Ilmuan UNAIR Ulas Pengaruh Kadar Leukotrien pada Dermatitis Atopik

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Feri Fenoria R

UNAIR NEWS – Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga memang menjadi gudangnya para ilmuan di bidang kesehatan. Dari FK UNAIR, lahir banyak ilmuan yang menyumbangkan gagasan dan temuan hasil riset yang bisa dimanfaatkan oleh publik yang lebih luas. Kali ini, Dr. Afif Nurul Hidayati, dr., SpKK, FINS-DV, FAADV., yang kembali melakukan riset dengan mengulas “Pengaruh Kadar Leukotrien pada Dermatitis Atopik”.

Dalam paparan risetnya, ia mengatakan bahwa dermatitis atopik (DA) adalah penyakit keradangan kulit yang bersifat kronis residif. Prevalensi DA, jelasnya, pada anak di seluruh dunia mencapai 15-20%. Sementara prevalensi pada dewasa sebesar 1-3%, dan keduanya terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. DA, sambungnya, masih menjadi masalah di bidang dermatologi yang cukup signifikan sampai saat ini.

“Hal itu, karena dapat menyebabkan rasa gatal yang mengakibatkan waktu tidur berkurang, mengganggu kualitas hidup pasien, serta menghabiskan waktu dan biaya untuk perawatan penyakit,” ungkapnya.  

Sementara itu, sambungnya, Leukotrien (LT) atau suatu mediator inflamasi golongan fosfolipid derivat asam arakidonat telah diteliti berperan dalam patogenesis asma, rinitis alergi, dan DA (trias atopi). Salah satu kelas LT, jelasnya, adalah Cysteinyl LT (CysLT) yang terdiri dari Leukotrien C4 (LTC4), Leukotrien D4 (LTD4), dan Leukotrien E4 (LTE4) yang merupakan mediator inflamasi poten.

“Produksi CysLT meningkat seiring keradangan pada proses atopi, mencerminkan aktivasi sel mast dan eosinofil dalam jaringan lesi,” ujarnya.

Selanjutnya, dr. Afif Nurul juga menjelaskan bahwa dalam penelitian yang ia lakukan menggunakan desain deskriptif cross-sectional untuk mengukur kadar U-LTE4 pada berbagai derajat keparahan pasien DA berdasar indeks SCORAD. Sementara, subjek penelitian adalah seluruh pasien DA yang datang berobat ke Unit Rawat Jalan Kulit dan Kelamin RSUD Dr. Soetomo Surabaya, dan diambil secara konsekutif dalam jangka waktu 4 bulan (April 2017-Juli 2017).

“Pasien didiagnosis berdasarkan kriteria Williams melalui anamnesis, pemeriksaan klinis, dan ditentukan derajat keparahan DA-nya menggunakan indeks SCORAD,” ungkapnya.

Pada akhir, ia menegaskan hasil penelitian membuktikan bahwa semakin berat derajat keparahan DA, rerata kadar U-LTE4 akan meningkat. Produksi U-LTE4 yang meningkat, tandasnya, bisa disebabkan oleh peningkatan sel-sel imun yang memproduksi Cys-LT, yaitu sel mast, basofil, eosinofil, dan makrofag.

“Bukti-bukti terkini mendukung bahwa LT berperan penting dalam patogenesis asma bronkial dan rinitis alergi, dengan menyebabkan kontraksi otot polos, mengganggu pembersihan mukosiliar, meningkatkan sekresi mukus, menarik eosinofil ke dalam saluran napas, dan meningkatkan permeabilitias vaskular sehingga menyebabkan edema,” pungkasnya.

Penulis: Nuri Hermawan

Editor: Khefti Al Mawalia

Referensi:

https://www.pagepress.org/journals/index.php/dr/article/view/8061

Pratamasari, M., Hoetomo, M. M., & Hidayati, A. (2019). Urinary leukotriene e4 level profile in various degrees of severity in atopic dermatitis patients in dermatovenereology outpatient clinic Dr. Soetomo General Hospital, Surabaya: A descriptive study. Dermatology Reports11(1s). 

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu