Vitamin D3 sebagai Alternatif Turunkan Kolonisasi Staphylococcus Aureus

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Feri Fenoria Rifa'i

UNAIR NEWS – Staphylococcus aureus dalam bahasa Yunani artinya segerombol anggur. Bakteri ini pertama kali ditemukan oleh ahli bedah Sir Alexander Ogston tahun 1880. Pada tahun 1884, Rosenbach dapat mengisolasi koloni bakteri berwarna kuning dari abses yang kemudian diberi nama Staphylococcus aureus, aureus berasal dari bahasa Latin yang artinya emas.

Staphylococcus aureus merupakan jenis bakteri yang paling sering disebut dalam patogenesis Dermatitis Atopik (DA), dimana peningkatannya pertama kali dijelaskan pada tahun 1970an. Dengan latar belakang tersebut, dr. Iskandar Zulkarnain Sp.KK(K)bersama rekannya melakukan penelitian terkait cara menurunkan kolonisasi Staphylococcus aureusdengan vitamin D.

“Penelitian yang saya lakukan dengan tim merupakan penelitian eksperimental analitik. Tujuannya untuk mengevaluasi pengaruh pemberian vitamin D3 oral dibandingkan dengan sirup plasebo terhadap penurunan koloni Staphylococcus aureus,” jelas dosen Fakultas Kedokteran (FK) tersebut.

Dari genus Staphylococcus, tambahnya, bakteri Staphylococcus aureus merupakan spesies yang paling virulen dan patogenikpada kulit karena dapat mempengaruhi kondisi tubuh melaluiberbagai cara baik secara langsung maupun tidak langsung. Bakteri ini berada pada area predileksi DA yaitu antekubiti dan fossa poplitea sebagai area yang lembap.

Dosen yang lahir di Kota Gadang 64 tahun silam tersebut lebih lanjut menjelaskan, pasien DA memiliki kadar vitamin D yang rendah dibandingkan pasien non DA. Vitamin D dapat mempengaruhi mekanisme imun dengan melalui sifat immunomodulatornya pada immunitas innate dan immunitas adaptif.

“Vitamin D meningkatkan produksi peptida antimikroba terutama cathelicidin. Dengan urgensi yang cukup pelik tersebut penelitian mengenai pemberian vitamin D di Indonesia masih sangat terbatas,” ungkapnya.

Lebih lanjut, sampel penelitian yang digunakan adalah semua pasien DA anak yang memenuhi kriteria penerimaan sampel, yang datang di URJ Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Divisi Dermatologi Anak RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Penelitian menggunakan teknik consequtive, dilakukan dalam jangka waktu 6 bulan.

“Penelitian ini telah disetujui oleh Komite Etik RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Seluruh subjek penelitian telah menandatangani informed consent (pasien anak-anak diwakili oleh orang tua). Berdasarkan penelitian ini menunjukkan hasil, vitamin D3 dapat menurunkan kolonisasi Staphylococcus aureus pada pasien DA. Selain itu, terdapat perbedaan yang signifikan persentase penurunan kolonisasi Staphylococcus aureus pada kelompok vitamin D3 dibandingkan plasebo,” tutupnya.

Penulis: Dian Putri Apriliani

Editor: Nuri Hermawan

Informasi detail dari artikel ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

https://www.ejpd.com/journal/index.php/EJPD/article/view/2001

Zulkarnain I.1, Rahmawati Y.W.1, Setyaningrum T.1, Citrashanty I.1, Aditama L.2, Avanti C.2. 2019. Vitamin D3 supplementation reduced Staphylococcus aureus co­lonization in the skin of pediatric patients with atopic dermatitis.

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu