Restorasi Endocrown Pasca Perawatan Endodontik pada Gigi Molar Pertama Rahang Bawah

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi Gigi Molar Pertama Rahang Bawah. (Sumber: https://nandadyta.blogspot.com/)

Endodontik adalah perawatan gigi pada gigi dengan cedera pulpa. Perawatan endodontik meliputi pembersihan saluran akar gigi dan pembentukan saluran akar gigi serta obturasi pada saluran akar gigi. Gigi yang telah dirawat dengan perawatan endodontik memiliki karakteristik yang berbeda dengan gigi yang tidak dirawat endodontik. Pembuatan akses bagi perawatan endodontik, serta tidak adanya suplai oksigen dan nutrisi akan mempengaruhi struktur jaringan keras gigi. Keadaan tersebut akan mengakibatkan menurunnya daya tahan atau kerapuhan pada struktur gigi. Karena itu, diperlukan pilihan restorasi yang dapat melindungi struktur gigi sehingga gigi dapat dipertahankan.

Perawatan restorasi postendodontik memperhatikan berbagai aspek meliputi post, core, dan crown adalah salah satu pilihan dari berbagai pilihan restorasi pada gigi yang dapat dilakukan paska perawatan endodontik. Penggunaan post dan core komposit, akan menghasilkan kepuasan pada pasien karena kebutuhan pasien akan estetik terpenuhi. Penggunaan postcore, mempertimbangkan faktor-faktor diantaranya variasi anatomi akar, dilacerasi atau akar pendek, dan bentuk akar berdiameter kecil. Alternatif perawatan untuk penggunaan post dan mahkota adalah penggunaan mahkota endodontik atau juga disebut endocrown.

Endocrown adalah mahkota yang terbuat dari bahan keramik atau resin komposit yang diaplikasikan dengan bantuan semen resin pada ruang pulpa sebagai tambahan retensi crown meliputi seluruh permukaan mahkota gigi yang masih tertinggal postendodontik. Restorasi ini meliputi perlindungan mahkota gigi penuh dengan memanfaatkan ruang pulpa untuk meningkatkan luas permukaan sehingga meningkatkan retensi.

Bahan yang digunakan untuk pembuatan endocrown adalah feldsphatic dan glass-ceramic, hybrid resin komposit, dan desain serta pembuatan dengan bantuan komputer dan keramik menggunakan CAD/CAM. Indikasi endocrown meliputi hilangnya struktur gigi yang meluas, ruang intermaxillary yang kecil di mana rehabilitasi menggunakan pasak dan mahkota tidak dimungkinkan karena ketebalan bahan keramik yang tidak mencukupi, dan kasus-kasus variasi anatomi akar.

Desain gigi restoratif yang telah dirawat dengan endodontik merupakan tantangan bagi dokter gigi dan masih menjadi masalah yang diperdebatkan. Bahan baru untuk opsi restorasi menggunakan bahan perekat telah diperkenalkan pada saat ini yang dapat memberikan hasil gigi yang lebih konservatif juga lebih cepat, dan biaya yang lebih ekonomis.

Pilihan restorasi gigi postendodontik didasarkan pada beberapa faktor. Faktor-faktor ini termasuk struktur jaringan sehat dari gigi yang tersisa, lokasi gigi di mulut, dan estetika yang penting sebagai panduan pemilihan restorasi yang memadai. Faktor pertimbangan lain termasuk aktivitas fungsi di daerah oklusal gigi, usia gigi, prognosis endodontik / periodontal, dan aspek keuangan pasien. Perbedaan fisiologis dan anatomi antara gigi anterior dan posterior penting ketika memilih restorasi.

Endocrown memiliki keuntungan karena prosedurnya mudah dan memiliki kinerja mekanik yang lebih baik daripada mahkota konvensional, biaya lebih rendah karena tahapan prosedur dan waktu,yang lebih sedikit serta estetika yang baik.

Prinsip persiapan endocrown mengikuti pola yang sama dengan prinsip persiapan untuk indirect inlay dan restorasi onlay maupun pembuatan mahkota gigi tiruan. Restorasi ini menggunakan semua kedalaman, ekstensi, dan kemiringan dinding ruang pulpa untuk meningkatkan stabilitas dan retensi restorasi, dengan tetap mempertahankan serta melindungi bahan pengisi dari perawatan saluran akar pada bagian saluran akar gigi.

Endocrown memungkinkan gigi dengan struktur yang terbatas masih bisa dipertahankan dengan retensi tambahan pada bagian ruang pulpa gigi. Gigi dipertahankan agar fungsi dalam sistem stomatognati pasien dapat dipertahankan sehingga kualitas kesehatan penderita terjaga. (*)

Penulis: Dian Agustin Wahjuningrum

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di :https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6559040/

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu