UNAIR Jadikan Dies Natalies Sebagai Ajang Populerkan Kembali Musik Keroncong

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
PESERTA saat menyanyikan lagu keroncong di Aula Amerta Kantor Manajemen pada Jumat (25/10/19). (Foto: Intang Arifia)
PESERTA saat menyanyikan lagu keroncong di Aula Amerta Kantor Manajemen pada Jumat (25/10/19). (Foto: Intang Arifia)

UNAIR NEWS – Memperingati Dies Natalies Ke-65, UNAIR memanfaatkan momen tersebut untuk kembali meningkatkan pamor keroncong sebagai salah satu musik tradisional Indonesia. Acara yang dikemas dalam bentuk lomba karaoke tersebut dikhususkan bagi para staf dan pengajar dari berbagai fakultas dan lembaga di UNAIR. Tepatnya digelar di Aula Amerta Kantor Manajemen pada Jumat (25/10/19).

Pada tahun ini, lomba karaoke keroncong menjadi salah satu hal yang dilirik karena mendorong semangat seni dan bermusik dari para staf dan pengajar. Dr. Gancar Candra Premanto SE. M.Si., perwakilan peserta dari FEB yang saat itu membawakan lagu Di Bawah Sinar Bulan Purnama menilai bahwa acara tersebut memiliki nilai positif yang begitu tinggi.

“Saya tidak begitu pandai di olahraga. Untuk itu, saya berpartisipasi dalam perayaan Dies Natalies lewat seni. Di sini kami bisa berbagi kebersamaan antar karyawan dan dosen serta mengisi acara sesuai passion dan hobi,” tutur dosen program studi manajemen tersebut.

“Untuk persiapannya sendiri tidak begitu rumit. Karena, dulu juga sudah sering ikut beberapa lomba serupa. Hanya mencari video di Youtube dan setelan tradisional Surabaya untuk tampil. Ya, intinya lebih ditekankan ke kebersamaannya saja, kompetisi nomor kesekian,” imbuhnya.

Sementara itu, salah seorang juri Rangga menuturkan pentingnya acara-acara yang mengangkat musik keroncong untuk terus dilaksanakan. “Anak-anak muda sekarang lebih suka musik-musik pop, jazz, rock. Musik-musik barat. Sementara, keroncong mulai ditinggalkan. Untuk itu, acara seperti ini perlu diperbanyak,” ungkap kolaborator Klantink dana ahli musik keroncong tersebut.

Dalam segi penilaian, terdapat empat aspek yang menjadi pertimbangan, di antaranya vokal, kesesuaian lagu dan musik, penguasaan lagu, serta penampilan.

“Selain empat aspek itu, kami juga mempertimbangkan cengkok, bagaimana ritme, serta penjiwaan. Kalau untuk performa para karyawan dan staf pengajar UNAIR sendiri saya acungi jempol. Sampai bingung bagaimana harus menilai. Terlihat sekali mereka paham dan menguasai musik keroncong,” kata Rangga.

Untuk itu, Dr. Gancar selaku peserta turut berpesan agar kelak kompetisi tersebut tidak hanya melibatkan staf pengajar, akan tetapi juga para mahasiswa. “UNAIR ini kan sebenarnya punya banyak bakat menonjol. Tinggal bagaimana caranya dimunculkan agar jadi prestasi. Harapannya, ke depan lomba musik keroncong ini tidak hanya menjadi acara internal. Tapi sekaligus bisa menjadi ajang penjaringan bakat sivitas akademik. Biar bisa dibina trus menjadi sebuah prestasi eksternal luar kampus,” ungkapnya. (*)

Penulis: Intang Arifia

Editor: Feri Fenoria

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu