TBM Berpotensi Tingkatkan Perekonomian Masyarakat

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Feri Fenoria R

UNAIR NEWS – Taman Bacaan Masyarakat (TBM) adalah perpustakaan skala kecil yang dikenal sebagai sudut baca, rumah baca, rumah pintar, dan sebagainya. Sebagai lembaga yang mempromosikan kebiasaan membaca, TBM menyediakan ruang untuk membaca; berdiskusi; menulis; dan kegiatan serupa lainnya. Keberadaan TBM menjadi perpanjangan tangan lembaga pendidikan formal dan perpustakaan umum untuk mengembangkan masyarakat di sekitarnya.

Sejauh ini, TBM yang dinaungi oleh Dinas Perpustakaan Kota Surabaya telah banyak melakukan program pemberdayaan masyarakat, khususnya dalam pendidikan anak-anak melalui program bimbingan belajar dan usaha kreatif masyarakat. Kegiatan dalam TBM tidak selalu berkaitan langsung dengan koleksi, TBM juga mendukung Usaha Kecil Menengah (UKM) masyarakat sekitar.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Endang Fitriyah Mannan S.Sos., M.Hum., diketahui bahwa pengembangan TBM belum relevan dengan kebutuhan masyarakat sekitar. “Sebanyak 90 persen dari UKM yang ada membuktikan bahwa pengembangan TBM belum relevan dengan kebutuhan masyarakat untuk meningkatkan perekonomian. Hal itu diketahui berdasarkan survey dari 14 TBM, 12 di antaranya telah diberikan pelatihan,” ungkapnya.

Hal itu, lanjutnya, berkaitan dengan profesionalisme personel TBM. Pengelola TBM mayoritas adalah lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA/SMK) yang diberi pelatihan singkat. Padahal, TBM berpotensi mengembangkan perkonomian masyarakat sekitarnya melalui berbagai program yang dapat dilakukan.

Dosen D3 Perpustakaan UNAIR itu menjelaskan, untuk dapat melakukan pengembangan itu, idealnya petugas TBM membutuhkan pendidikan dasar di bidang perpustakaan. Karena sumber daya manusia yang kompeten diharapkan mampu mengembangkan TBM sesuai dengan tujuannya. “Perpustakaan Kota seharusnya memprioritaskan sumber daya manusia sebagai pertimbangan utama ketika mendirikan TBM,” katanya.

Data di lapangan menunjukkan bahwa apa yang dilakukan petugas TBM hanya bertugas membuka TBM; menunggu pengunjung; dan melayani pengunjung. Sehingga mereka hampir tidak memiliki program pendidikan dan pemberdayaan ekonomi dalam mengembangkan TBM. Sementara itu, data menunjukkan bahwa sebanyak 50% TBM memiliki ruangan yang tidak cukup nyaman untuk tempat belajar.

Program pemberdayaan tidak hanya dilakukan dengan menyediakan koleksi, tetapi juga menyediakan tempat diskusi dan bertukar ide untuk tujuan pelatihan. Terlebih lagi, TBM belum terfasilitasi komputer dan koneksi Wi-Fi.“Tetapi justru, kebanyakan TBM di Surabaya tidak memiliki fasilitas seperti ini,” jelasnya.

Meskipun begitu, TBM sedang mengujicobakan beberapa program terkait pemberdayaan. Seperti pembelajaran; kerajinan kolektif anak-anak; program insidentil; dan informal mencakup pelatihan bekerjasama dengan LSM atau UKM lokal. (*)

Penulis : Erika EightNovanty

Editor : Nuri Hermawan

Reference : Anna, N. E. V., Mannan, E. F., Srirahayu, D. P. (2019) Evaluation of the Role of Society-based Library in Empowering Surabaya City People, Public Library Quarterly.

Link : https://www.researchgate.net/publication/333227148_Evaluation_of_the_Role_of_Society-Based_Library_in_Empowering_Surabaya_City_People

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu