Ahli UNAIR Teliti Faktor Perkembangan Kognitif Anak Usia 9 Hingga 12 Tahun

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi Artikel Ilmiah oleh Feri Fenoria

UNAIR NEWS – Tumbuh kembang anak tidak hanya diperhatikan secara fisik, namun juga secara kognitif. Ada beragam faktor yang menjadi dasar perbedaan tumbuh kembang tiap-tiap anak secara kognitif mengingat bagaimana perkembangan otak dan kognitif terjadi selama seribu hari pertama sejak pembuahan.

Hal ini menarik Susy Katikana Sebayang S.P., M.Sc., Ph.D dari FKM PSDKU UNAIR Banyuwangi bersama timnya untuk melakukan penelitian. Dengan melakukan studi lanjutan Supplementation with Multiple Micronutrients Intervention Trial (SUMMIT), penelitian ini dilakukan dengan 27.356 bayi dari usia lahir hingga usia 3 bulan pada tahun 2001 hingga 2004, yang kemudian didaftarkan kembali pada tahun 2017 sebanyak 19.274 anak (70%) pada usia 9-12 tahun.

Penelitian bertajuk “Maternal multiple micronutrient supplementation and other biomedical and socioenvironmental influences on children’s cognition at age 9–12 years in Indonesia” ini mencari faktor yang memengaruhi kemampuan intelektual umum, memori, fungsi eksekutif, prestasi akademik, ketangkasan motorik, hingga kesehatan sosial dan emosional. Adapun faktor yang ditemukan antara lain, efek Multiple Micronutrient (MMN) dan asosiasi biomedis serta faktor-faktor penentu lainnya dalam lingkungan sosial.

“Efek MMN dan asosiasi biomedis yang ditemukan meliputi antropometri ibu dan anak, hemoglobin, dan kelahiran premature. Sementara faktor lingkungan sosial meliputi pendidikan orang tua, status sosial ekonomi, lingkungan rumah, dan depresi selama masa kehamilan,” jelasnya.

Selanjutnya, ia juga mengatakan, penelitian yang ia lakukan dan tim mengambil tiga kelompok sampel anak-anak, yang pertama sampel representative yang dipilih secara acak, sampel dari ibu yang kekurangan gizi, serta sampel dari ibu yang mengidap anemia. Tim peneliti, sambungnya, juga menggunakan beberapa rangkaian tes yang telah dirancang khusus untuk menilai fungsi otak, serta penting bagi keberhasilan baik di dunia pendidikan maupun sehari-hari. Rancangan tes ini kemudian diadaptasi sesuai tempat pelaksanaannya yaitu Lombok oleh panel yang terdiri dari ilmuwan baik peneliti internasional dan lokal, psikolog lokal, serta guru lokal.

Hasil penelitian pada sampel representatif, jelas Susy, menunjukkan anak-anak dalam kelompok MMN memiliki rata-rata skor lebih tinggi dalam memori prosedural dibandingkan anak-anak dalam kelompok iron and folic acid (IFA). Sementara, anak-anak dalam kelompok MMN yang memiliki ibu pengidap anemia mendapat skor lebih tinggi dalam kemampuan intelektual umum. 

“Secara keseluruhan, 8 dari 21 perkiraan positif, menunjukkan bahwa kelompok MMN mencetak secara konsisten lebih tinggi daripada kelompok IFA,” tandasnya. 

Tim peneliti menekankan temuan mereka menunjukkan bahwa investasi yang berfokus untuk mengatasi faktor-faktor ini diperlukan, termasuk di antaranya untuk mengurangi depresi ibu dan meningkatkan tingkat pendidikan anak perempuan dan laki-laki. Perhatian lebih terhadap investasi sejak dini akan berpengaruh besar terhadap tumbuh kembang generasi di masa mendatang.

Penulis: Tsania Ysnaini Mawardi

Penelitian dapat ditemukan di:

(2017) Maternal multiple micronutrient supplementation and other biomedical and socioenvironmental influences on children’s cognition at age 9–12 years in Indonesia: follow-up of the SUMMIT randomised trial – The Lancet Global Health – Prado, Elizabeth L; Sebayang, Susy K; Apriatni, Mandri; Adawiyah, Siti R; Hidayati, Nina; Islamiyah, Ayuniarti; Siddiq, Sudirman; Harefa, Benyamin; Lum, Jarrad; Alcock, Katherine J; Ullman, Michael T; Muadz, Husni; Shankar, Anuraj H 

https://www.scopus.com/record/display.uri?eid=2-s2.0-85009349450&origin=resultslist&sort=plf-f&src=s&sid=59adc67eafbca135a01c7ae54e894937&sot=autdocs&sdt=autdocs&sl=18&s=AU-ID%2824068188900%29&relpos=4&citeCnt=17&searchTerm=

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu