Nilai Diagnostik Helicobacter Pylori Stool Antigen Metode Imunokromatographic Dibanding Histopatologi Penderita Dispepsia

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi dispepsia. (Sumber: halodoc)

Infeksi Helicobacter pylori sering menyebabkan keluhan dispepsia. Ada banyak metode untuk mendiagnosa infeksi H. pylori, termasuk menggunakan metode invasive biopsy lambung melalui endoskopi dan metode non-invasiv (Urea breath test (UBT), Helicobacter pylori stool antigen (HPSA), dan pemeriksaan serologi). Hingga saat ini penegakan diagnosis infeksi H. pylori masih menjadi masalah karena masih mengandalkan metode invasive dan tidak semua penderita bersedia menjalani endoskopi.

Angka kejadian infeksi H. pylori pada negara berkembang dapat mencapai 80-90%. Di Indonesia, berkisar antara 2-68%. Tidak semua penderita bersedia untuk melakukan endoskopi untuk pengecekan infeksi H. pylori. Akibatnya, banyak penderita dengan infeksi H. pylori yang tidak terdeteksi. Hal ini diketahui turut menyebabkan konsekuensi klinis, seperti penyakit dyspepsia yang belum terselesaikan, pendarahan saluran pencernaan atas, keganasan mucosal-associated lymphoid tissue (MALT), dan kanker lambung.

Karena itu, deteksi dini dan pemberantasan diharapkan dapat mencegah terjadinya kanker lambung. Tersedianya metode diagnostik yang akurat dan mudah diaplikasikan diharapkan dapat menjadi langkah awal untuk mendeteksi infeksi H. pylori dan melakukan upaya pengobatan sedini mungkin untuk mencegah kanker lambung.

Di antara metode non-invasif, pemeriksaan HPSA untuk mendeteksi infeksi H. pylori adalah alternatif yang lebih disukai. Pemeriksaan HPSA memiliki sensitivitas yang sama seperti UBT (95%) dan spesifisitas sedikit lebih rendah dari UBT (94% dengan 96%). Prosedur pemeriksaan HPSA lebih cepat, lebih mudah, dan relatif murah tanpa memerlukan alat khusus.

Selain itu, hasil pemeriksaan HPSA dilaporkan lebih stabil dibandingkan pasien UBT yang menerima proton terapi pompa inhibitor. Pemeriksaan HPSA digunakan untuk mengidentifikasi infeksi H. pylori karena kemampuannya untuk mendeteksi antigen H. pylori dari tinja penderita dyspepsia. Sebagai acuan, nilai diagnostik termasuk tingkat sensitivitas, spesifikasi, nilai prediksi positif dan negatif ditentukan dengan membandingkannya dengan orang-orang dari pemeriksaan histopatologi.

Berdasarkan dari gambaran di atas, peniliti dari Fakultas Kedokteran, RSUD Dr. Soetomo, Universitas Airlangga berhasil mempublikasikan hasil penelitiannya di salah satu jurnal Internasional terkemuka, yaitu New Armenian. Penelitian tersebut berfokus untuk menganalisis nilai diagnostik (sensitivitas dan spesifitas) pemeriksaanHPSA imunokromatografi cepat berbasis monoclonal antibodi dibandingkan dengan histopatologi pemeriksaan sebagai standar untuk mendeteksi infeksi H. pylori pada penderita dispepsia. Riset tersebut membahas mengenai diagnostik non-invasif yang memungkinkan klinisi mendeteksi antigen H. pylori dari tinja penderita dyspepsia, yaitu metode cepat imunokromatograpik yang mudah, akurat, dan relatif murah.

Salah satu kesimpulan penting yang dapat diambil berdasarkan rasio kemungkinan positif dan negatif, pemeriksaan tinja H. pylori metode imunokromatografi adalah tidak cukup baik untuk meningkatkan probabilitas post-test pada penderita. Pemeriksaan keseluruhan HPSA metode immunochromatographik tidak cukup baik untuk mengecualikan atau mendiagnosa infeksi H. pylori pada penderita dispepsia.

Fakta bahwa berdasarkan pemeriksaan histopatologi sebagai standar dalam penelitian ini, prevalensi kemungkinan infeksi H. pylori adalah 17,2%. Ini tidak jauh berbeda dengan penelitian di Indonesia 2014 yang mendapatkan frekuensi infeksi sebesar 11,5%. Perbedaan frekuensi ini dapat disebabkan oleh perbedaan dalam metode dan kriteria yang digunakan dalam mendeteksi infeksi H. pylori, apakah ada riwayat perdarahan dan penggunaan obat-obatan seperti antibiotik.

Penelitian ini memperoleh pemeriksaan sensitivitas metode HPSA imunokromatografi cepat dibandingkan dengan histopatologi sebagai standar sebesar 38%. Kemampuan pemeriksaan HPSA untuk menghasilkan hasil pemeriksaan positif, hanya 38%. Jadi metode ini tidak dapat digunakan untuk diagnostik infeksi H. pylori.

Nilai metodeHPSA prediktif positif imunokromatografi cepat dalam penelitian ini adalah 55%, maka probabilitas penderta dengan hasil HPSA positif untuk yang terinfeksi H. pylori hanya 55%. Namun, prediksi negatif nilai (NPV) dalam penelitian ini lebih tinggi sebesar 88%, bahwa jika dokter mendapat hasil tes HPSA negatif, maka hasil negatif benar-benar negatif sebesar 88%.

Berdasarkan nilai hasil positif dan negatif, dalam penelitian ini pemeriksaan metode HPSA dari imunokromatografi cepat, lebih baik dalam mendiagnosis infeksi bakteri H. pylori. Dalam penelitian ini, sensitivitas rendah (38%) dan positif nilai (tidak terlalu tinggi) (5,78) menunjukkan bahwa jika hasil pemeriksaan HPSA dari imunokromatografi cepat metode negatif, itu tidak cukup baik untuk menghilangkan infeksi H. pylori. Spesifisitas tinggi (94%) dalam penelitian ini tidak didukung dengan nilai negatif yang relatif rendah (0,67) menunjukkan bahwa jika hasil positif diperoleh untuk pemeriksaan HPSA dengan metode imunokromatografi cepat tidak cukup baik dalam mendiagnosis Infeksi H. pylori. (*)

Penulis: Iswan Abbas Nuss

Informasi detail dari penelitian ini dapat dilihat pada artikel kami di New Armenian Medical Journal berikut

https://ysmu.am/website/documentation/files/1f3f74aa.pdf

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu