Mahasiswa FIB UNAIR Manfaatkan Momentum Pertukaran Pelajar Untuk Mengembangkan Diri

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Yuliana Kristianti saat mengunjungi Makam Raja Batak. (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Momentum pertukaran pelajar melalui Program Pertukaran Mahasiswa Tanah Air Nusantara-Sistem Alih Kredit (PERMATA-SAKTI) dimanfaatkan betul oleh Yuliana Kristianti guna berbagi pengetahuan bersama teman-teman barunya selama tiga bulan menjalani agenda perkuliahan di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara.

“Saya berangkat ke Kota Medan untuk mengikuti pertukaran pelajar tingkat lokal sejak akhir Agustus hingga awal November lalu. Sebelum berangkat, saya berkorespondensi dengan Keluarga Bahasa dan Sastra Indonesia (KBSI) beserta Pemerintahan Mahasiswa (PEMA) FIB USU,” jelas mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Airlangga itu.

Setibanya di sana, darah asal Madiun itu lantas bertemu dengan gubernur sekaligus wakil gubernur PEMA atau yang lebih dikenal dengan pimpinan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). Dari pertemuan tersebut, Yuliana kian memperluas pergaulannya. Tak jarang, ia kerap menerima undangan untuk ikut berpartisipasi dalam berbagai kegiatan mahasiswa.

“Saya hanya mengambil empat mata kuliah yaitu psikosastra, psikolinguistik, kritik sastra, dan linguistik historis komparatif. Pergi ke kampus pada hari senin hingga rabu, sedangkan sisanya saya habiskan dengan mengikuti kegiatan mahasiswa atau organisasi. Jadi, saya nggak cuma kuliah melainkan juga bersosialisasi bersama teman-teman,” terang Yuliana.

Selama di sana, Yuliana sempat didapuk untuk mengisi diskusi serta bedah buku mengenai topik yang berkaitan dengan kebudayaan Jawa. Menurut pengamatannya, masyarakat Sumatera memandang bahwa Jawa merupakan daerah yang kental akan mistis. Misalnya pada kepercayaan kejawen atau biasa dikenal dengan istilah manunggaling kawula gusti.

“Sebenarnya, kejawen adalah ilmu putih yang bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Namun, seringkali disalahgunakan. Di Sumatera pun ada beragam kepercayaan, salah satunya permalim yang berkembang di Batak dan Samosir. Bedanya, kejawen bisa dianut banyak agama tetapi permalim hanya khusus untuk penganutnya saja,” tuturnya.

Tidak hanya itu, Yuliana juga mengisi waktunya dengan menjajal teatrikal mahasiswa USU saat peringatan sumpah pemuda serta mengikuti latihan guna mempersiapkan natal bersama Keluarga Mahasiswa Katolik (KMK). Perbedaan latar belakang bukan menjadi halangan baginya untuk mempelajari keberagaman yang berkembang di Sumatera Utara. “Ya awalnya mereka kaget kenapa kok saya yang muslim ini tertarik ikut terutama ketika latihan natal. Tapi mereka sangat welcome. Keberagaman itu juga tercermin saat saya berinteraksi dengan teman-teman lain. Kami bergantian menerjemahkan istilah yang penyebutannya berbeda,” ujar anggota Badan Semi Otonom (BSO) Pakar Sajen tersebut.

Yuliana Kristianti saat berkunjung ke Kota Langkat untuk mengikuti tradisi panen padi. (Foto: Istimewa)

Selain mempelajari kebudayaan, Yuliana berkesempatan mengunjungi sejumlah tempat yang ada di Sumatera Utara. Seperti halnya Desa Sukasari yang terletak di Kota Perbaungan. Ada banyak Suku Jawa yang bermukim di tempat ini dan menggunakan logat khasnya saat berinteraksi. Hal tersebut membuat Yuliana merasa kembali ke daerah asal.

“Kemudian saya diajak untuk mengunjungi Kota Berastagi yang berhawa dingin. Selanjutnya ke Kota Langkat untuk merayakan panen padi dengan tradisi memasak nasi lemang serta ikan. Berikutnya ke Kampung India, makam Raja Batak, Danau Toba, Samosir, dan pagoda. Kalau makanan saya mencicipi Mie Gomak yang pedas,” ceritanya.

Di balik keseruan dalam mengikuti Program PERMATA-SAKTI, Yuliana berpendapat jika ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Yakni, proses sosialisasi terkait kegiatan secara lebih merata kepada seluruh fakultas pada perguruan tinggi mitra serta semakin banyak perguruan tinggi mitra yang terlibat dalam keberlangsungan program di masa mendatang.

“Lalu untuk teman-teman yang ingin berpartisipasi di tahun depan jangan ragu untuk mulai berinteraksi terlebih dahulu dengan lingkungan. Kalau ragu atau berdiam diri ya nggak bisa dapat teman. Karena di sana ada anak pertukaran pelajar juga tapi dia kurang bersosialisasi. Kesempatan ke luar justru harus digunakan untuk eksplor,” pungkasnya. (*)

Penulis: Nabila Amelia

Editor: Khefti Al Mawalia

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu