Kajian Titik Temu Kembali Merefleksi Ideologi Pancasila dan Multikulturalisme Bangsa Indonesia

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
SUASANA diskusi bertajuk Kajian Titik Temu di Aula Garuda Mukti Kampus C pada Rabu (20/11/19) itu mengambil tema Membangun Manusia Indonesia dalam Perspektif Pancasila. (Foto: M Alif Fauzan)
SUASANA diskusi bertajuk Kajian Titik Temu di Aula Garuda Mukti Kampus C pada Rabu (20/11/19) itu mengambil tema Membangun Manusia Indonesia dalam Perspektif Pancasila. (Foto: M Alif Fauzan)

UNAIR NEWS – Menghadapi era disrupsi serta tantangan zaman, Universitas Airlangga kembali membuka ruang diskusi bagi kajian multikulturalisme di Indonesia. Diskusi tersebut diwujudkan dalam acara Kajian Titik Temu yang diinisiasi oleh UNAIR bersama dengan Nurcholish Madjid Society dan Yayasan Indonesia Barokah Sejahtera. Acara yang digelar di Aula Garuda Mukti Kampus C pada Rabu (20/11/19) itu mengambil tema Membangun Manusia Indonesia dalam Perspektif Pancasila.

Dalam sambutannya, rektor UNAIR Prof. Dr. Mohammad Nasih, SE., M.T., Ak., CMA., membuka acara dengan memperkenalkan UNAIR sebagai kampus yang ramah dan inklusif terhadap semua golongan.

“Kami memfasilitasi mahasiswa dari semua kalangan dan golongan. Salah satunya lewat kajian ini. Harapannya, kegiatan ini dapat terus dilakukan, karena yang ingin kita jaga adalah peningkatan value bagi mahasiswa. Kita bangun bersama kampus yang ramah dan toleran sehingga menghasilkan iklim yang membangun bagi masa depan Indonesia,” ungkapnya.

Sementara itu, Omi Komaria Nurcholish Madjid selaku Dewan Pembina Nurcholish Madjid Society membagikan sambutannya yang menyoroti titik urgensi dilaksanakannya Kajian Titik Temu.

“Kajian Titik Temu sebagai bagian dari program Nurcholish Madjid Society merupakan inisiasi Cak Nur (Nurcholish Madjid, Red). Kami membuka dialog ini untuk mendorong manusia Indonesia agar lebih banyak mendengar dan terbuka terhadap perbedaan,” ujarnya.

Di sisi lain, Omi mengungkapkan bahwa Kajian Titik Temu diawal pendiriannya kerap mendapat kritik dan pertentangan dari beberapa kalangan. Namun, seiring manfaat dan keterbukaan yang dibagikan dalam kajian ini, acara yang dulunya hanya klub kajian agama tersebut telah berkembang luas dan digelar setiap tahun di berbagai daerah.

“Kami berterima kasih terhadap UNAIR. Mari hari ini kita berdiskusi, membawa pemahaman penuh terhadap perbedaan, Islam yang inklusif serta bagaimana menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain. Karena, di sini kami membagikan ide-ide visioner dari para tokoh-tokoh lintas generasi, agama, maupun golongan,” kata Omi.

Acara Kajian Titik Temu sendiri diisi oleh sejumlah tokoh dari organisasi Islam terbesar di Indonesia maupun organisasi yang lain. Yakni, Yudi Latif, Ph.D., Dewan Pembina Nurcholish Madjid Society; Prof. Dr. Mohammad Nasih, rektor Universitas Airlangga; K.H. Ahmad Ishomuddin, M.Ag, rais syuriah PBNU; Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed., sekretaris umum PP Muhammadiyah; dan Inaya Wulandari Wahid, Jaringan Gusdurian. Dengan dimoderatori oleh Muhamad Wahyuni N, M.A.

Di samping itu, acara tersebut dihadiri oleh ratusan peserta yang terdiri atas mahasiswa, organisasi keagamaan, TNI, maupun organisasi massa yang lain. Dalam Kajian Titik Temu, mahasiswa UNAIR maupun seluruh peserta diharapkan mampu merefleksikan kembali mengenai bagaimana mempraktikkan Pancasila di tengah kemajemukan Indonesia melalui nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, gotong royong, dan berkeadilan.(*)

Penulis: Intang Arifia

Editor: Feri Fenoria

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave a Replay

Close Menu