Gagasan “Kembali ke Desa” Hantarkan Mahasiswa FIB dalam Asian Academic Society Internasional Coference ke-7 di Hatyai Thailand

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
DYTA Septiyantik saat mempresentasikan gagasan kelompoknya dalam Asian Academic Society Internasional Coference (AASIC) ke-7 di Hatyai Thailand pada Selasa (12/11/2019). (Foto: istimewa)

UNAIR NEWS – Fariz Ilham Rosyidi, Sabilil Wafa Wardana, dan Dyta Septiyantik merupakan mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya (FIB) yang menjadi delegasi Universitas Airlangga dalam Asian Academic Society Internasional Coference (AASIC) ke-7 di Hatyai Thailand pada Selasa (12/11/2019).

AASIC diselenggarakan oleh Perhimpunan Mahasiswa Indonesia di Thailand (PERMITHA) yang didukung oleh KBRI Bangkok dan KRI Shongkala. Acara pembukaan AASIC yang ke-7 digelar di Hotel Jannaty,Hatyai  dihadiri oleh Wakil Kepala Perwakilan RI Bangkok Bapak Dicky Komar, Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Bangkok Prof.Dr.Muftari, M.Pd, Assistant President for Promotion of Foreign Affairs Miss Suphitcha Ek-Uru beserta mahasiswa Indonesia dan Asian kurang lebih 200 orang.

“Kami ingin mengurangi over urbanisasi dengan optimalisasi desa wisata di Kemiren Banyuwangi, dari situ kami ingin menguatkan gagasan kembali ke desa dan menjadikan pariwisata sebagai tolok ukur swasembada ekonomi,” ujar Fariz Ilham Rosyidi.

Fariz mengatakan alasan memilih Desa Kemiren Banyuwangi karena desa tersebut telah mandiri dalam pengelolaan pariwisatanya, selain itu lokasi yang letaknya dekat dengan Bali akan sangat mendukung.

“Desa adat Kemiren ini memiliki banyak keunikan tinggalan Suku Osing, punya campuran tradisi Agama Islam, Hindu, dan Kejawen dan Kemiren itu dekat banget sama tempat-tempat wisata yang menurut kami bisa jadi salah satu pilot project untuk mengembangkan pariwisata desa modern”tambahnya.

Penglaman yang sangat berharga bagi ketiga mahasiswa FIB tersebut dapat melakukan perjalanan ke Thailand, tidak hanya mengikuti konferensi namun mereka mengaku mendapatkan banyak wawasan baru mengenai berbagai kebudayaan.

“Saya dan teman-teman backpackeran untuk sampai ke Thailand dengan jalur darat dari Kuala Lumpur ke Hatyai sejauh 576 km dengan waktu 8,5 jam. Bagi kami perjalanan ini sangat mengesankan karena bisa melihat kebudayaan Melayu, Thai, India, dan China,” tambahnya.

Fariz menyebutkan salah satu rekannya Dyta Septiyantik didapuk menjadi best presenter dalam acara tersebut. Mereka berharap pemerintah dapat mengangkat berbagai pemikiran hebat anak bangsa yang lahir dari karya dalam perlombaan dan koferensi sebagai rujukan kajian pembuatan kebijakan dalam masyarakat. (*)

Penulis: Rissa Ayu F

Editor: Khefti Al Mawalia

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu