Torbangun, Antara Obat dan Efek Samping

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi Artikel Ilmiah oleh Feri Fenoria

UNAIR NEWS – Di Indonesia, hampir seluruh tanahnya menumbuhkan berbagai tanaman yang memberikan manfaat bagi kebutuhan pengobatan dan nutrisi manusia. Salah satunya yaitu tanaman Torbangun (Coleus amboinicus). Sebagian orang menyebutnya sebagai bangun-bangun atau daun jintan. Daun torbangun memiliki tekstur licin dan tebal serta beraroma oregano atau mint. 

Tanaman ini tersebar luas dan telah dikonsumsi harian untuk pengobatan dan makanan tambahan (suplemen) bagi sebagian masyarakat di Afrika, Asia, Australia dan Amerika Selatan.  Tumbuhan yang mampu hidup sekitar 3-10 tahun tersebut, telah lama digunakan secara tradisional sebagai makanan, aditif pakan ternak, serta sebagai obat berbagai macam penyakit.

“Bahkan, para ibu di Sumatera Utara, wajib mengkomsumsi daun torbangun hingga 30 hari. Biasanya mereka memasak sebagai sup untuk merangsang ASI. Menurut kajian, daun torbangun lebih efektif dibandingkan laktagogum,” jelas Dr. Iwan Sahrial.

Selain itu, tanaman torbangun sejak lama digunakan masyarakat sebagai jamu tradisional untuk pengobatan berbagai penyakit seperti panas, batuk, bronkitis, radang tenggorokan, diare dan disentri.  Di dalam tanaman torbangun  tersebut, juga ditemukan kandungan senyawa aktif yang berfungsi sebagai obat. Para peneliti dari berbagai universitas di dunia telah menemukan kandungan senyawa aktif seperti monoterpenoid, sesquiterpenoid, diterpenoid dan phenolic, 3 metil 4 isopropyl phenol, squalene, cariophyline, phytol, alkaloid, glycosid, flavonoid, quinon, tannin, phenol, dan terpenoid.

Melihat potensi tanaman Torbangun yang cukup potensial sebagai bahan obat, Dr Iwan Sahrial bersama rekannya, yaitu Dr Rondius Solfaine, berusaha mengevaluasi kekuragan dari daun tersebut.

“Meskipun termasuk dalam obat Anti Inflamasi Non Steroid (AINS), Salah satu kekurangan dalam menggunakan bahan dari tanaman torbangun sebagai bahan obat yaitu adanya efek samping yang mampu menimbulkan gagal ginjal dan menimbulkan alergi,” ungkapnya.

Pria yang menjabat sebagai Kepala Program Studi S1 Pendidikan Kedokteran Hewan PSDKU UNAIR di Banyuwangi tersebut, lanjut menjelaskan penelitiannya yang menambahkan cisplatin, atau obat pilihan dalam terapi kanker, sarkoma dan karsinoma, dalam ekstrak tanaman torbangun, untuk meminimalisir efek sampingnya.

Menggunakan tikus mencit sebagai subjek ujinya, Dr. Iwan bersama tim berhasil menghambat pembentukan gagal ginjal akibat penambahan cisplatin pada ekstrak tanaman torbangun.

“Hal tersebut ditunjukan oleh meningkatnya senyawa factor pertumbuhan (TGF) dengan diikuti penurunan konsentrasi kadar Alkalin pospatase, BUN dan kreatinin, ketiga senyawa tersebut merupakan parameter tes fungsi ginjal,” pungkasnya.

Dari hasil pengujian ekstrak daun torbangun, dosis yang paling efektif dalam menghambat kerusakan ginjal yaitu, pada dosis 100 mg/kg berat badan. Selain itu, Ektrak tanaman torbangun (Coleus amboinicus) juga diperoleh dari daun segar yang disarikan dengan cara maserasi etanol 96%. (*)

Penulis: Bastian Ragas

Editor: Nuri Hermawan 

Sumber : Sahrial I, Solfaine R (2019) Coleus amboinicus extract increases transforming growth factor-1β expression in Wistar rats with cisplatin-induced nephropathy, Veterinary World, 12(8): 1346-1351. doi: 10.14202/vetworld.2019.1346-1351

http://www.veterinaryworld.org/Vol.12/August-2019/25.html.

This post is also available in: English

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave a Replay

Berita Terkini

Laman Facebook

Artikel Populer
Close Menu