Dosen UNAIR Inisiasi Pelayanan Posyandu Berbasis Elektronik di Jember

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
KADER Posyandu di Desa Bangsalsari, Kabupaten Jember, bersama Tim Pengmas FISIP UNAIR, usai pengikuti sosialisasi dan pelatihan penggunaan teknologi digital dalam pelayanan di Posyandu. (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Berawal dari kegiatan penelitiannya tentang kebijakan kesehatan, yakni gizi buruk di Jember, Falih Suaedi, dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga tertarik untuk melaksanakan pengabdian masyarakat melalui produk inovasi teknologi tepat guna (TTG) yakni aplikasi android pelayanan Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu).

”Kegiatan ini terinspirasi dari hasil penelitian saya ketika menemukan bahwa dari sudut pandang manajemen pelayanan publik, kasus-kasus gizi buruk parah di Jember terjadi karena lambatnya respon penanganan,” ujar Falih, selaku ketua pelaksana pengmas.

Menurutnya, hal itu terjadi karena masih banyak Posyandu yang melakukan pencatatan data secara manual, sehingga proses penyampaian data pada kelompok pengambil keputusan membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Jika pengambilan bisa dilakukan lebih cepat dengan bantuan teknologi sehingga menghasilkan data yang real time, kasus-kasus tersebut bisa terselamatkan dan tertangani dengan efektif.

Apalagi, lanjut Falih, saat ini Indonesia memasuki era digital. Banyak pemerintahan, baik pusat maupun daerah, berlomba-lomba melakukan penerapan digital pada pelayanan publik. Jadi penerapan pelayanan digital pada Posyandu akan mempermudah pencatatan, sehingga data-data lebih mudah diakses dan dipantau secara real time oleh para pengambil keputusan.

”Keakuratan dan keaktualan data menjadi sisi positif bagi para pengambil keputusan dan pembuat kebijakan agar manfaat kebijakan dapat diterima oleh penerima manfaat (beneficiaries) dengan tepat waktu dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat,” tambah Falih, yang juga Dekan FISIP UNAIR itu.

Program pengabdian masyarakat ini dilaksanakan di Kantor Desa Bangsalsari, Kabupaten Jember, Minggu (13/10) lalu. Tim mengundang perwakilan kader-kader dari tujuh Posyandu di desa tersebut. Memilih dilaksanakan di Jember karena di kabupaten ini terdapat banyak jumlah kasus gizi buruk.

”Jumlah kasus gizi buruk tertinggi di Jawa Timur berada pada wilayah Kabupaten Jember, yakni tahun 2017 terdapat 8.035 kasus. Ini harus diwaspadai dan menjadi concern dari pemerintah,” lanjut Falih Suaedi.

Acara tersebut dikemas dalam bentuk sosialisasi, pelatihan, dan simulasi penggunaan aplikasi android dalam pelayanan Posyandu di Desa Bangsalsari. Kader-kader Posyandu sebagai garda terdepan dalam penanganan kesehatan ibu dan bayi, perlu diberi ruang koneksi untuk penyampaian data yang mudah dan cepat, tanpa terhambat jarak dan waktu.

Seorang peserta, Ibu Ani, kader dari Posyandu Mawar, berharap apa yang disosialisasikan dan dilatih ini bisa diterapkan seterusnya di Posyandu, supaya kader menjadi terbantu dan lebih mudah karena laporannya otomatis langsung dilaksanakan, ucap Ani.

Penerapan teknologi informasi dan komunikasi dalam pelayanan Posyandu ini diharapkan dapat mempercepat respon time terhadap balita yang terindikasi gizi buruk. Sehingga penanganan atau tindakan pencegahan supaya kasus awal (preliminary case) tidak menjadi kasus yang lebih kronis, dapat lebih cepat.

”Harapan kami, upaya preventif ini mampu menekan angka gizi buruk di Kabupaten Jember, sehingga kedepannya tidak ada lagi kasus gizi buruk yang terjadi di masyakarat,” kata Falih Suaedi mengakhiri penjelasannya. (*) Penulis: Bambang Bes h

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu