Penemuan Senyawa Baru Anti Kanker dari Tumbuhan Bintangor

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh wikipedia

Bintangor merupakan tanaman endemik Indonesia. Bintangor merupakan tumbuhan tinggi yang banyak tumbuh di wilayah Kalimantan, Batam, Bangka Belitung, Papua. Tanaman ini dikenal dengan nama yang berbeda pada setiap daerah. Beberapa daerah mengenal tanaman bintangor dengan nama mentangor, aci, betur. Bintangor banyak digunakan masyarakat sebagai obat tradisional. Sebagian masyarakat menggunakan bintangor sebagai obat kanker dan HiV. Bahkan salah satu jenis bintangor, yaitu Calophyllum tetrapterum terbukti mengandung senyawa yang aktif sebagai anti kanker.  Tanaman bintangor termasuk dalam genus besar Calophyllum dari keluarga Guttiferae.  

Studi fitokimia beberapa ahli sebelumnya terhadap Caliphyllum, menunjukkan bahwa bintangor mengandung senyawa benzofuran, santon, fenilkumarin yang merupakan senyawa aktif. Kulit batang kayu dari tanaman bintangor banyak digunakan sebagai salah satu bahan ramuan obat Cina untuk obat kanker. 

Penelitian ilmiah terhadap bintangor dari Kalimantan dari jenis Calophyllum tetrapterum dilakukan oleh Mulyadi Tanjung dan Tim Riset Kimia Bahan Alam Departemen Kimia Fakultas Sains dan Teknologi, berhasil menemukan senyawa aktif baru Calotetrapterin A, Calotetrapterin B dan Calotetrapterin C. Senyawa baru tersebut diujikan pada sel kanker leukimia (sel murin leukemia P 388) dan menunjukkan kekuatan yang sangat aktif. 

Ketiga senyawa tersebut belum pernah ditemukan sebelumnya, dan pertama kalinya ditemukan oleh Mulyadi Tanjung dan tim peneliti dari Departemen Kimia, Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga. Hasil penelitian memberikan prospek yang sangat bagus bagi dunia kesehatan dalam upaya penemuan obat anti kanker yang berbasis pada bahan alam yang lebih aman. Penemuan senyawa Calotetrapterin A-C ini telah dipublikasikan pada jurnal Natural Product Research Tahun 2019. 

Bagian tanaman yang diteliti adalah kulit batang, bagian yang sering digunakan oleh masyarakat sebagai ramuan obat tradisonal. Kulit batang dipeoleh dari daerah sungai Mendawak, Kalimantan Timur. Selain itu bagian kulit batang merupakan bagian tanaman yang banyak tersimpan metabolit sekunder daripada bagian lain. Identifikasi tanaman dilakukan oleh Ismail Rachman, ahli botani dari Herbarium Bogoriensis, Pusat Penelitian Biologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Bogor. 

Pada penelitian selanjutnya akan difokuskan pada eksplorasi Calophyllum lainnya dari berbagai wilayah Indonesia, sehingga dapat dipetakan jenis-jenis Calophyllum Indonesia yang dapat dijadikan sebagai sumber obat kanker. 

Penulis : Dr. Mulyadi Tanjung,MS

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di

https://www.tandfonline.com/doi/full/10.1080/14786419.2019.1634714

Mulyadi Tanjung, Tjitjik Srie Tjahjandarie, Ratih Dewi Saputri, Baharrani Dwi Kurnia, Muhammad Faisal Rachman & Yana Maolana Syah, 2019, Calotetrapterins A-C, three new pyranoxanthones and their cytotoxicity from the stem bark of Calophyllum tetrapterum Miq, Natural Product Research, Publish oline; https://doi.org/10.1080/14786419.2019.1634714

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu