Mahasiswa D3 Pengobat Tradisional Sabet Juara 1 Vlog Jamu

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Zyafira Aulia Wardani dan Jihan Aura berhasil meraih Juara 1 Lomba Vlog di Festival Jamu Milenial yang diadakan oleh Dinas Kesehatan Kota Batu, 7 November 2019. (Dok. Pribadi)

UNAIR NEWS – Kolaborasi dua mahasiswa Vokasi D3 Pengobat Tradisional Universitas Airlangga berhasil meraih Juara 1 Lomba Vlog di Festival Jamu Milenial yang diadakan oleh Dinas Kesehatan Kota Batu, 7 November 2019 lalu. Dua mahasiswa itu adalah Zyafira Aulia Wardani dan Jihan Aura.

Dalam kompetisi tersebut, keduanya membuat vlog yang mengangkat tentang bagaimana solusi saat berada dalam keadaaan terdesak dan tiba-tiba mengalami sakit perut. Dari vlog keduanya, solusi yang diberikan adalah dengan mengkonsumsi jamu untuk meringankan rasa sakit. Pembahasan vlog mereka adalah jamu yang berasal dari kunyit.

Dari beberapa literatur dan jurnal penelitian, kunyit memiliki khasiat membantu mengurangi sakit perut. Tentunya di dalam kunyit memiliki senyawa aktif yaitu kurkumin, minyak atsiri, dan zat aktif lainnya.

“Dalam tcm, kunyit berfungsi meredakan sakit, dan melancarkan energi tubuh dan darah. Dimana bisa meringankan rasa sakit perut, dan menstruasi tidak teratur maupun rasa sakit saat datang bulan karena stagnasi darah,” ujar Zyafira.

Kunyit sebagai obat untuk mengurangi rasa sakit di perut sebenarnya sudah digunakan secara turun temurun. Orang tua maupun masyarakat sekitar kita sudah tidak asing lagi dengan kunyit sebagai obat untuk mengurangi sakit perut. “Termasuk orang tua kami menggunakan jamu dari kunyit ini,” ungkapnya.

Mahasiswa D3 Pengobat Tradisional tersebut membuat vlog yang tergolong interaktif. Mereka menampilkan cara membuat jamu yang mudah dibuat dan enak, serta bisa meringankan rasa sakit pada perut saat datang bulan, yaitu jamu kunyit madu.

Selain dengan video, penerapan sosialisasi untuk mengajak masyarakat terutama generasi milenial tentang pentingnya minum jamu bisa melalui percakapan antar teman. “Untuk mengajak sebenarnya tidak susah. Tetapi bagaimana ketertarikan masyarakat terhadap jamu. Kebanyakan mindset generasi milenial apa sih, jamu? Apa sih, ini kok jamu jadul, pahit? Dari situ kita bisa bikin variasi jamu yang manis dengan variasi madu,” jelas Zyafira.

“Orang tertarik itu sesuai dengan sugesti mereka, baagaimana kita mempromosikan dan bagaimana kita memang benar-benar meyakinkan dengan literatur yang sudah ada,” imbuhnya.

Zyafira berharap, masyarakat Indonesia masih selalu mengingat dan tidak melupakan budaya warisan leluhur, terutama jamu yang sudah menjadi warisan turun temurun. “Jangan takut pahit untuk minum jamu. Karena rasa pahit pada jamu sebenarnya menunjukkan zat aktif yang berguna untuk kesehatan tubuh kita,” tutup Zyafira. (*)

Penulis: Dimar Herfano

Editor: Binti Q. Masruroh

Berita Terkait

Binti Q. Masruroh

Binti Q. Masruroh

Alumnus Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Airlangga

Leave Reply

Close Menu