Menelisik Ektoparasit pada Kepiting Bakau dan Udang Vaname

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi kepiting bakau. (Sumber: Wikipedia)

Parasit menurut kamus besar bahasa Indonesia merupakan 2 organisme yang hidup dan mengisap makanan dari organisme yang ditempelinya. Parasit juga dapat ditemukan pada biota akuatik, baik yang berperan sebagai ektoparasit maupun endoparasit. Ektoparasit merupakan parasit yang hidup diluar tubuh inang, yaitu yang menempel di permukaan tubuh maupun insang.

Beberapa kasus infestasi ektoparasit pernah dilaporkan pada biota akuatik baik di perairan tawar, payau maupun laut. Maka penelitian ini bertujuan untuk menginformasikan adanya infestasi ektoparasit pada biota akuatik yaitu kepiting bakau dan (Mud Crab, Scylla serrata) dan udang vanamei (white shrimp, Litopenaeus vannamaei). Ditemukan adanya infestasi ektoparasit protozoa dan Crustacea yang menginfestasi kepiting bakau dan udang vaname, yaitu Zoothamnium sp.dan Epsitylis sp. dengan nilai prevalensi dan intensitas yang berbeda.

Infestasi ektoparasit Octolasmis, Zoothamnium dan Epistiylis ditemukan pada kepiting bakau (Scylla serrata) dengan nilai prevalensi 88.75%, 62.5% dan 86.25%. Hal ini menunjukkan bahwa dari keseluruhan populasi, lebih dari 60% kepiting bakau (Scylla serrata) terinfestasi atau positif terdapat tiga jenis ektoparasit dari kelompok Protozoa dan Crustacea.

Infestasi yang berbeda ditunjukkan oleh udang vanname (Litopeneus vannamei) yang hanya terinfestasi atau positif terdapat dua jenis ektoparasit dari kelompok protozoa, yaitu Zoothamnium dan Epistylis dengan nilai prevalensi masing-masing adalah 31.33% dan 50.66%. Selain nilai infestasi yang lebih kecil, jenis ektoparasit protozoa yang menginfestasi juga lebih sedikit jika dibandingkan dengan ektoparasit yang menginfestasi kepiting bakau (Scylla serrata).

Ektoparasit protozoa merupakan organisme patogen yang menginfestasi bagian tubuh inang dan berasal dari kelompok protozoa. Ektoparasit protozoa ini hanya dapat diamati dibawah mikroskop dengan pembesaran mulai 40x hingga 400x. Pengambilan ektoparasit protozoa pada kepiting dan udang dapat dilakukan dengan teknik scrapping, yaitu mengerok seluruh bagian tubuh inang, termasuk kaki jalan dan kaki renang.

Pengerokan dapat dilakukan dengan menggunakan scalpel dan hasil dari pengerkan diletakkan pada obyek glass untuk selanjutnya diamati dibawah mikroskop. Sedangkan ektoparasit dari kelompok Crustacea banyak ditemukan sebagai pathogen yang bersifat makroskopis, artinya dapat dilihat dengan mata telanjang tanpa bantuan alat pembesar. Parasit ini sering ditemukan menggunakan inang sebagai substrat tempat melekat. Pada beberapa biota akuatik, parasite Crustacea dapat diambil dengan menggunakan bantuan pinset.

Octolasmis sp.

Octolasmis merupakan ektoparasit Crustacea dalam ordo Decapoda. Parasit ini ditemukan menempel kuat pada bagian tubuh inang karena memiliki alat pelekat yaitu peduncle.  Pada tubuh inangnya, parasite ini ditemukan seperti bentukan kecambah dengan bagian posterior melekat pada organ inangnya dan bagian anterior berbentuk bulat lonjong. Octlasmis lebih sering ditemukan pada kepiting bakau dibanding menginfestasi udang vanname. Hal ini dapat dikarenakan karena struktur organ dari kepiting bakau yang lebih keras dibanding udang vanname, sehingga memudahkan parasit Octolasmis untuk menempel.

Zoothamnium sp.

Zoothamnium sp. merupakan parasit ciliata yang sering ditemukan menginfestasi udang dan kepiting pada bagian insang, karapas dan kaki. Pada tubuh inang parasit ini membentuk koloni dan tersusun pada tangkai yang bercabang, berkontraktil dengan warna transparan. Parasit ini berbentuk memanjang kerucut dengan posterior tangkai yang melekat pada substrat.

Adanya infestasi Zoothamnium pada udang maupun kepiting dapat diakibatkan karena factor kondisi lingkungan yang mendukung tumbuh kembang dari parasit. Infestasi Zoothamnium pada kepiting bakau dapta mencapai nilai intensitas 50, sedangkan pada udang vanname dapat mencapai nilai 47. Nilai intensitas pada kepiting bakau lebih tinggi dibandingkan dengan udang vanname dapat dikarenakan faktor kepiting bakau yang telah terlebih dahulu dibudidayakan dibanding udang vanname.

Epistylys sp.

Sama seperti Zoothamnium, Epistylis sp. juga merupakan ektoparasit yang berasal dari kelompok ciliata. Parasit ini memiliki bentuk tubuh yang hampir sama dengan Zoothamnium, juga tempat perlekatan atau predileksi yang hampir sama dengan Zoothamnium, yaitu pada insang maupun kaki renang dan kaki jalan udang vanname maupun kepiting bakau. Pada tubuh inangnya, parasite Epistylis ditemukan dengan warna tubuh transparan, berbentuk seperti lonceng dan memanjang, serta membentuk koloni namun tidak berkontraktil.

Belum banyak diketahui tentang keberadaan ektoparasit ini dengan kondisi lingkungan perairan. Namun, parasit ini sering ditemukan baik pada kepiting bakau maupun udang vanname. Hal ini dapat juga dikarenakan struktur tubuh kedua inang yang cocok dengan model perlekatan dari Epistylis.

Masyarakat sebagai konsumen tidak perlu khawatir dengan adanya parasite-parasit ini karena tidak bersifat zoonis. Adanya infestasi ektoparasit dapat menimbulkan kerugian dari segi ekonomi karena sifat parasit yang menggunakan inang sebagai sumber makanan serta berkurangnya nilai estetika dari biota akuatik yang terinfestasi parasit. (*)

Penulis : Putri Desi Wulan Sari

Informasi lebih detail dari penelitian ini dapat detemukan pada jurnal ilmiah pada link berikut ini :

https://www.researchgate.net/publication/336577835_Occurrance_of_Ectoparasites_in_Mud_Crab_Scylla_serrata_and_White_Shrimp_Litopenaeus_vannamei

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu