Belajar dari Tradisi Pembacaan Anbiya di Desa Kemloko

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
SUASANA PKL mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia FIB UNAIR di Desa Kemloko Kecamatan Nglegok Kabupaten Blitar. (Foto: Awali Taufiqi)

UNAIR NEWS – Jumat malam (29/11), dari Masjid Baitul Muttaqin, Desa Kemloko, Kabupaten Blitar, sayup-sayup terdengar warga secara bergantian membacakan Serat Anbiya. Pembacaan serat malam itu diselingin penjelasan tentang makna pada beberapa bagian Serat Anbiya kepada peserta yang hadir di serambi masjid.

Proses belajar seperti ini setidaknya telah berlangsung selama enam tahun terakhir. Dalam rentang waktu itu, setiap semester, mahasiswa dari program studi Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga melakukan Praktik Kuliah Lapangan (PKL) dari mata kuliah Folklor. Sebuah mata kuliah yang mempelajari soal tradisi dalam kebudayaan tertentu, seperti legenda, sejarah lisan, musik, maupun dongeng.

Malam hari itu, selain dihadiri oleh 23 mahasiswa yang memprogram mata kuliah Folklor, acara juga dihadiri oleh para dosen, perangkat desa, dan para karang taruna. Selain itu, hadir pula Dr. Junaidi Kasdan, dosen tamu dari Universy Kebangsaan Malaysia (UKM) yang juga merupakan alumnus Sastra Indonesia UNAIR.

Membaca serat Anbiya adalah salah satu dari tradisi masyarakat di Desa Kemloko. Pembacaan Serat Anbiya biasa lilakukan saat kelahiran bayi hingga hari ke tujuh. Melalui pembacaan serat yang mengisahkan cerita 25 nabi itu, harapannya, anak tumbuh menjadi poribadi yang saleh/salihah, berbakti, dan tentu saja bermanfaat.

Dra. Dwi Handayani, M.Hum Ketua Departemen Sastra Indonesia mengatakan, PKL ini menjadi kuliah lapangan rutin yang dilakukan setiap semester. Kali ini, selama dua hari, mahasiswa diajak untuk mengenal dan belajar tentang tradisi yang dimiliki Desa Kemloko. Seperti melakukan study tour ke Candi Penataran, menyaksikan macapatan serat Anbiya, melihat proses kreatif pembuatan barongan dan wayang dari maestro kontemporer, serta proses pembuatan kendang.

Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia mata kuliah Folklor saat study tour ke Candi Penataran, Kabupaten Blitar. (Foto: Awali Taufiqi)

Junaidi, dosen tamu dari University Kebangsaan Malaysia, mengaku senang bisa kembali ke UNAIR, almamaternya. Setelah mendengar dan menyaksikan pembacaan serat Anbiya dari warga, ia ingin mengajak mahasiswanya di Malaysia untuk datang berkunjung.

“Beberapa tradisi Malaysia dan Indonesia sebetulnya tak jauh berbeda. Di sana juga ada (pembacaan Anbiya, Red) hanya saja beda cara. Saya jadi ingin mengajak mahasiswa saya ke sini,” ujar Junaidi.

Kepada desa Kemloko, Mohammad Dhofir, mengucapkan terima kasih kepada Sastra Indonesia UNAIR karena sudah sekian lama menjadikan Desa Kemloko sebagai desa binaan. Ia berharap, kerja sama ini akan terus berlangsung ke depan.

Selain melakukan study tour ke Candi Penataran dan belajar tentang tradisi pembacaan serat Anbiya, pada Sabtu (29/11/2019) mahasiswa berkunjung ke tempat produksi wayang kulit dan industri kendang Jimbe.

Sementara itu, Awali Taufiqi mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia yang duduk di semester lima mengaku belajar banyak hal dari PKL kali ini.

“Dua hari ini kami belajar banyak kebudayaan lisan dan tradisi dari masyarakat desa Kemloko. Walaupun waktu terbatas, kami semua menikmati PKL Folklor dan belajar banyak dari masyarakat Kemloko. Tugas kami untuk kemudian merawat dan mengembangkan kebudayaan lokal yang ada di penjuru Indonesia,” ungkap Awali. (*)

Penulis: Binti Q. Masruroh

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu