Dukung Kesehatan Mental ABK, BEM Psikologi Gelar Talkshow Kolaboratif

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) saat menunjukkan penampilannya kepada para peserta talkshow. (Foto : Nikmatus Sholikhah)

UNAIR NEWS – Hari Kesehatan Jiwa Sedunia atau World Mental Health Day diperingati pada tanggal 10 Oktober setiap tahunnya. Dalam rangka merayakan hari tersebut, Departemen Kajian Isu Strategis dan Pengabdian Masyarakat BEM Fakultas Psikologi Universitas Airlangga (UNAIR) berkolaborasi untuk menggelar acara Talkshow Kolaboratif pada Jumat (12/10/2019).

Kegiatan yang diselenggarakan di Aula Excellence with Morality Fakultas Psikologi itu mengusung tema “Aku Bisa Anakku Luar Biasa”. Sita Nadia, sebagai ketua panitia menuturkan bahwa pemilihan tema itu berlandaskan banyaknya stigma di masyarakat mengenai Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) yang dapat memengaruhi mental ABK itu sendiri dan pola pengasuhan orang tua. Sita menjelaskan bahwa stigma itu membuat ABK merasa tidak percaya diri untuk menumbuhkan self-love, sehingga edukasi mengenai pengasuhan ABK terhadap masyarakat, khususnya orang tua penting dilakukan. Salah satunya melalui acara talkshow tersebut.

“Kami ingin mencoba memberikan pengetahuan kepada masyarakat umum mengenai ABK dan mematahkan stigma yang ada demi mendukung terwujudnya kesehatan mental bagi ABK,” tambahnya.

Dalam penyampaian materinya, Primatia Yogi Wulandri, S.Psi., M.Si., Psikolog sebagai pemateri utama menjelaskan tentang teori perkembangan anak dari sisi psikologi. Dosen Pendidikan dan Perkembangan Psikologi UNAIR itu memaparkan bahwa dinamika perkembangan yang dialami orang tua ABK tidak hanya dijumpai saat masih usia anak-anak saja, tetapi dinamika itu akan terus berlanjut sampai kapanpun. Sehingga teori-teori psikologi perkembangan sangat diperlukan untuk membantu orang tua dalam memberikan pengasuhan yang tepat kepada ABK.

“Perlu diingat bahwa pengasuhan terhadap ABK itu tidak hanya butuh dukungan dari orang tua saja, tetapi juga dari masyarakat maupun pemerintah. Ada tiga tips yang harus kita lakukan dalam mengasuh ABK, yaitu THD (terima, hargai, dan dukung),” jelasnya.

Selain mengundang pemateri dari seorang psikolog, panitia juga menghadirkan Fitria Nurani sebagai salah satu orang tua ABK Duchenne Muscular Dystrophy. Fitria membagikan pengalamannya mengenai pengaplikasian teori perkembangan dalam mengasuh anak. Dia juga menjelaskan bagaimana dinamika yang dialaminya selama ini dalam mengurus ABK serta kedekatan yang ia jalin dengan orang tua ABK lain untuk saling saling bekerjasama dalam memberikan pengasuhan yang terbaik kepada ABK.

Salah satu hal yang menarik dalam acara talkshow itu adalah tampilnya beberapa ABK dari Yayasan Peduli Kasih Anak Berkebutuhan Khusus (YPKABK). Anak-anak itu mempersembahkan nyanyian, fashion show, mengaji, dan hasil prakarya lainnya kepada peserta talkshow.

Lebih lanjut, Sita berharap dengan terselenggaranya talkshow tersebut tidak ada lagi stigma di masyarakat yang dapat menghalangi tumbuh kembang ABK. “Semoga dengan banyaknya dukungan yang diberikan dapat mengoptimalkan potensi yang ada pada diri ABK, karena mereka sama seperti kita. Hanya saja mereka memiliki kebutuhan khusus yang memerlukan dukungan sosial,” pungkasnya.

Penulis : Nikmatus Sholikhah

Editor : Khefti Al Mawalia

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu