Pentingkah Keberadaan Hutan Mangrove?

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh news detik.com

Hutan mangrove merupakan salah satu bentuk ekosistem hutan yang unik dan khas, terdapat di daerah pasang surut wilayah pesisir, pantai, dan beberapa pulau kecil. Hutan mangrove merupakan sumber daya potensial di Indonesia. Sumberdaya tersebut sangat besar, karena Indonesia memiliki garis pantai sepanjang 81.000 km. Garis pantai yang panjang ini menyimpan potensi kekayaan sumber alam yang besar. Potensi itu diantaranya potensi hayati dan non hayati. Potensi hayati tersebut antara lain: perikanan, hutan mangrove, lamun, dan terumbu karang, sedangkan potensi non hayati adalah mineral, bahan tambang, dan pariwisata.

Mangrove menyediakan banyak layanan ekosistem yang berharga, yaitu sebagai pendukung, penyedia, pengatur, dan kultural. Sebagai pendukung berbagai jasa ekosistem diantaranya dalam pembentukan tanah, fotosintesis, produksi primer, siklus nutrien, siklus air, dan pendukung ekosistem lamun dan ekosistem terumbu karang. Sebagai penyedia, mangrove sebagai habitat menopang produksi perikanan baik untuk ikan-ikan konsumsi maupun ikan hias, dan menyediakan habitat pembibitan untuk ikan.Di negara-negara Asean 30% ikan ditangkap di ekosistem mangrove dan hampir 100% udang ditangkap di areal mangrove.Sebagai pengatur, mangrove merupakan tempat asimilasi karbon atmosfer berlebih salah satu penyebab terjadinya pemanasan global, yang berarti membantu mengurangi emisi gas rumah kaca CO2 di udara, melindungi garis pantai dari badai dan tsunami, melindungi dari abrasi pantai, tempat menyimpan karbon.

Hutan mangrove adalah hutan non kayu yang diakui sebagai sumberdaya ekonomi penting, terutama masyarakat pedesaan dan masyarakat terpinggirkan. Banyak masyarakat pantai di daerah tropis yang ditandai dengan terisolir secara geografi dan miskin, hidupnya sangat tergantung pada hasil laut dan sumberdaya pantai. Kebanyakan masyarakat yang hidup dekat area mangrove mata pencaharian utamanya adalah menangkap ikan dan aktivitas yang berkaitan dengan menangkap ikan. Dimana masyarakat tersebut memanen udang, kerang, ikan, kepiting, dan siput laut dari ekosistem mangrove menghasilkan penghasilan dan pangan bagi keluarganya. Juga memanfaatkan kayunya untuk bahan bakar, bahan bangunan, dan lain sebagainya.

Luas ekosistem mangrove di Indonesia mencapai 75% dari total mangrove di Asia Tenggara atau sekitar 27% dari total mangrove di dunia. Selain itu, ekosistem mangrove di Indonesia memiliki keragaman tertinggi di dunia. Distribusi mangrove di Indonesia terletak di Pantai Sumatera, Kalimantan, dan Papua. Luasnya distribusi mangrove terus menurun dari 4,25 juta hektar di tahun 1982 menjadi sekitar 3,24 juta hektar padatahun 1987 dan tersisa  seluas 2,79 hektar pada tahun 2000. Kecenderungan penurunan tersebut mengindikasikan bahwa terjadi degradasi hutan mangrove yang cukup nyata, yaitu sekitar 200 ribu hektar per tahun. Antara tahun 2000 sampai dengan tahun 2012, persentase penurunan mangrove adalah 1,72%. Kecenderungan menurun menunjukkan bahwa ada 61,000 hektar hutan mangrove mengalami alih fungsi dan hilangnya habitat mangrove sekitar 48,000 hektar lebih dalam 12 tahun. Hal ini disebabkan oleh konversi lahan yang digunakan menjadi budidaya/pertanian, pertanian, pariwisata, pembangunan perkotaan, dan eksploitasi berlebih.

Salah satu hasil dari berbagai kegiatan manusia di daerah pesisir yang mempengaruhi keberlanjutan sumber daya alam adalah penghancuran ekosistem mangrove. Keberadaan ekosistem mangrove memainkan peranan penting bagi kelangsungan proses ekologi dan hidrologi. Bahwa kerusakan dan gangguan terhadap kondisi pertumbuhan dapat menjadi masalah bagi regenerasi mangrove di masa depan. Pertumbuhan masing-masing tanaman akan menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar sehingga morfologi yang terjadi akan bervariasi dari satu tempat ke yang lain. Oleh karena itu, morfologi hutan bakau di Taman Nasional Baluran adalah tipikal, mengingat bahwa kondisi lingkungan yang berbeda memiliki deskripsi morfologi yang berbeda.

Program pengembangan ekowisata di daerah Pantai Bama membutuhkan data mengenai struktur ekosistem mangrove di Pantai Bama Taman Nasional Baluran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur masyarakat ekosistem mangrove yang mencakup spesies mangrove, keragaman, dominasi, dan pola zonasi di Taman Nasional Bama Resort Baluran, yang dapat digunakan dalam manajemen dan pengelolaan mangrove terutama di Taman Nasional Baluran dan umumnya di Jawa Timur.

Berdasarkan hasil penelitian didapatkan adanya 6 jenis mangrove penyusun vegetasi yang terdiri atas 2 famili, yaitu famili Rhizophoraceae (Rhizophora stylosa, Rhizophora mucronata, Rhizophora apiculata, Bruguiera gymnorrhiza, dan Ceriops tagal) dan famili Araceae (Nypa fruticans). Dari hasil analisis vegetasi di dapat nilai penting yang tertinggi untuk tingkat pohon dimiliki Rhizophora apiculata (229.90%), dan untuk tingkat pancang dimiliki Rhizophora apiculata (148.69%), untuk tingkat semai dimiliki Rhizophora apiculata (244.83%). Keanekaragaman mangrove sedang (H=1,1), nilai indeks dominansi total adalah C=0.52328, tidak ada mangrove yang memiliki kategori dominan tetapi mangrove yang memiliki nilai dominansi tertinggi adalah Rhizophora apiculata (C=0.48757). Pola zonasi mangrove dari garis pantai ke daratan berturut-turut adalah Rhizophora stylosa, Rhizophora mucronata dan Rhizophora apiculata di zona terluar (zona yang berbatasan langsung dengan laut). Bruguiera gymnorrhiza dan Ceriops tagal di zona tengah. Nypa fruticans di zona yang berbatasan dengan mangrove darat.

Penulis: Sucipto Hariyanto

Link terkait artikel ilmiah populer di atas, di Jurnal Biosaintifika: Vegetation and Community Structure of Mangrove in Bama Resort Baluran National Park Situbondo East Java. https://journal.unnes.ac.id/nju/index.php/biosaintifika/article/view/19111/9185

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave a Replay

Berita Terkini

Laman Facebook

Artikel Populer
Close Menu