FISIP UNAIR Edukasi Masyarakat tentang ‘Manajemen Risiko Bencana’

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
KETUA Tim Pengmas FISIP UNAIR, Ali Sahab, ditengah para peserta pelatihan ”Disaster-Risk Management” di Ruang Adi Sukadana FISIP, Kampus B UNAIR. (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga melakukan Pengabdian Kepada Masyarakat (Pengmas) tentang Disaster-Risk Management di Kecamatan Genteng, Kota Surabaya. Pelatihan ini bertujuan supaya masyarakat sadar, waspada, dan kesiap-siagaan bencana di Kota Surabaya. Dalam pengmas (pelatihan) yang diselenggarakan di Ruang Adi Sukadana, FISIP UNAIR, Sabtu (28/9) 2019 ini, mengundang Karang Taruna sebagai ujung tombak sosialisasi kebencanaan kepada masyarakat luas.

Dipilihnya pengmas tentang sosialisasi kebencanaan ini, diterangkan Ali Sahab, Ketua Tim Pengmas, karena Kota Surabaya merupakan daerah yang termasuk beresiko terhadap bencana, baik bencana alam, non alam, maupun bencana sosial. Sehingga pelatihan disaster-risk management perlu dilakukan.

”Pengabdian kepada masyarakat merupakan bagian dari Tri Dharma Perguruan Tinggi, selain pendidikan dan penelitian. Dan Surabaya juga merupakan daerah yang rawan terhadap bencana, seperti banjir, kebakaran, dan terorisme,” tambah Ali Sahab kepada unair.news.

Apalagi, lanjut dosen FISIP UNAIR itu, bencana tidak bisa diprediksi kejadiannya. Yang bisa hanyalah diantisipasi. Sebab bencana alam, menurut UU No.24 Tahun 2007, adalah bencana yang disebabkan oleh faktor alam, non alam, dan bencana sosial. Bencana alam diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam, antara lain berupa gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan, dan tanah longsor.

Sedangkan bencana non-alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau rangkaian peristiwa non-alam, yang antara lain berupa gagal teknologi, gagal modernisasi, epidemi, dan wabah penyakit. Sedangkan bencana sosial merupakan bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang diakibatkan oleh manusia yang memiliki konflik sosial antar-kelompok atau antar-komunitas masyarakat, serta teror.

”Sehingga kepada masyarakat itu kami memberikan edukasi tentang kebencanaan,” kata Ali Sahab. Dia sebut penanganan banjir di Surabaya sudah banyak perbaikan, sehingga genangan air yang terjadi semakin singkat. Namun Kota Surabaya juga sangat beresiko terhadap bencana lain, seperti kebakaran. Bahkan baru-baru ini di Kutisari Indah Utara Gang III/19 muncul semburan lumpur yang mengandung gas berwarna pekat. Semburan lumpur ini disinyalir bekas sumur minyak mentah.

Hal itu menunjukkan bahwa Kota Surabaya, walaupun tidak terkena gempa bumi (menjadi pusat gempa), tetapi ternyata tidak disangka-sangka di Kutisari muncul luapan lumpur yang mengandung minyak. Dengan peristiwa itu diharapkan kita mengetahui bagaimana cara mengatasi yang sebenarnya.

”Dan ternyata penanggulangaan oleh Pemkot Surabaya kewenangannya terbatas, sehingga Pemkot hanya mengambil semburan lumpur yang keluar di setiap harinya, supaya tidak meluas kemana-mana,” jelas Ali Sahab.

Selain itu, di Kota Surabaya juga berpotensi terjadi gempa darat. Hal itu karena “Kota Pahlawan” ini dilewati oleh sesar Waru dan sesar Surabaya. Sesar Waru melintasi Rungkut, Sidoarjo, Mojokerto, Jombang, Nganjuk, Saradan, bahkan Cepu. Sedangkan sesar Surabaya meliputi kawasan Keputih hingga Cerme (Gresik).

Karena itulah, dalam sosialisasi dan pelatihan tersebut, anggota Karang Taruna diberi pengetahuan tentang sesuatu yang harus dilakukan paling awal (pertama kali) ketika terjadi bencana. Sehingga ketika terjadi bencana mereka mengetahui apa-apa yang harus dilakukan, dan bukannya malah bingung.

Salah serorang peserta sosialisasi kebencanaan, Riovaldi, mengakui bahwa pelatihan ini sangat besar manfaatnya. Dari mereka yang sebelumnya tidak banyak tahu bagaimana yang harus dilakukan bila terjadi bencana, sekarang menjadi tahu.

”Terus terang saja, dengan sosialisasi dan pelatihan tersebut saya jadi tahu apa-apa yang harus dilakukan pertama kali ketika terjadi bencana. Misalnya bencana kebakaran, gempa bumi, dan bencana lainnya,” ujar Riovaldi, seorang peserta pelatihan Pengmas FISIP UNAIR. (*)

Penulis : Bambang Bes

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave a Replay

Berita Terkini

Laman Facebook

Artikel Populer
Close Menu