Dakwah Sehat : Ajang Kreasi Edukasi Penuh Sensasi dalam Upaya Pencegahan Stunting

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Performance kader dakwah sehat Drama Musikal. (Dok. Pribadi)

UNAIR NEWS – Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan menggagas kegiatan pengabdian masyarakat dalam upaya pencegahan stunting. Sejak awal Agustus 2019, tim Pulung Siswantara, S.KM., M.Kes dari Departemen Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku FKM UNAIR telah mengaplikasikan kegiatan pengmas di dua Kabupaten di Jawa Timur, yakni Lamongan dan Nganjuk.

Langkah awal yang dilakukan adalah mengidentifikasi program pencegahan stunting yang belum dilakukan. Hasilnya, Dakwah Sehatlah yang belum ada di Indonesia. Bahkan, beberapa pondok pesantren belum terpapar edukasi pencegahan stunting.

Selanjutnya, dilakukan kegiatan mobilisasi bersama pemangku kepentingan terkait dengan program pencegahan stunting melalui Dakwah Sehat. Hasil kegiatan mobilisasi tersebut adalah dukungan dari stakeholder terkait untuk memfasilitasi terlenggaranya pembentukan Kader Dakwah Sehat (KDS) hingga adanya Festival Dakwah Sehat.

“KDS inilah yang jadi stimulus masyarakat untuk melakukan perilaku pencegahan stunting. Ada 19 pesan stunting yang kami sampaikan ke KDS saat capacity building,” papar Pulung.

KDS merupakan kader yang terpilih dari masyarakat, bisa dari kategori remaja atau calon pengantin, ibu hamil, ibu menyusui, atau ibu yang mempunyai balita. Mereka yang punya komitmen untuk melakukan tugas KDS, yaitu mengedukasi masyarakat sesuai karakteristiknya melalui metode yang entertain atau menghibur dan masyarakat menjadi makin tahu, sadar, mampu, mau melakukan perilaku pencegahan stunting.

Tim FKM UNAIR melatih KDS mulai awal September dengan materi yang sudah dirancang dan dibakukan di buku saku KDS. Materi yang diberikan yaitu tugas KDS, stunting dan 19 pesan stunting, fasilitas, komunikasi, metode, media promosi kesehatan. Ayat Al Aquran dan Hadist yang terkait dengan 19 pesan stunting juga ada di buku saku tersebut. Ayat tersebut sudah dikonsultasikan tim kepada ahlinya.

Metode pelatihan KDS disampaikan tidak hanya melalui ceramah, tetapi juga diskusi kelompok, simulasi, role play. KDS juga dibekali bagaimana mengedukasi masyarakat dengan metode yang entertain alias menghibur. Hasilnya ditampikan di Festival Dakwah Sehat.

Festival Dakwah Sehat diselenggarakan di Aula Pondok Pesantren Sunan Drajat. Kegiatan dihadiri 100 KDS, 300 sasaran yang sudah diedukasi KDS, perwakilan Dinas Kesehatan Kabupaten Lamongan, Puskesmas, Pimpinan Pondok Pesantren.

“Terima kasih kepada tim UNAIR yang sudah berbagi tentang bagaimana pesan stunting disampaikan ke lingkungan pondok. Ini sangat bermanfaat,” ujar Gus Anna dari Keluarga Kyai Ghofur, pimpinan pondok.

Media promkes pencegahan stunting begitu variasi. Jenisnya pun sudah melalui kajian pengembangan media yang tepat, yang sesuai karakteristik sasaran. Hasilnya ada tumbler, thermos, vandel, jam dinding, jam walker, pin, gantungan kunci, sticker, poster, leaflet, kit seminar, dan terpenting ada buku saku KDS.

Ada empat kelompok KDS yang menampilkan karya edutainment yang beragam. Mulai dari drama musikal, dakwah yang interaktif, lagu hadrah dengan instrumen yang asyik, serta pantomim. Penonton yang hadir tak segan memberikan sorakan, pujian, tepuk tangan karena karya KDS yang penuh sensasi dan sangat entertain. Bahkan di luar aula pun, banyak santri yang menonton.

Harapan tim pengmas, KDS ini terus dilanjutkan tugasnya dengan sasaran yang lebih luas, baik di internal dan eksternal ponpes. Rencananya akan ada pengukuran keberhasilan program melalui monev sustainabilitas program di tahun berikutnya. Sustainabilitas atau keberlanjutan program merupakan kunci dari keberhasilan program pemberdayaan masyarakat. (*)

Editor: Binti Q. Masruroh

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu