Lestarikan Budaya, BEM UNAIR Adakan Festival Desa 2019 Tanggap Jaranan dan Bantengan di Galengdowo Jombang

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
SUASANA malam puncak Festival Desa 2019 dengan penampilan kesenian jaranan dan bantengan pada Sabtu malam (26/10/19) di Lapangan Bumi Perkemahan, Desa Galengdowo, Jombang. (Foto : Istimewa)

UNAIR NEWS – Pada Kamis (24/10/19) hingga Minggu (27/10/19) Kementerian Pengabdian Masyarakat (Pengmas) Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Airlangga (UNAIR) mengadakan kegiatan Festival Desa yang bertempat di Dusun Pengajaran, Desa Galengdowo, Jombang.

Festival Desa menjadi program yang diinisiasi Pengmas BEM UNAIR 2019 di bawah naungan Dirjen Mitra Desa. Kegiatan Festival Desa berlangsung atas kerja sama dengan UMKM, perangkat desa, dinas kebudayaan dan pariwisata setempat, serta beberapa elemen masyarakat. Tujuannya, melestarikan dan memperkaya budaya setempat.

Selain memperkenalkan dan melestarikan budaya, Festival Desa 2019 juga mengadakan kegiatan volunteer camp untuk siswa SMA dan mahasiswa. Mereka diajak untuk berkunjung ke peternakan sapi, belajar inovasi pengolahan susu, social mapping, dan pentas budaya.

Sebanyak 30 peserta volunteer camp mengikuti serangkaian kegiatan dengan antusias. Di malam puncak, Pengmas BEM UNAIR menanggap kesenian Jaranan dan Bantengan yang dipersembahkan oleh tim Laskar Beriman untuk warga desa Galengdowo, Jombang.

Bertempat di Lapangan Bumi Perkemahan, Dusun Pengajaran, Desa Galengdowo, Jombang, puncak acara Festival Desa 2019 Sabtu malam (26/10/19) berjalan meriah. Antusias dan sorak tepuk tangan warga terdengar ramai ketika seni Jaranan dan Bantengan mulai dimainkan.

SUASANA malam puncak Festival Desa 2019 dengan penampilan kesenian jaranan dan bantengan pada Sabtu malam (26/10/19) di Lapangan Bumi Perkemahan, Desa Galengdowo, Jombang. (Foto : Istimewa)

Wartomo, S.Sos., Kepala Desa Galengdowo didampingi oleh Babinsa dan Babinkamtibmas dalam sambutannya malam itu menyampaikan bahwa merupakan tendensi yang baik karena Desa Galengdowo dikenal hingga Surabaya. Jaranan dan Bantengan merupakan budaya Jawa asli yang harus dilestarikan sebagai kekayaan budaya Indonesia.

“Kuda Lumping itu budaya kita bukan budaya Malaysia atau siapapun. Budaya Jawa asli Indonesia harus dilestarikan,” ucapnya.

“Jangan sampai kita yang menciptakan kebudayaan itu, tapi bukan kita yang menyampaikan. Mari kita bersama melestarikan kekayaan budaya ini dengan menikmati persembahan yang telah disiapkan oleh adik-adik dari UNAIR,” tambahnya.

Sejalan dengan Wartomo, M.Fakhrul Ardiansyah selaku Menteri Pengmas BEM UNAIR 2019 dalam sambutannya mengatakan bahwa festival desa bisa menjadi acara rutinan yang dapat menjadi kiat usaha dalam pelestarian budaya. Mahasiswa dapat merasakan pengabdian di suatu desa, lalu antara masyarakat dengan mahasiswa dapat saling bercengkerama dan mempererat tali persaudaraan.

“Kita persembahkan jaranan dan bantengan sebagai bentuk pelestarian budaya, agar bisa mengingat budaya itu dan memperkayanya,” ungkap mahasiswa yang akrab dipanggil Ardi itu.

Dalam Festival Desa 2019, jaranan dan bantengan dipilih sebagai pengisi acara puncak dikarenakan dua kesenian tersebut merupakan kesenian lokal yang diminati warga. Meski menjadi acara yang terkesan mendadak bagi warga, antusias yang datang begitu besar. Ratusan masyarakat desa baik dari desa Galengdowo maupun desa lainnya turut memenuhi sekeliling lapangan bumi perkemahan malam itu. (*)

Penulis : Ulfah Mu‘amarotul Hikmah

Editor : Binti Q Masruroh

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu