Metode ELISA Menggunakan Protein Helicobacter pylori CagA Tipe Asia Timur

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi ELISA. (Sumber: Wikipedia)

Empat dekade telah berlalu sejak untuk pertama Helicobacter pylori berhasil diidentifikasi oleh peraih hadiah Nobel: Barry Marshal dan Robin Warren. Semenjak itu, berbagai studi mengenai H. pylori telah dilakukan secara masif oleh banyak peneliti di berbagai belahan dunia. Bakteri ini dilaporkan telah menginfeksi setidaknya separuh populasi dunia.

Angka kejadian infeksi bakteri ini cenderung lebih tinggi di negara berkembang.  H. pylori kemudian diketahui turut memiliki peranan penting dalam proses patogenesis berbagai penyakit di saluran pencernaan manusia, seperti gastritis kronis, tukak lambung, bahkan kanker lambung. Hal ini menyebabkan infeksi H. pylori menjadi salah satu beban kesehatan di bidang penyakit saluran cerna.

H. pylori memiliki mekanisme khusus yang memungkinkan keberhasilan bakteri ini untuk hidup berkoloni di lambung manusia. Bahkan, faktor virulensi (virulence factor) yang dimiliki bakteri ini dapat mengganggu mekanisme normal pada tubuh manusia, sehingga mendorong untuk perkembangan berbagai penyakit. Salah satu faktor virulensi yang paling banyak diteliti karena signifikansinya adalah cytotoxin-associated gene A (CagA).

Berbagai studi telah melaporkan eratnya hubungan antara CagA dan patogenesis terjadinya penyakit saluran cerna. Secara umum, terdapat 2 macam protein CagA, yaitu CagA tipe Asia Timur (East Asian-type CagA) dan CagA tipe Barat (Western-type CagA). Protein CagA tipe Asia Timur yang banyak ditemukan pada isolat H. pylori di negara-negara Asia Timur dilaporkan memiliki tingkat virulensi yang lebih tinggi daripada CagA tipe Barat dan diyakini memiliki hubungan erat dengan tingginya angka kanker lambung di negara Asia Timur seperti Jepang dan Korea.

Peneliti dari Institute of Tropical Disease (ITD) dan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK UNAIR) yang diwakili oleh dr. Dalla Doohan dan dr. Muhammad Miftahussurur, Sp.PD., M.Kes., Ph.D bekerja sama dengan Oita University Faculty of Medicine, Jepang baru-baru ini berhasil mempublikasikan hasil penelitiannya di salah satu jurnal internasional terkemuka, yaitu Medical Microbiology and Immunology. Penelitian tersebut berfokus pada CagA, yang merupakan salah satu faktor virulensi yang terpenting bagi H. pylori. Riset tersebut membahas mengenai metode diagnostik non-invasif terbaru yang memungkinkan klinisi untuk mendeteksi kadar antibodi terhadap CagA di dalam serum, yaitu metode enzyme immunoassay (ELISA) yang menggunakan protein CagA tipe Asia Timur sebagai antigen.

Salah satu kesimpulan penting yang dapat diambil adalah metode diagnostik ini terbukti memiliki performa dan tingkat akurasi yang lebih baik untuk mendeteksi pasien yang terinfeksi oleh CagA tipe Asia Timur. Hal ini juga menunjukkan bahwa metode diagnostik ini seharusnya digunakan di populasi yang lebih dominan terinfeksi oleh CagA tipe Asia Timur, seperti Indonesia, Jepang, Korea Selatan, dan China.

Fakta bahwa lebih dari 90% isolat H. pylori di berbagai negara dapat memproduksi protein CagA juga mendukung potensi penggunaan metode diagnostik ini sebagai modalitas pemeriksaan untuk mendeteksi status infeksi H. pylori dengan tingkat sensitivitas, spesifisitas, dan akurasi yang tinggi. Tersedianya metode diagnostik yang akurat dan mudah diaplikasikan diharapkan dapat menjadi langkah awal untuk mendeteksi infeksi H. pylori dan melakukan upaya pengobatan sedini mungkin. (*)

Penulis: Dalla Doohan dan Muhammad Miftahussurur

Artikel ini bisa didapatkan di link berikut : 

https://link.springer.com/article/10.1007/s00430-019-00634-5

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu