Momong Cucu Pengaruhi Kesehatan Fisik dan Emosi Lansia

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
ILUSTRASI seorang nenek momong cucunya. (Foto: Istimewa)
ILUSTRASI seorang nenek momong cucunya. (Foto: Istimewa)

Aktivitas momong cucu dapat memengaruhi kesehatan fisik dan emosi kakek dan nenek. Salah satu efek positif terlihat pada suasana hati, interaksi sosial dan fungsi kognitif kakek-nenek. Namun, perlu memperhatikan intensitas dan waktu yang dihabiskan untuk momong cucu. Studi di AS, Cina, dan Eropa menjelaskan bahwa kakek-nenek berperan sebagai bentuk penting dukungan untuk keluarga multigenerasi dan sebagai pusat solidaritas antar generasi. National Centre for Family and Marriage (NCFMR) mengakui aktifitas momong cucu oleh kakek-nenek merupakan pengasuhan yang penting bagi cucu mereka. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Peter Uhlenberg (2009) di AS, diketahui bahwa kakek-nenek dapat menyediakan sumber daya untuk keluarga selama aktifitas momong.

Peningkatan harapan hidup dan populasi lansia mempengaruhi kemungkinan kakek-nenek memberikan perawatan penuh atau bantuan perawatan untuk cucu mereka. Selanjutnya, bergesernya peran orang tua dalam beberapa dekade terakhir, khususnya beban ganda ibu yang bekerja sehingga mengurangi intensitas pengasuhan anak. Kondisi tersebut dapat meningkatkan keterlibatan keluarga sehingga kebutuhan pengasuhan oleh kakek-nenek meningkat.

Data yang dikumpulkan oleh NCFMR menyatakan bahwa di AS, persentase anak yang hidup dengan mereka kakek-nenek pada 2010 adalah 7,3 persen, dua kali lebih tinggi dari persentase pada tahun 1970 (3,2 persen). Hampir, sepertiga (29 persen) dari mereka tinggal di rumah kakek-nenek tanpa ibu atau ibu mereka ayah. Di Inggris, ada hampir 14 juta orang dewasa yang lebih tua, dan kebanyakan dari mereka kakek-nenek. Sekitar 17 persen kakek-nenek dengan cucu di bawah usia 16 tahun memberikan perawatan intensif selama setidaknya 10 jam seminggu dan sekitar 1 dari 30 orang dewasa yang lebih tua menyediakan pengasuhan penuh atau tinggal bersama cucu mereka. Jumlah lansia yang momong cucu di Indonesia sampai saat ini belum diketahui. Berdasarkan wawancara dengan lansia di Desa Tambakaji, Kota Semarang diperoleh sebanyak 50 orang dari 115 lansia melakuakn aktifitas momong cucu.

Penelitian tentang pengalaman kakek-nenek yang momong cucu masih terbatas di Indonesia. Eksplorasi subjek ini sangat menarik, terutama mengenai peran kakek-nenek dalam pengasuhan, alasan untuk momong cucu, serta pandangan budaya Jawa mengenai “momong cucu”. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengalaman kakek nenek suku Jawa di Indonesia dalam membesarkan cucu mereka.

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang melibatkan 13 orang lansia yang mengasuh cucunya dan bersuku Jawa. Rata-rata usia lansia adalah 64 tahun dan 9 diantaranya adalah lansia yang sudah tidak memiliki pasangan. Rata-rata usia cucunya adalah 3,4 tahun atau dalam rentang usia Toddler.

Hasil penelitian menemukan lansia merasa bahagia saat mengasuh cucunya. Bagi mereka, cucu adalah sumber kebahagiaan, dan rasa saying yang dimiliki melebihi rasa sayang terhadap anaknya. Keputusan untuk momong cucu diambila oleh lansia sendiri, umumnya mereka mewarkan untuk membantu momong cucu agar anaknya tidak kesulitan. Lansia terlibat dalam semua aktifitas pengasuhan cucu dari mulai merek bangun tidur, memberi makan, mengajak bermain, mengantarkan sekolah dan mengajarkan pendidikan.

Meskipun kebanyakan perasaan bahagia yang dirasakan pada saat momong cucu, namun adakalanya lansia merasa lelah, kesal dan marah pada saat momong. Lansia berupaya untuk mengatasi keluhan yang bersifat negatif dengan bermain dan tertawa dengan cucunya, pijat ataupun menyediakan waktu untuk diri sendiri dalam melakukan hobi.

Dalam kebudayaan Jawa, momong cucu merupakan tradisi yang sudah turun temurun dengan tujuan untuk membantu Anak. Kakek-nenek Jawa berpendapat bahwa membantu anak merupakan kewajiban orang tua, meskipun anak sudah memiliki keluarga sendiri mereka tidak segan untuk membantu. Mereka menyampaikan bahwa fenomena pengasuhan cucu tidak hanya terjadi sekarang, tetapi dahulu mereka juga menitipkan anaknya pada orang tuanya. Jadi mereka beranggapan pengasuhan cucu merupakan sesuatu hal yang wajar. Kebudayaan Jawa menekankan peran kakek nenek sebagai penyokong keluarga dan mempererat kedekatan dengan anak dan cucu. Pengasuhan cucu tidak hanya tanggung jawab kakek nenek semata tetapi juga orang tuanya.

Aktivitas momong cucu telah memberikan manfaat untuk lansia dan juga pada keluarga. Untuk keluarga aktivitas ini merupakan salah satu kegiatan yang memperkuat dan mempererat hubungan antar anggota keluarga. Pada lansia, aktivitas ini dapat membantu lansia tetap aktif dan mencegah penurunan fungsi kognitif. Perasaan bahagia yang muncul pada saat momong cucu dapat menjadi memunculkan rasa puas dalam diri kakek nenek, hal ini dapat menurunkan kejadian depresi pada lansia.

Pada akhirnya, pengasuhan cucu bisa menjadi beban, kebahagiaan, atau keduanya, tergantung sebagian pada penilaian diri kakek-nenek atas pengalaman pengasuhan mereka dan sebagian tentang bagaimana mereka diperlakukan dalam keluarga dan di masyarakat. Sistem pendukung informal dan layanan sosial dan kesehatan sangat penting untuk membantu kakek-nenek mempertahankan atau mendapatkan  kesejahteraan psikologis mereka dalam menghadapi tantangan pengasuhan. (*)

Penulis: Rista Fauzininingtyas, S.Kep.Ns., M.Kep.

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

https://www.emerald.com/insight/content/doi/10.1108/WWOP-10-2018-0019/full/html

 

Rista FauziningtyasRetno IndarwatiDelisa AlfrianiJoni HaryantoElida UlfianaFerry EfendiNursalam Nursalam and Khatijah Lim Abdullah. “The experiences of grandparents raising grandchildren in Indonesia”. Working With Older People (2019): Vol 23: Issue 11

https://doi.org/10.1108/WWOP-10-2018-0019

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu