Memahami Kondisi Stres Akulturasi Tenaga Kerja Indonesia

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
BEBERAPA TKI terharu usai sampai di Indonesia. (Foto: tempo.id)
BEBERAPA TKI terharu usai sampai di Indonesia. (Foto: tempo.id)

Bekerja di luar negeri, bagi sebagian masyarakat Indonesia adalah sebuah impian. Harapan untuk memperoleh gaji yang tinggi jika dibandingkan dengan standar gaji di Indonesia dengan tingkat pendidikan dan keterampilan kerja yang sama adalah satu sebab menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI).

Data menunjukkan bahwa setiap tahunnya Indonesia memberangkatkan ratusan ribu tenaga kerja Indonesia ke luar negeri seperti Cina, Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam, serta beberapa negara di Timur Tengah, Eropa, hingga Afrika. Para tenaga kerja Indonesia yang bekerja di luar negeri diberangkatkan melalui Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI). Pada bulan Januari di awal tahun 2017, Indonesia telah melayani sebanyak 14.845 tenaga kerja ke berbagai puluhan negara dengan berbagai jenis jabatan kerja (BNP2TKI, 2017); Meski di media massa, seringkali dirilis berita tidak menyenangkan mengenai kehidupan para tenaga kerja Indonesia yang bekerja di luar negeri, namun angka TKI terus meningkat.

Terdapat beberapa permasalahan yang ditemui oleh para tenaga kerja Indonesia di luar negeri seperti yang disampaikan oleh L. Hastuti (komunikasi pribadi, 27 Januari 2017) bahwa para tenaga kerja Indonesia akan melalui tiga tahap, yaitu prapenempatan, penempatan, dan pasca penempatan. Terdapat permasalahan-permasalahan yang sering muncul pada tiap tahap dan stress akulturasi sering menjadi wacana ketika memasuki tahap penempatan. Pada tahap penempatan, para tenaga kerja Indonesia harus melakukan adaptasi terhadap budaya, bahasa, dan lingkungan yang baru. Proses penyesuaian diri tersebut juga meliputi pekerjaan. Beberapa tenaga kerja menemui permasalahan seperti pekerjaan yang pada kenyataannya tidak seperti yang dijanjikan sebelumnya, majikan yang tidak sesuai ekspektasi, serta gaji yang tidak dibayarkan.

Penelitian di bidang Psikologi mengungkapkan bahwa self-esteem merupakan faktor penting yang membantu individu dalam melakukan adaptasi di lingkungan baru. Kepercayaan individu atas kemampuannya dalam menghadapi situasi dengan tuntutan tertentu mampu mereduksi stres dan memberikan dampak positif. Individu yang memiliki self-esteem dan optimisme tinggi memiliki kemampuan penyesuaian diri terhadap situasi penuh stres yang lebih baik. Sebaliknya, self-esteem rendah memiliki hubungan dengan stres akulturasi, kecemasan, depresi, ketidakberdayaan, serta kecenderungan bunuh diri baik pada anak-anak dan orang dewasa yang melakukan migrasi.

Para tenaga kerja migran akan mengalami serangkaian proses dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungan, budaya, dan aktivitas dalam kehidupan sehari-hari yang baru. Proses adaptasi tersebut dapat mengarah kepada stres akulturasiyang dapat terjadi ketika para tenaga kerja menemui kesulitan dalam menjalani hidup dengan tingkat ekonomi sangat rendah, kesulitan dalam berbahasa, perbedaan cara pandang, status keimigrasian yang bermasalah, adanya penolakan dari lingkungan sekitar, dan hal-hal baru yang asing berkaitan dengan nilai-nilai dan hukum di negara tersebut. Tinggi rendahnya self-esteem dipengaruhi oleh dukungan sosial dari keluarga, teman, dan kerabat; oleh karena itu faktor budaya kolektif juga memiliki peranan penting dalam meningkatkan self-esteem, kebahagiaan, dan kesehatan mental pekerja migran wanita (Sanchez & Gaw, 2007 dalam Ujano-Batangan, 2011).

Variabel internal dalam diri, yaitu approach coping atau yang dapat disebut problem-focused coping efektif juga dinyatakan sebagai faktor yang mampu mencegah timbulnya efek stres. Coping merupakan faktor penting yang dapat meningkatkan kemampuan adaptasi pekerja migran di lingkungan yang baru (Hovey & Magaña, 2000). Para pekerja migran akan memaknai kesulitan yang dihadapinya terkait dengan proses adaptasi secara berbeda-beda. Apabila individu memaknai hal yang dihadapinya merupakan sesuatu yang dapat diatasi dan berarti, maka individu akan menggunakan strategi coping secara aktif dan sukses (Antonovsky, 1999 dalam Weishaar, 2010).

Kompleksnya faktor dan variabel yang membangun stress akulturasi pada para Tenaga Kerja Indonesia menyebabkan korelasi antara variabel stress akulturasi, self esteem, dan strategi coping menunjukkan korelasi yang tidak signifikan. Selain karena terbatasnya jumlah subyek penelitian, yaitu 49 orang TKI.  

Penulis: Nurul Hartini

Informasi detil dari tulisan ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

http://www.jardcs.org/archivesview.php?volume=1&issue=12&page=6

Nurul Hartini & Trisha Safira, Faculty of Psychology, Universitas Airlangga, Surabaya – Indonesia. Stress Acculturation of Indonesian Workers in terms of Self-Esteem and Coping Strategy. Terbit pada Journal of Advance Research in Dynamical & Control Systems, Vol. 11, Special Issue-05, 2019. P. 1341-1345

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu