Dosen FEB Kaji Paradoks Pengembangan Karyawan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Feri Fenoria R

UNAIR NEWS – Pengembangan karyawan menjadi salah satu hal yang menjadi perhatian departemen SDM di organisasi saat ini. Pasalnya, semakin banyak organisasi yang membutuhkan karyawan dengan pengetahuan dan keterampilan yang up to date.  

Mengenai hal itu, Dr. Praptini Yulianti, SE, Msi., dosen FEB Universitas Airlangga, melakukan kajian mengenai paradoks pengembangan karyawan. Menurutnya, dengan pengembangan karyawan, organisasi dapat meningkatkan fleksibilitas tenaga kerja, meningkatkan performa, dan menciptakan competitive advantage.

Investasi pengembangan karyawan ini berkontribusi   pada   terciptanya   persepsi   positif   dari   karyawan   terhadap perusahaan, yang pada akhirnya dapat meningkatkan kepuasan kerja dan memperkuat keinginan untuk bekerja lebih keras untuk memberikan kontribusi pada organisasi,” jelasnya.

Disisi lain, sambung Praptini, pengembangan karyawan juga dapat menimbulkan adanya   risiko bagi organisasi. Pasalnya, hal itu dapat menimbulkan turnover dan biaya penggantian  tenaga kerja.
“Banyak kesempatan di pasar tenaga kerja maka karyawan akan mengambil tawaran kerja baru sebelum organisasi mendapatkan keuntungan dari investasi yang sudah dikeluarkan,” tandasnya.
Selanjutnya, ia juga menjelaskan perihal perceived internal employability dan intensi turn over. Menurutnya, perceived internal employability atau kesempatan kerja yang tersedia di dalam organisasi dengan menghargai kompetensi karyawan. Perceived internal employability, tandasnya,  merujuk pada intensi mobilitas karyawan untuk dapat dipindah baik secara lateral pada departemen yang berbeda dalam organisasi maupun dipindah untuk promosi jabatan sesuai peningkatan kompetensi karyawan.

“Karyawan yang telah mendapatkan pengembangan sehingga knowledge dan skill meningkat akan menilai bahwa dirinya wajar mendapatkan intensi mobilitas dalam organisasi,” tuturnya.

Perceived internal employability dapat digunakan sebagai program retensi karyawan sehingga akan menurunkan turn over karyawan. Tidak hanya itu, ia juga mengulas tentang job autonomy yang memooderasi hubungan perceived employability dengan intensi turn over. Job autonomy, jelasnya, adalah pemberian kewenangan karyawan dalam membuat keputusan dalam melaksanakan tugas, karyawan akan merasakan dilibatkan dalam pekerjaan sehingga akan meningkatkan motivasi untuk tetap tinggal pada oreganisasi dan menurunkan niat intensi turn over.

“Dari hal tersebut kami lakukan kajian dan hasilnya adalah pengembangan karyawan tidak berpengaruh langsung pada intensi turnover, perceived internal dan external employability memediasi secara penuh hubungan pengembangan karyawan dengan intensi turn over,” jelasnyanya.  “Sedang job autonomy memperkuat hubungan perceived internal employability dengan intensi turnover dan job autonomy memperlemah hubungan perceived external employability dengan intensi turnover,” pungkasnya.

Penulis:  Nuri Hermawan

Editor: Khefti Al Mawalia

Referensi:

https://journal.perbanas.ac.id/index.php/jebav/article/view/1252

Praptini Yulianti and Cecilia Margaretha (2019). A paradox: employee development and intention to turnover. Journal of Economics, Business, and Accountancy Ventura 22 (1), 9-20; http://dx.doi.org/10.14414/jebav.v22i1.1252

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu