Pascasarjana UNAIR Gelar Seminar & Workshop Multidisiplin Ilmu Bidang Forensik

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
FOTO bersama pimpinan dalam acara seminar dan workshop forensik. (Dok. Panitia)

UNAIR NEWS – Program Studi Forensik Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga menggelar seminar dan workshop Pekan Ilmiah Forensik 2 dengan tema Penerapan Multidisplin Ilmu dalam Bidang Forensik di Indonesia. Acara itu berlangsung selama tiga hari, dari hari Jumat-Minggu (11-13/10/2019).

Acara yang dihadiri oleh profesional dan akademisi se-Indonesia itu mengambil beberapa lokasi, yaitu di Empire Palace Hotel Surabaya, Institute of Tropical Disease (ITD), RSUD Dr. Soetomo, dan Gedung Pascasarjana UNAIR.

Forensik adalah bidang yang identik dengan kedokteran. Tetapi pada praktiknya, penerapan multidisiplin ilmu tidak dapat dihindari dalam forensik. Dari situ diangkatlah tema multidisiplin ilmu dalam bidang forensik.

Berbagai bidang yang terlibat dalam forensik selain kedokteran meliputi bidang hukum, antropologi, kedokteran gigi, dan biologi molekuler. Karena tema yang diangkat multidisiplin, maka ahli yang mengisi acara ini pun dari berbagai bidang. Berbagai pembicara dari kepolisian, ahli hukum, dokter, dan dokter gigi menyampaikan aspek ilmu masing-masing dan relevansinya terhadap forensik.

Di hari Jumat, digelar workshop DNA. Pada hari Sabtu digelar seminar penerapan multidisiplin. Pada hari Minggu, digelar workshop odontologi, antropologi, dan DVI.

Salah satu workskop yang digelar adalah workshop odontologi age estimation dengan Image J software. Workshop ini digelar di Gedung Pascasarjana UNAIR. Hadir sebagai pembicara ahli adalah Prof. Dr. Mieke Syvia Margaretha M.A. Ruth drg., MS., Sp. OF(K).

Odontologi penting dalam forensik karena gigi adalah salah satu bagian tubuh manusia yang dapat bertahan lama dibanding organ dan jaringan tubuh lain. Gigi digunakan dalam identifikasi primer. Indentifikasi primer merupakan tahapan identifikasi identitas korban.

Identifikasi primer dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu identifikasi sidik jari, identifikasi gigi, dan identifikasi DNA. Umumnya, yang utama adalah identifikasi sidik jari. Tetapi, apabila identifikasi sidik jari tidak memungkinkan, misal, jika jari korban terbakar, maka dilakukan identifikasi gigi. Jika identifikasi gigi tidak memungkinkan atau tidak memberi hasil yang memuaskan, barulah dilakukan identifikasi DNA.

Jika dibandingkan dengan identifikasi DNA, identifikasi gigi tergolong mudah dan murah. Seiring dengan kemajuan teknologi, perangkat lunak digunakan untuk menganalisis bentuk, ukuran, dan rasio foto x-ray gigi korban. Dengan demikian, dapat diperkirakan umur korban.

Seminar dan workshop forensik ini telah memasuki tahun kedua. Di Indonesia, seminar dan workshop forensik masih tergolong jarang. Diharapkan seminar dan workshop forensik ini dapat memberikan update bagi profesional yang telah terjun di dunia forensik dan memberi gambaran bagi yang berminat mempelajari bidang forensik. (*)

Penulis: Fida Aifiya

Editor: Binti Q. Masruroh

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu