Motivasi Kuat Penentu Operator Forklift Industri Baja Taati Instruksi Kerja

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
ILUSTRASI industri baja. (Foto: Istimewa)
ILUSTRASI industri baja. (Foto: Istimewa)

Gyekye dan Salminen (2009) menyatakan bahwa semakin tua pekerja, maka semakin sering melakukan pekerjaan dengan aman. Studi lain dari Gyekye dan Salminen (2007) juga menyatakan bahwa salah satu penentu utama risiko kecelakaan adalah pengalaman kerja.

Manajemen kondisi pribadi dan alat mekanik yang tidak aman, seperti sikap, kemampuan dan pengetahuan merupakan salah satu strategi untuk mencegah kecelakaan. Studi tentang tukang las Nepal menemukan bahwa 75 persen tukang las menyadari bahaya di tempat kerja mereka, tetapi hanya 19,7 persen yang menyadari tentang penutup telinga. Sebuah penelitian lain di kalangan pengemudi taksi Polandia menemukan bahwa sikap pengemudi dalam menghadapi risiko tidak terkait dengan melakukan tindakan yang aman. Faktor individu yang berbeda dalam orientasi tujuan mungkin terkait dengan berbagai kepatuhan keselamatan pekerja.

Kepatuhan keselamatan pekerja adalah salah satu aspek penting untuk mencapai tujuan keselamatan dan kesehatan kerja dengan mengembangkan program keselamatan dan kesehatan. Forklift adalah salah satu peralatan industri yang populer karena memiliki sifat yang relatif cepat dan kuat. Operator pengangkut barang harus beroperasi tanpa kesalahan untuk menjaga target produktivitas, memastikan operasi keselamatan, dan menghindari kerusakan.

Motivasi merupakan faktor penentu yang paling signifikan agar pekerja operator forklift dapat mematuhi instruksi kerja. Motivasi terkait dengan kepatuhan pekerja dapat dilakukan melalui sistem penghargaan dan hukuman. Semakin tinggi tingkat motivasi, semakin baik maupun semakin tinggi produktivitas pekerja.

Kepatuhan pekerja terhadap prosedur keselamatan merupakan salah satu aspek untuk mencapai produktivitas yang lebih baik. Pemberian insentif, pengakuan, dan penghargaan yang dilakukan oleh manajemen juga dapat meningkatkan motivasi dalam diri pekerja. Adanya insentif, pengakuan, dan penghargaan tersebut dapat membuat pekerja mengubah perilaku mereka menjadi hasil yang diinginkan seperti kepatuhan terhadap instruksi kerja.

Studi Pordanjani dan Ebrahimi menemukan bahwa motivasi keselamatan memiliki korelasi negatif yang signifikan dengan tingkat kecelakaan kerja. Studi lain yang relevan juga ditemukan oleh Rosalita, dll yang menyatakan bahwa praktik manajemen keselamatan memiliki pengaruh tidak langsung terhadap kinerja keselamatan yang berupa motivasi keselamatan.

Teori pakar menyebutkan bahwa motivasi dapat dibangun dari adanya pengakuan, insentif, maupun penghargaan. Berdasar teori hierarki kebutuhan Maslow menyebutkan beberapa kebutuhan penghargaan adalah insentif, pengakuan, dan penghargaan. Ini menjelaskan bagaimana motivasi terkait dengan prestasi kerja karyawan. Dua faktor teori Herzberg juga menyatakan bahwa prestasi dan pengakuan adalah faktor yang membangun motivasi pekerja. Teori motivasi manusia lain yang dikemukakan oleh McClelland, menjelaskan bahwa kebutuhan untuk berprestasi adalah salah satu dari tiga kebutuhan yang berguna bagi pekerja untuk mencapai kinerja pekerjaan terbaik mereka. Memotivasi pekerja tidak hanya sebatas membuat pekerja agar mematuhi instruksi kerja, tetapi juga untuk membangun budaya keselamatan di tempat kerja dengan menginternalisasi nilai keselamatan. Motivasi berkaitan dengan iklim keselamatan untuk meningkatkan kinerja di dalam organisasi. Motivasi adalah mediator untuk membangun perilaku keselamatan individu.

Penelitian yang dilakukan oleh Salminen (1996) menyatakan bahwa semakin muda pekerja, semakin tinggi frekuensi kecelakaan. Toft (2000) telah melaporkan bahwa terjadi peningkatan frekuensi kecelakaan pada pekerja yang lebih tua. Hubungan antara usia dan kepatuhan terhadap aturan keselamatan bervariasi dalam beberapa penelitian sehingga dengan demikian tidak ada hubungan yang signifikan antara usia dan kepatuhan terhadap instruksi kerja. Studi dari Butani (1988) menyatakan bahwa ada hubungan kuat antara usia dan pengalaman kerja. Dalam studi yang sama, pengalaman kerja lebih bervariasi daripada usia. Dengan demikian, prinsip ini diterapkan untuk memilih pengalaman kerja untuk mewakili usia dalam tes statistik ini.

Pengetahuan yang dimiliki oleh pekerja, tidak terkait dengan kepatuhan terhadap instruksi kerj. Pernyataan serupa didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Budhathoki, studi dll. Temuan mereka menyatakan bahwa meskipun 90,7 persen tukang las sadar bahwa mengenakan goggle / eyeshield adalah suatu keharusan, hanya 18 persen tukang las memakai alat pelindung diri standar (APD) standar, sementara pekerja las yang lain hanya memakai kacamata hitam yang bukan merupakan APD standar. Pengetahuan dapat dikaitkan dengan kepatuhan terhadap instruksi kerja jika ada fasilitas pendukung seperti pelatihan, instruksi kerja, ketersediaan APD, dll.

Tristanti (2017) menyatakan bahwa target produksi yang tinggi dapat menjadi penyebab pekerja memiliki sikap melanggar instruksi kerja sehingga serangkaian prosedur dianggap sebagai kendala saat bekerja. Temuan lain menyatakan bahwa perusahaan telah menyediakan instruksi kerja, tetapi tidak terdapat lembar instruksi kerja untuk ditempatkan di stasiun kerja. Temuan dukungan ini menghasilkan bahwa sikap tidak berhubungan dengan kepatuhan terhadap instruksi kerja, begitu juga dengan ketersediaan instruksi kerja. (*)

Penulis: Dr. Denny Ardyanto

Judul artikel Scopus:

Determinants of Compliance to Work Instructions among Forklift Operators in a Steel Industry

Link jurnal:

https://medic.upm.edu.my/our_journal/malaysian_journal_of_medicine_and_health_sciences_mjmhs/mjmhs_vol15_supplement_3_august_2019-51211

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu