perawatan saat ini meliputi watchful waiting, terapi obat (farmakoterapi), pembedahan konvensional, dan pembedahan invasif minimal. Berbagai obat digunakan untuk terapi BPH, mulai dari alphablocker, 5α-reductaseinhibitor, kombinasi keduanya, atau bahkan dengan menggunakan preparat phyto. Berbagai obat yang dapat digunakan untuk mengobati BPH merupakan dasar dari penelitian ini untuk mencoba mengidentifikasi terapi mana yang lebih baik.

Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Soetomo dan melibatkan 40 pasien rawat jalan yang menderita BPH dengan LUTS tanpa komplikasi. Responden dipilih secara acak dari semua pasien rawat jalan yang mengunjungi Klinik Urologi di Rumah Sakit Dr. Soetomo pada periode Agustus 2006 – Januari 2007. Semua responden dibagi menjadi 4 kelompok, masing-masing terdiri dari 10 pasien. Setiap kelompok diberi perlakuan berbeda, kelompok pertama diberi terapi plasebo, kelompok kedua diterapi dengan 5α-reductaseinhibitor (Dustaseride 0,5 mg), kelompok ketiga diobati dengan anti-estrogen (Tamoxifen 20mg), sedangkan kelompok keempat diberikan kombinasi 5α-reductase inhibitor (Dustaseride 0,5 mg) dan anti-estrogen (Tamoxifen 20mg). Seluruh terapi diberikan selama 3 bulan dan efektifitasnya dinilai dengan membandingkan International Prostatic Symptom Score (IPSS), Qmax, dan volume prostat pasien sebelum dan sesudah terapi. Respondenmendapatkan pemeriksaan uroflowmetri dan Trans Urethral Ultra Sonography (TRUS). Setelah itu, data yang terkumpul dianalisis dengan SPSS.

Setelah tiga bulan, pengobatan plasebo menunjukkan penurunan Qmax sebesar 0,49 dengan tingkat signifikansi 0,021. Skor IPSS sebelum dan sesudah perawatan dari 2 pasien dari kelompok ini menunjukkan peningkatan, sementara 8 sisanya tetap sama. Volume prostat pra dan pasca terapi dibanndingkan danditemui peningkatan yang tidak signifikan. Dengan demikian, pengobatan plasebo dianggap tidak dapat mengubah volume prostat.

Pengobatan Dustaseride selama tiga bulan menghasilkan peningkatan Qmax yang signifikan dengan tingkat signifikansi 0,007. Peningkatan skor IPSS sebelum dan sesudah pengobatan Dustaseride juga terlihat pada kelompok kedua. Terdapat penelitian sebelumnya yang juga menyatakan bahwa Dustaseride dapat memperbaiki gejala BPH serta mengurangi risiko retensi urin dan tingkat operasi pada pasien. Kelompok terapi Dustasteride juga menunjukkan penurunan volume prostat yang signifikan yaitu 6,424 cc atau 20,8%. Hasil ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yang menyatakan Dustaseride dapat mengurangi volume prostat hingga 26%.

Pasien yang diobati dengan Tamoxifen menunjukkan peningkatan nilai Qmax, namun tingkat signifikansinya 0,190 yang berarti tidak signifikan secara statistik. Skor IPSS pada kelompok ini menunjukkan bahwa pengobatan Tamoxifen tidak mengubah skor sebelum dan sesudah pengobatan. Tidak juga ditemukan peningkatan hasil uroflowmetri. Meskipun demikian, pengobatan Tamoxifen ternyata dapat menurunkan volume prostat secara signifikan. Tamoxifen mempengaruhi metabolisme testosteron melalui stimulasi resistensi terhadap aktivitas 5𝝰 reduktase dan 17ß hidroksisteroid dehidrogenase di prostat. Tamoxifen juga bekerja dengan menggeser ikatan molekul androgen pada globulin yang mengikat hormon seks dalam darah.

Kombinasi Tamoxifen dan Dustaseride meningkatkan nilai Qmax, skor IPSS dan hasil uroflowmetri. Penurunan volume prostat juga terlihat setelah terapi kombinasi. Hasil terapi ini berkat mekanisme aksi Tamoxifen dan Dustaseride yang saling mendukung. Tamoxifen memblok reseptor estrogen, akibatnya penekanan terhadap TGF-1 terblokir dan apoptosis tidak terstimulasi. Pada sisi lain, Dustaseride menghambat 5𝝰-reductase yang menghasilkan hambatan produksi dihidrotestosteron (DHT) yang kerjanya merangsang pertumbuhan prostat. Kondisi ini akan diikuti oleh penurunan volume prostat dan peningkatan aliran urin. Meskipun begitu, hubungan antara volume prostat dan emisi urin tetap belum diketahui.

Perbedaan Qmax yang signifikan sebelum dan sesudah perawatan ditunjukkan pada terapi kombinasidanDustaseride. Sedangkan,perbedaan Qmax pada terapi Tamoxifen tidak signifikan secara statistik. Selain itu, terapi kombinasi dan Dustaseride didapatkanmeningkatkan skor IPSS, namun tidak perbedaan skor yang signifikan pada terapi tamoxifen. Pada sisi lain, terapi kombinasi Dustaseride dan Tamoxifen juga menurunkan volume prostat secara signifikan.

Penulis: Prof Dr Soetojo, dr, SpU(K)

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

http://www.indianjournals.com/ijor.aspx?target=ijor:ijphrd&volume=10&issue=4&article=220 Kurnia P. Seputra, Doddy M. Soebadi, Hedromartono Widayat, J.P. Widoda, Soetojo. Differences of IPSS, Q Max and Prostate Volume Before and After Treatment with Combination of Dutasteride and Tamoxifen in BPH Patient without Urine Retention. Indian Journal of Public Health Research & Development. 2019:10(04);1200-1205

DOI : 10.5958/0976-5506.2019.00874.X

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu