Hubungan Titer Antibodi Anti Rituximab dengan Respon Terapi pada Penderita Limfoma Non Hodgkin

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
ILUSTRASI Penderita Limfoma Non Hodgkin. (Foto: alodokter.com)
ILUSTRASI Penderita Limfoma Non Hodgkin. (Foto: alodokter.com)

Di Indonesia, Limfoma Non Hodgkin (LNH) menduduki urutan insiden keganasan terbanyak keenam dan menimbulkan angka kematian yang cukup tinggi. Rituximab (R) telah disetujui sebagai kombinasi kemoterapi (R- CHOP) karena lebih efektif dalam pengobatan LNH. Namun, penderita sering menghasilkan respons imun yang mengurangi kemanjuran terapi antibodi karena pembersihan antibodi secara premature sehingga membatasi efektivitas respons anti tumor. Karena itu, penelitian ini bertujuan menentukan hubungan antara kadar antibodi anti rituximab dengan respons terapi penderita LNH yang mendapatkan R- CHOP.

Berdasar gambaran di atas, peneliti telah memperkirakan, apabila terbukti terdapat hubungan yang signifikan antara titer antibodi anti rituximab dengan respons terapi pada penderita LNH yang mendapatkan R-CHOP, informasi ini dapat digunakan sebagai dasar pertimbangan dalam tatalaksana pengobatan LNH yang lebih mutakhir. Penelitian sebelumnya mengemukakan bahwa peningkatan titer antibodi anti rituximab dianggap sebagai salah satu penyebab kurang adekuatnya respons terapi pada penderita LNH yang mendapatkan R-CHOP.

Respons terapi dalam penelitian ini dinilai berdasar perubahan ukuran target lesi dan gejala yang terkait tumor. Penilaian ini melalui anamnesa (tanya-jawab) dan pemeriksaan fisik (pengukuran target lesi sebelum dan sesudah kemoterapi) yang ditunjang dengan pemeriksaan Ultrasonografi (USG) di seluruh tubuh sebelum dan setelah mendapatkan empat siklus kemoterapi R-CHOP. Respons terapi dikelompokkan ke dalam penyakit progresif, penyakit stabil, respons parsial dan respons lengkap. Respons yang paling banyak ditemukan adalah penyakit progresif, sedangkan yang paling sedikit ditemukan adalah penyakit yang stabil. Dalam penelitian ini, distribusi tertinggi adalah kelompok pengobatan dengan penyakit progresif (46,3%), respons parsial (31,5%), respons lengkap (14,8%) dan penyakit stabil (7,4%).

Hasil penelitian ini menerangkan bahwa 54 subjek yang terdiri atas 35 laki-laki (64%) dan 19 perempuan (35,2%), diperoleh perbandingan 1,85: 1. Risiko dari LNH, tampaknya, meningkat seiring bertambahnya usia, yang sebagian besar terjadi pada usia 60 tahun atau lebih. Rata-rata usia yang diperoleh dari semua subtipe LNH adalah >50 tahun dan lebih banyak ditemui pada anak-anak dan dewasa muda. Dalam 37%, dari penderita dengan limfoma tingkat rendah diperoleh pada usia 35-64 tahun dan hanya 16% pada usia <35 tahun, tetapi jarang ditemukan pada anak-anak. Dibuktikan dengan subyek dalam penelitian ini memiliki usia rata-rata 49,17±12,075 tahun, dengan rentang usia termuda 16 tahun dan tertua 68 tahun, di mana kelompok umur dengan proporsi tertinggi adalah usia ≤60 tahun sebanyak 44 dari 54 penderita (81,5%). Sedangkan dalam penelitian lain, ditemukan usia ≤60 tahun sebanyak 29 dari 38 pasien (76,32%).

Penelitian ini juga menemukan bahwa tidak ada perbedaan titer antibody anti rituximab di setiap kelompok respons terapi, meskipun secara umum ditemukan pengurangan jumlah titer antibody anti rituximab sejalan dengan perbaikan respons terapeutik pada penderita LNH yang telah mendapatkan empat siklus R-CHOP. Hanya pada kelompok respons penyakit stabil yang menunjukkan sedikit peningkatan titer antibodi anti rituximab. Ini kemungkinan karena jumlah subyek di masing-masing kelompok respons terapi tidak seimbang. Selain itu, hasil yang ditemukan bahwa hubungan antara antibodi anti rituximab dengan respons terapeutik penderita LNH yang mendapat R-CHOP diperoleh hasil nilai r sama dengan – 0,27 (- 27%) dengan nilai p sama dengan 0,04 kurang dari 0,05 (α = 5%), artinya hubungan antara titer antibodi anti-rituximab dengan respons terapeutik pada penderita LNH yang menerima R-CHOP di Rumah Sakit Umum Dr. Soetomo, Surabaya adalah lemah. Arah hubungan juga menunjukkan negatif atau berlawanan. Semakin rendah respons terapeutik, maka titer antibodi anti rituximab akan semakin tinggi

Fakta penting dari penelitian ini, adanya hubungan negatif yang lemah antara titer antibodi anti rituximab dengan respons terapi. Respons terapeutik akan berkurang seiring dengan peningkatan titer antibodi anti rituximab dan sebaliknya. Penelitian ini dilakukan oleh tiga orang yang bersasal dari Departemen Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran, RSUD Dr. Soetomo, Universitas Airlangga, Surabaya, dan berhasil memublikasikan di salah satu jurnal Internasional terkemuka, yaitu New Armenian. (*)

Penulis: Prof. Ami Ashariati MD., PhD

Informasi detail dari penelitian ini dapat dilihat pada artikel kami di New Armenian Medical Journal berikut

https://ysmu.am/website/documentation/files/f3873f16.pdf

Hubungan Titer Antibodi Anti Rituximab dengan Respon Terapi pada Penderita Limfoma Non Hodgkin Yang Mendapatkan R-Chop

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu