Buang Stigma Buruk Terhadap Penderita Kusta

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
ILUSTRASI penderita kusta. (Foto: suarasurabaya.net)
ILUSTRASI penderita kusta. (Foto: suarasurabaya.net)

Penyakit Kusta merupakan salah satu penyakit tropis yang menular melalui Mycobacterium Leprae. Indonesia masih menduduki peringkat ketiga terbesar kasus kusta di dunia setelah India dan Brazil. Mirisnya, penderita penyakit Kusta tidak hanya mengalami gangguan fisik, namun juga gangguan psikososial.

Pasalnya, penyakit ini masih menimbulkan stigma dan diskriminasi yang tinggi di masyarakat. Penderita kusta yang mengalamistigma akan kehilangan harga diri, sehingga meningkatkan rasa takut, kesedihan, merasa bersalah, depresi, malu, kehilangan harapan, kecemasan, harga diri yang rendah, keputusasaan dan kemarahan, ataupun ketidakmampuan untuk mengekspresikan perasaan. Cacat fisik progresif yang dialami penderita kusta juga akan berdampak pada kondisi psikologis.

Kecacatan permanen yang tampak ditambah dengan stereotypes (label) dari masyarakat merupakan salah satu penyebab timbulnya stigma dan diskriminasi. Selain itu, keterbatasan fisik yang terjadi akibat penyakit Kusta mengakibatkan penurunan kemampuan fungsional penderita dalam memenuhi kebutuhan hidup, penurunan kemampuan fisik dalam bekerja, menimbulkan kesulitan dalam kehidupan bermasyarakat serta mempengaruhi kualitas hidup penderita.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa masyarakat masih banyak beranggapan bahwa kusta dapat disebabkan oleh makanan, kutukan, guna-guna, hukuman dari Tuhan atas dosa yang telah dilakukan, ataupun karena penyakit keturunan. Padahal, fakta sebenarnya justru sebaliknya. Penyakit Kusta dapat disembuhkan dan dicegah penularannya dengan mengikuti program pengobatan Kusta hingga tuntas. Pengobatan Kusta inipun telah disediakan secara gratis dan meluas di berbagai Puskesmas dan Rumah Sakit oleh pemerintah.

Dampak dari keyakinan masyarakat yang salah, nyatanya, terus meluas sampai sekarang sehingga memengaruhi kepercayaan diri dan fungsi sosial penderita kusta. Sebelumnya, Departemen Kesehatan RI pada 2007 melaporkan hasil survei di lima Kabupaten di Indonesia, yaitu Kabupaten Subang, Malang, Gresik, Gowa, dan Bone, yang memotret diskriminasi pada penderita kusta baik di lingkungan keluarga, maupun di sarana dan pelayanan publik.

Berbagai bukti stigma dan diskriminasi ditemukan dalam survei ini. Seperti, dipisahkan dari pasangan (diceraikan), dikeluarkan atau tidak diterima di pekerjaan, serta ditolak di sekolah, restoran, tempat ibadah, pelayanan kesehatan dan fasilitas umum lainnya. Lebih lanjut, penelitian di Kabupaten Bangkalan yang dilakukan oleh Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga pada tahun 2017 menunjukkan berbagai fakta serupa sebagai dampak stigma yang masih terus terjadi. Mulai diskriminasi ketika beribadah di tempat ibadah, kesulitan mendapatkan pasangan hingga pengurungan diri di rumah, bahkan bullying pada anak yang menderita kusta di lingkungan sekolahnya.

Hal ini cukup mengkhawatirkan. Sebab, diskriminasi dan stigma yang ada dapat berdampak pada meningkatnya angka drop out atau putus berobat Kusta. Penderita Kusta akan cenderung bersembunyi dan/atau menyembunyikan sakitnya untuk menghindari stigma dan diskriminasi masyarakat. Jika dibiarkan, hal ini akan menimbulkan dampak yang lebih serius. Yaitu, semakin meluasnya penyebaran penyakit Kusta di masyarakat, karena penderita Kusta yang belum menjalani pengobatan akan terus menularkan kuman M.Leprae ke orang-orang di sekitarnya.

Para pakar berusaha menjelaskan bagaimana proses terbentuknya stigma dan diskriminasi di masyarakat. Beberapa teori menyebutkan peran budaya secara signifikan dalam pembentukan stigma. Kepercayaan dan adat istiadat yang turun-temurun pada beberapa suku nyatanya juga memunculkan stigma yang kuat, khususnya pada penyakit Kusta. Faktor budaya ini juga yang akan turut menentukan perilaku kesehatan masyarakat. Penelitian yang dilakukan tim peneliti Fakultas Keperawatan pada tahun 2017 pada 146 masyarakat Madura menunjukkan bahwa faktor pendidikan, ekonomi, peraturan dan kebijakan, nilai budaya dan gaya hidup, sosial dan keluarga, religiusitas dan filosofi, serta teknologi mempunyai hubungan yang signifikan dengan terbentuknya stigma terhadap penderita Kusta di masyarakat.

Berangkat dari hasil penelitian tersebut, pemerintah tampaknya perlu melakukan pendekatan dari berbagai aspek untuk penanggulangan Kusta secara menyeluruh. Perlu pendekatan yang intensif melalui berbagai media yang dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat dan meluruskan nilai budaya dan gaya hidup yang negatif ke arah dukungan positif bagi bagi penderita Kusta. Penguatan nilai agama dan juga peningkatan akses teknologi akan turut mendukung keberhasilan penghapusan stigma terhadap penderita Kusta di masyarakat. (*)

Penulis: Oleh: Laily Hidayati, S.Kep., Ns., M.Kep.

(Fakultas Keperawatan Unair)

Judul artikel:  Factors Contributing to Leprosy Stigma among Madurese People

Authors: Laily Hidayati, Harmayetty, Mahsus Ridwan

Jurnal: Indian Journal of Public Health Research and Development, Volume 10, Issue 8, Year 2019
Link Jurnal: https://www.indianjournals.com/ijor.aspx?target=ijor:ijphrd&volume=10&issue=8&article=506

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu