Akumulasi Sampah Plastik di Muara Sungai Wonorejo pada Dua Musim Berbeda

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi sampah plastik di sungai. (Sumber: beritagar)

Plastik telah menjadi masalah polusi utama dalam ekosistem laut. Plastik dikategorikan sebagai polutan laut persisten yang dapat bertahan selama lebih dari 100 tahun di lingkungan. Bukti luas telah menunjukkan bahwa plastik mengalami degradasi selama periode yang substansial. Namun demikian, plastik yang terdegradasi tetap berbahaya bagi lingkungan karena pecah menjadi potongan-potongan kecil yang sulit dideteksi dan dibersihkan. Partikel plastik kecil sangat berbahaya bagi organisme hidup. Banyak penelitian telah membuktikan bahwa partikel plastik kecil ditemukan di dalam organisme hidup, terutama biota laut.

Partikel plastik ada di dalam biota laut karena tertelan. Beberapa organisme laut tidak dapat membedakan antara makanan dan plastik. Akibatnya, partikel plastik yang tertelan menumpuk di dalam tubuh mereka. Fenomena makan-memakan yang saling berhubungan ada dalam rantai makanan. Fenomena ini sangat terkait dengan biomagnifikasi plastik di antara organisme hidup dalam rantai makanan. Biomagnifikasi juga menjadi masalah global yang mengkhawatirkan karena manusia juga dipengaruhi oleh polusi plastik yang dihasilkan dari mekanisme ini.

Plastik dalam tubuh manusia adalah kasus baru, yang melibatkan potongan-potongan kecil plastik (disebut mikroplastik) yang ditemukan dalam tubuh manusia. Mikroplastik (ukuran plastik <5 mm) berasal dari dua sumber, yaitu produk plastik kecil asli dan hasil fragmentasi partikel plastik besar. Saat ini, beberapa negara mengatur produksi dan penggunaan partikel plastik kecil asli untuk menyelamatkan lingkungan. Akibatnya, fragmentasi partikel plastik besar menjadi masalah yang harus dipecahkan.

Fragmentasi partikel plastik besar dapat dicegah dengan menghindari masuknya sampah plastik ke badan air. Masuknya sampah plastik ke badan air, khususnya sungai, menyebabkan akumulasi potongan plastik di estuari dan ekosistem laut. Potongan plastik saat ini terus mengalir di sepanjang aliran sungai di negara berkembang, seperti Indonesia. Dengan demikian, potongan-potongan plastik akhirnya akan terakumulasi di muara dan menjadi polutan ekosistem laut.

Untuk mencegah polusi laut yang parah, muara dan daerah garis pantai sering dibersihkan secara manual dari plastik. Namun, proses pembersihan dan jadwal dilakukan kapan saja tanpa mempertimbangkan efek variasi musiman pada akumulasi plastik di muara. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh variasi musiman di Indonesia terhadap akumulasi sampah plastik di muara Sungai Wonorejo di Surabaya.

Hasil yang disajikan dapat menjelaskan fluktuasi akumulasi plastik selama musim kemarau dan hujan. Selain itu, hasilnya juga dapat digunakan untuk pertimbangan lebih lanjut pemerintah lokal dalam memilih waktu yang tepat dan tepat untuk melakukan pembersihan plastik di muara.

Tiga titik pengambilan sampel (SP) dipilih di sepanjang pantai muara Sungai Wonorejo. Setiap SP mewakili kondisi yang berbeda di muara. SP1 terletak di muara sungai, SP2 terletak 250 m dari muara sungai, dan SP3 terletak 500 m dari muara sungai. Semua SP terletak di daerah intertidal di muara Wonorejo, yang berbatasan langsung dengan Selat Madura.

Penelitian ini dilakukan di Indonesia selama dua musim yang berbeda, yaitu musim kemarau dan musim hujan. Sampel pada musim kemarau dan hujan dikumpulkan dari Agustus hingga September 2018 dan dari Desember 2018 hingga Januari 2019. Muara Wonorejo dikategorikan sebagai daerah pasang diurnal. Semua sampel dikumpulkan selama tingkat air pasang Selat Madura sekitar pukul 11.00 hingga 14.00, ketika daerah intertidal ditutupi dengan air laut.

Visible plastic debris (VPD) diambil di dalam batas pengambilan sampel 50 cm x 50 cm kuadran untuk setiap SSP. Semua VPD di dalam kuadran dikumpulkan secara manual (untuk VPD besar) dan menggunakan jaring kain berpori 5 mm (untuk VPD kecil). Semua VPD yang dikumpulkan ditempatkan di dalam wadah PP. VPD yang dikumpulkan dikelompokkan menjadi tujuh jenis, yaitu HDPE, LDPE, PP, PS, PETE, PVC, dan lainnya. Proses pengelompokan dilakukan berdasarkan label / kode, karakteristik visual umum, dan kepadatan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa VPD yang dikumpulkan dari SP1, SP2, dan SP3 selama musim kemarau masing-masing adalah 126,07 ± 12,00, 375,97 ± 16,72, dan 291,13 ± 36,28 g/m2. Sebaliknya, VPD yang dikumpulkan dari SP1, SP2, dan SP3 selama musim hujan adalah 443,17 ± 8,92, 1162,37 ± 84,60, dan 706,00 ± 39,06 g/m2. Berdasarkan data tersebut diketahui bahwa jumlah VPD di setiap SP secara signifikan lebih tinggi selama musim hujan daripada di musim kemarau. VPD dikumpulkan selama air pasang tingkat tinggi karena banyak puing-puing plastik dan bahan apung lainnya dibawa oleh gelombang pasang tinggi.

Selain itu, sejumlah besar puing plastik yang dikumpulkan selama musim hujan sangat berkorelasi dengan aliran sungai. Sungai ini mengalirkan air dengan jumlah besar ke lautan pada musim hujan, sehingga membawa semua bahan yang sebelumnya disimpan di sungai ke ekosistem lautan. Selama musim hujan, puing-puing yang tersimpan di darat juga tersapu oleh air hujan dan dibawa ke badan air terdekat. Kasus ini akan menyebabkan puing-puing mengalir ke sungai dan berakhir di endapan di muara atau ekosistem laut.

Akumulasi VPD di muara Sungai Wonorejo secara signifikan lebih tinggi selama musim hujan daripada musim kemarau (p<0,05) karena transportasi massal di sepanjang aliran sungai. Akumulasi VPD tertinggi diperoleh di SP2 karena lokasi geografisnya. LDPE ditemukan sebagai komposisi utama VPD selama musim kemarau, mencapai 73,13%. Sebaliknya, PETE ditemukan berlimpah selama musim hujan dan mendominasi komposisi jenis plastik hingga 59,77%.

Proses pembersihan manual VPD di muara disarankan sering selama musim hujan untuk mendapatkan efisiensi tinggi dalam hasil pembersihan. Pembersihan di muara sungai atau sepanjang aliran sungai tidak disarankan karena pergerakan massa mengambang (termasuk puing-puing plastik) yang membuat pengumpulan VPD sulit dan kurang efisien. (*)

Penulis: Muhammad Fauzul Imron

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat di:

https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S2352186419303207

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu