Parenting Self-efficacy Berperan Turunkan Stres Pengasuhan Anak dengan Autisme

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi parenting. (Sumber: antara)

Anak dengan gangguan spektrum autisme secara umum dicirikan oleh ketidakmampuan dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan individu lain. Biasanya, anak tersebut sangat tak acuh terhadap lingkungan di luar dirinya. Hal itu menyebabkan perilakunya tampak seperti memiliki dunia sendiri dan hidup dalam dunianya sendiri (International Statistical Classification of Diseases and Related Health Problems – ICD, 2016).

Karakteristik anak dengan kekhususan kebutuhan, di antaranya anak dengan gangguan spektrum autisme, dapat menurunkan kesehatan mental orang tua dan keluarga. Orang tua yang memiliki anak dengan gangguan spektrum autisme menunjukkan penurunan kesehatan mental yang salah satunya disebabkan oleh stres pengasuhan.

Stres pengasuhan akan dialami oleh orang tua ketika memiliki anak dengan gangguan spektrum autisme dipersepsikan orang tua sebagai suatu peristiwa yang mengancam, menantang, ataupun membahayakan dan orang tua, merespon peristiwa itu secara negatif pada level fisiologis, emosional, kognitif, dan perilaku. Stres pengasuhan memberikan dampak negatif pada keyakinan orang tua untuk mengatasi stresor sehingga beresiko terhadap kesehatan mentalnya.

Beberapa penelitian menyebutkan bahwa terdapat perbedaan stres pengasuhan berdasarkan gender. Ibu yang memiliki anak dengan gangguan spektrum autisme menunjukkan stres pengasuhan lebih tinggi jika dibandingkan dengan stres pada ayah. Karakteristik dan keterbatasan anak dengan gangguan spektrum autisme membutuhkan pengasuhan dan perawatan yang lebih intensif. Sehingga, menuntut orang tua, terutama ibu, untuk menyediakan waktu dan tenaga yang lebih besar dan lebih khusus.

Selain itu, kuantitas dan kualitas relasi ibu dengan anak yang lebih besar dibandingkan dengan ayah membuat ibu menunjukkan kelelahan fisik dan kecemasan kognitif serta emosional yang lebih tinggi.

Faktor internal orang tua dalam pengasuhan, yaitu parenting self-efficacy, berperan menurunkan stres pengasuhan. Orang tua dengan parenting self-efficacy yang tinggi memiliki minat yang tinggi dalam melakukan pembimbingan, perawatan, pengasuhan, menoleransi tantangan yang muncul, dan memiliki persepsi diri yang positif tentang kemampuannya menangani stressor. Parenting self-efficacy berkorelasi negatif dengan perasaan terbebani oleh tugas pengasuhan.

Parenting self-efficacy dibentuk oleh beragam variable. Di antaranya, penerimaan orang tua terhadap anak, penguatan positif dari anak, kelekatan, dukungan sosial terutama dari pasangan. Kemampuan orang tua untuk menerima anak apa adanya tanpa syarat akan menghadirkan emosi positif untuk menerima kekurangan dan keterbatasan anak.

Penguatan dari anak, artinya anak menunjukkan perkembangan positif dengan hadirnya upaya perawatan dan pendidikan serta pembimbingan yang diberikan oleh orangtua. Penguatan positif yang diberikan oleh anak melalui pencapaian keberhasilan hasil intervensi yang diupayakan orangtua akan menghadirkan keyakinan pada orangtua akan kompetensi dirinya pada pengasuhan.

Parenting self-efficacy merupakan faktor internal ibu yang mendorong kreativitas dan ketekunan ibu untuk melakukan proses perawatan dan pendidikan yang tepat disesuaikan dengan kemampuan yang dimiliki. Dalam dukungan finansial yang terbatas, ibu dengan parenting self-efficacy yang tinggi akan berusaha memberikan perawatan dan pendidikan secara langsung kepada anaknya tanpa bantuan pihak lain agar anak dapat terus berproses meningkatkan kemampuan berkomunikasi dan berinteraksi sosialnya.

Ibu dengan parenting self-efficacy yang tinggi akan berusaha mencari dan menemukan strategi perawatan dan pendidikan yang tepat untuk anaknya. Ia akan berusaha memahami dan menerapkan pola pengasuhan yang sehat untuk anaknya agar secara bertahap anak mampu membangun kemandirian sehingga dapat membangun relasi interpersonal dan dapat meningkatkan kualitas hidupnya.

Anak dengan penanganan yang tepat diharapkan dapat menempuh pendidikan formal bersama dengan anak lain sebaya dan seusianya dalam setting pendidikan inklusi. Selain itu, diet makanan tertentu untuk anak dengan gangguan spektrum autisme harus menjadi perhatian utama ibu dalam pengasuhan.

Berbagai kekhususan kebutuhan yang dipahami secara sadar oleh ibu dan keluarga dengan upaya maksimal untuk memenuhinya dan disesuaikan dengan kapasitas dan kemampuan diri. Maka, pengasuhan pada anak dapat dijadikan sebagai bagian dari peran dan tugas orangtua tanpa perasaan dan pemikiran stress dan terbebani. (*)

Penulis: Nurul Hartini

Informasi detil dari tulisan ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

http://journal.walisongo.ac.id/index.php/Psikohumaniora/issue/View/364

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu