Manfaat Konsumsi Sirih Pinang Pada Masa Prasejarah di Indonesia

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Hello sehat

Mengonsumsi sirih pinang adalah kebiasaan masyarakat umum setelah merokok dan minum kopi. Kebiasaan ini sudah berlangsung sejak lama di Asia, terutama Asia Tenggara sampai dengan Asia Pasifik. Saat ini kebiasaan mengunyah sirih pinang masih dilakukan di beberapa negara Asia. Tidak diketahui dengan jelas kapan kebiasaan ini dimulai, namun beberapa penelitian mengindikasikan bahwa kebiasaan mengunyah sirih pinang telah ada sejak 13000 tahun lalu di Asia Tenggara, termasuk Indonesia (Zumborich, 2007-2008: 96; Oxenham, 2002: 909-915; Fritzpatrick et al. 2003: 59-60).

Sirih pinang umumnya terdiri dari beberapa komponen yaitu buah pinang (Areca catechu), daun atau bunga sirih (Piper betle), Gambir (Uncaria gambir), kapur sirih (Calcium hydroxide – Ca(OH)2 atau Calciumoxide – CaO) dan tembakau (Nicotiana tabacum). Bercermin dari kebiasaan mengunyah sirih pinang pada masa kini pada masyarakat Jawa, cara mengkonsumsi sirih pinang adalah mencampur pinang, gambir dan kapur lalu dibungkus dalam daun sirih, dan dikunyah. Di Nusa Tenggara Timur, komponen sirih pinang sama dengan kebiasaan di Jawa, namun seringkali yang dikonsumsi bukan pinang segar melainkan pinang yang sudah difermentasi. Kapur yang digunakan berasal dari karang laut atau jenis kerang-kerangan laut yang dibakar (calciumoxide-CaO).

Sedangkan sirih biasanya adalah bagian bunganya yang dikonsumsi. Hasil komponen sirih pinang yang dikunyah bercampur dengan saliva menghasilkan warna merah kecoklatan. Pada tahapan ini seringkali digunakan tembakau untuk memulas hasil kunyahan sirih pinang ke seluruh bibir dan gigi. Akibatnya seluruh gigi akan berwarna merah kecoklatan. Semakin intensif kebiasaan mengunyah sirih pinang semakin pekat warna merah pada gigi. Bahkan diduga warna hasil sirih pinang akan terserap hingga akar gigi. Di Jawa, sirih pinang beserta tembakau kadang diletakkan di mulut di antara pipi dan gigi. Hal ini bisa berlangsung lama.

Berdasarkan catatan hasil penelitian, sirih pinang berpotensi memiliki efek positif sebagai obat. Secara umum pinang memiliki 59 kandungan bahan aktif misalnya, flavonoid, tannin, triterpen dan steroid serta arecoline (Wei, dkk., 2015:341; Ali, dkk., 2011:200). Masyarakat secara umum mempercayai bahwa mengkonsumsi sirih pinang, khususnya dapat menguatkan gigi. Di sisi lain, sirih pinang dilaporkan pula dapat berakibat negatif dan memicu berbagai penyakit, misalnya kanker mulut, kanker hati dan lainnya (WHO 2012: 15; Public Health Law Center, 2017: 5; Hsiao, dkk., 2015: 307)

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan kebiasaan mengkonsumsi sirih pinang pada masyarakat prasejarah di Indonesia, dan konsekuensi patologis yang diakibatkannya, terutama patologi gigi. Metode penelitian yang diterapkan adalah makroskopis melalui pengamatan berdasarkan detil variable yang diteliti. Material penelitian adalah tengkorak prasejarah yang berasal dari Nusa Tenggara Timur. Jenis patologi yang diteliti adalah atrisi, karies, kalkulus, periodontitis dan antermortem tooth loss (AMTL).

Sebanyak 10 tengkorak masyarakat prasejarah dari Nusa Tenggara Timur diamati berdasar kondisi gigi geliginya.

Sebanyak 8 individu (80%) mengalami praktik pencabutan gigi, yaitu gigi incisivus lateral pada maxilla. Bahwa seluruh individu mempraktikkan pencabutan/ablasi mengindikasikan bahwa masyarakat prasejarah Nusa Tenggara Timur memiliki budaya modifikasi gigi sejak masa prasejarah. Diduga bahwa pencabutan adalah ekspresi dari sistem kepercayaan sebagai tanda atau ritus kedewasaan, terutama tanda bagi seseorang yang sudah memasuki masa/usia perkawinan (Koesbardiati, dkk., 2015: 54). Tradisi mengunyah sirih pinang diduga berasal dari budaya yang dibawa oleh masyarakat penutur rumpun Bahasa Austronesia yang tersebar sekitar 6000 tahun lalu (Fitzpatrick, dkk., 2003:59-60).

Sirih pinang yang dikunyah mengandung debu atau partikel kecil lainnya yang berpotensi mengakibatkan atris. Demikian pula ampas sirih pinang yang dikunyah berpotensi menghasilkan kalkulus. Timbunan kalkulus dapat merusak jaringan gusi dan membrane periodontal. Respon inflamasi yang mempengaruhi kesehatan jaringan periodontal yang berakibat pada longgarnya jaringan periodontal dan melonggarkan gigi dari socketnya. Efek ini bertambah risikonya ketika ditambah dengan penggunaan tembakau. Pada akhirnya gigi yang telah longgar dari socketnya dan rusak jaringan periodontalnya akan semakin meningkatkan risiko terjadinya antermortem tooth loss (AMTL)  (Hsiao, 2014:57-60; Samnieng, 2012: 107-111; Ling, dkk., 2001: 364-369). Faktor yang diduga berpengaruh dari mengunyah sirih pinang terhadap patologi gigi adalah lama menggunakan sirih pinang, intensitas menggunakan sirih pinang dan masalah kebersihan mulut dan gigi.

Penulis: Toetik Koesbardiati

Detail tulisan ini dapat dilihat di:

https://berkalaarkeologi.kemdikbud.go.id/index.php/berkalaarkeologi/article/view/470

Toetik Koesbardiati dan Delta Bayu Murti. 2019. Konsumsi Sirih Pinang dan Patologi Gigi Pada Masyarakat Prasejarah Lewoleba dan Liang Bua, di Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Berkala Arkeologi, Vol. 39 No.2 121-136

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu