Terapi Egfr Tyrosine Kinase Inhibitor Lini Pertama Pada Pasien Kanker Paru Progress

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Sehatku.com

Obat golongan tyrosine kinase inhibitor (TKI) telah banyak digunakan sebagai terapi kanker bagi pasien yang memiliki mutasi EGFR. Akan tetapi, pasien-pasien yang memiliki mutasi EGFR hanya mendapat manfaat dari terapi EGFR-TKI selama kurang dari 1 tahun, karena setelah itu akan terjadi resistensi.

Pasien yang mengalami progress atau perburukan setelah pemberian TKI sebagai terapi lini pertama. Tatalaksana menurut NCCN tahun 2017 harus dilakukan pemeriksaan untuk mengidentifikasi adanya mutasi T790M. Jika didapatkan hasil mutasi T790M positif maka pilihan terapinya adalah TKI generasi ketiga (Osimertinib). Penelitian terbaru banyak yang membuktikan efektivitas dan repons terapi Osimertinib yang cukup signifikan terhadap kanker paru dengan mutasi EGFR T790M.

Penulis melaporkan tatalaksana seorang pasien Adenokarsinoma paru dengan mutasi EGFR positif yang telah mendapatka EGFR TKI lini pertama mengalami perburukan dan mengalami mutasi T790M di Rumah Sakit Dr. Seotomo.

Terapi lini pertama diberikan kepada pasien yang belum pernah menerima pengobatan  sebelumnya. Semua pasien yang telah terdiagnosa Adenokarsinoma dapat langsung diberikan kemoterapi platinum based lini pertama sejak awal atau setelah hasil pemeriksaan mutasi EGFR diketahui. Jika ternyata mutasi EGFR diketahui sejak awal, maka terapi EGFR TKI langsung menjadi pilihan terapi lini pertama. Sebaliknya jika mutasi EGFR hasilnya negatif, maka pilihan terapi dapat diberikan kemoterapi platinum based. Selanjutnya setelah pemberian EGFR TKI diamati perkembangannya. Jika terjadi perburukan penyakit yang diakibatkan mutasi T790M maka pilihan terapi berikutnya dapat diberikan EGFR TKI lini kedua (Osimertinib) (Sequist et al  2011, Thomas et al 2004, WHO 2004).

Pasien Adenokarsinoma dengan mutasi EGFR awalnya akan sangat merespon terhadap terapi EGFR TKI, namun selanjutnya akan mengalami resisten sekunder atau kebal terhadap obat tersebut dengan rata-rata dalam jangka waktu 9-14 bulan (Mok et al 2009, Sequist et al 2011).

Metode dan Hasil

Seorang pasien yang bernama Tuan J, 54 tahun bekerja sebagai seorang tukang dengan riwayat merokok 1 pak per hari selama 32 tahun, datang dengan keluhan batuk darah. Keluhan juga disertai dengan batuk berdahak, warna putih kental, badan lemah, nafsu makan menurun, dan berat badan menurun, panas badan serta sesak hilang timbul.

Hasil pemeriksaan patologi anatomi didapatkan adenokarsinoma paru dengan hasil pemeriksaan EGFR mutasi positif pada exon 19. Pasien diberikan terapi TKI generasi pertama Gefitinib 125 mg tiap hari per oral selama 7 bulan. Awalnya pasien mengalami respon pengobatan yang cukup baik dengan hasil evaluasi CT-scan toraks recist criteria partial response, namun selanjutnya memasuki bulan ke tujuh pengobatan EGFR TKI lini pertama pasien mengalami perburukan hingga akhirnya pasien masuk ruang perawatan rumah sakit.

Pada pasien ini terdapat pemburukan klinis berupa sesak napas dan batuk memberat, panas, mual, muntah, batuk darah, nafsu makan menurun, berat badan menurun. Selain itu, uga terdapat edema tungkai sebagai tanda adanya VCSS (sekumpulan gejala akibat pelebaran pembuluh darah vena) akibat timbulnya tumor. Selain itu juga terdapat tanda efusi pleura yang masif mengisi seluruh lapang paru kanan. Sementara respons pengobatan yang dinilai dari radiologis tumor hasil CT scan toraks pasien didapatkan penambahan masa tumor >25% dengan kriteria recist progressive disease.

Setelah dilakukan pemeriksaan CT-DNA pada pasien, didapatkan mutasi pada T790M. Pasien seharusnya diberikan TKI lini kedua (Osimertinib), namun dikarenakan obat belum tersedia di Indonesia, pasien sementara diberikan kemoterapi lini kedua Docetaxel sebanyak 4 serial.

Pasien kemudian mengikuti early access program Osimertinib dengan respon terapi yang cukup signifikan berupa perbaikan klinis dan radiologis. Pasien yang semula sesak, batuk, lemah dan kesulitan bergerak dalam waktu 5 hari setelah pemberian Osimertinib menjadi semakin baik. Marker hematologis dan tanda-tanda VCSS nampak membaik. Pada evaluasi foto toraks sangat jelas pengurangan masa tumor dan efusi yang signifikan. Hingga pada akhirnya pasien dapat melanjutkan terapi rawat jalan. Selama rawat jalan, pasien tidak mengeluhkan sesak dan batuk, nafsu makan membaik dan berat badan dilaporkan meningkat.

Penulis: Dr. Laksmi Wulandari, dr., Sp.P(K), FCCP

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

https://e-journal.unair.ac.id/FMI/

Sahrun and Laksmi Wulandari (2019). Management of Progressive Lung Cancer Patients After First-Line EGFR Tyrosine Kinase Inhibitor Therapy. Fol Med Indones, 55(3): 239-245.

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu