Butuh Banyak Dukungan dalam Penyembuhan Pasien Hepatitis Kronis

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi dukungan berbagai pihak untuk kesembuhan pasien. (Sumber: Jawa Pos)

Dalam kehidupan masyarakat kontemporer, peranan agama dalam sistem medis modern dirasa sangat terbatas. Sistem medis yang dijalankan berdasar pada sudut pandang sekuler liberal yang melupakan aspek agama dan spiritualitas (Shinall 2009). Tidak diragukan lagi sistem ini telah meningkatkan kondisi kesehatan manusia selama periode waktu tertentu.

Penggunaan pengobatan modern, sesuai yang diperkirakan sebelumnya, ternyata dapat meningkatkan harapan hidup, mengendalikan epidemi, dan merupakan cara yang lebih maju dalam mendiagnosa dan menentukan perawatan penyakit ganas, seperti kanker. Pengobatan modern mengurangi tingkat kematian akibat penyakit kronis, namun sejatinya para pasien masih memerlukan bantuan untuk menghadapi berbagai tantangan lain yang terkait dengan penyakit mereka (Maslow et al. 2011).

Para akademisi sebenarnya mengakui keberadaan religiusitas, spiritualitas, dan dukungan sosial sebagai faktor-faktor perilaku sosial yang memengaruhi kemampuan pasien berjuang melawan penyakit kronisnya. Namun, pada kenyataannya, belum banyak studi yang membahas religiusitas, spiritualitas dan dukungan sosial sebagai sebuah metode coping pada pasien hepatitis (Sohail et al. 2018). Oleh karenanya, penelitian ini berusaha menjabarkan kenyataan empiris tentang bagaimana faktor-faktor ini memengaruhi pasien, serta bertujuan mencari hubungan antara perjuangan melawan penyakit dengan keberadaan religiusitas, spiritualitas, dan dukungan sosial.

Beberapa penelitian lain menunjukkan peran religiusitas dalam metode coping (Nelson-Becker 2005), dan ternyata digunakan juga di lingkungan mahasiswa kedokteran (Imran et al. 2016). Berkat keyakinan religiusitas pasien mampu menghadapi keputusasaan saat sakit. Amadi et al. (2016) berpendapat bahwa religiusitas dikaitkan dengan strategi coping yang lebih baik dan dapat diandalkan ketika berjuang melawan penyakit diabetes dan imbas depresinya. Sebuah penelitian menemukan data statistik yang signifikan tentang hubungan spiritualitas dan metode coping dalam menghadapi tekanan hidup Krok (2008).

Namun, terdapat penelitian lain yang menemukan adanya hubungan yang signifikan antara dukungan sosial dengan metode coping, bukan religiusitas, atau spiritualitas. Temuan kontradiksi ini didukung oleh (Mann et al. 2010) yang menunjukkan bahwa religiusitas atau spiritualitas tidak menurunkan tingkat stres, malah sebaliknya menambah ambang stres bagi para perempuan. Sebaliknya, dukungan sosial dan kualitas hubungan yang baik digadang-gadang sebagai faktor yang mampu menurunkan tingkat stres.

Temuan ini semakin menunjukkan lebih besarnya peran dukungan sosial dalam coping ketimbang peranan religiusitas dan spiritualitas pasien. Para pasien meluapkan perasaannya terkait dengan dukungan sosial yang mereka rasakan ketika mendapat kunjungan dari sanak keluarga maupun teman sejawat mereka (Sohail et al. 2018). Pasien-pasien tersebut merasa lebih aman dan merasa mendapatkan dukungan emosional yang membangun. Meski begitu, spiritualitas jelas tidak dapat dipisahkan dari religiusitas dan dukungan sosial, karena agama/spiritual terhubung dengan dukungan sosial (Mann et al. 2010).

Secara teoretis, religiusitas dan spiritualitas adalah konsep yang berbeda, namun berdasar pada penelitian yang dilakukan pada masyarakat muslim, kedua konsep tersebut saling terkait. Konsep religiusitas dan spiritualitas dalam konteks muslim tidak berbeda (Jafari et al. 2014). Fakta ini didukung oleh beberapa penelitian yang menyatakan bahwa studi spiritualitas dan kesehatan oleh muslim dan bangsa Barat memang memiliki persamaan dan perbedaan (Weathers 2018; Sohail 2018).

Temuan lain menunjukkan keterkaitan antara dukungan sosial dan religiusitas yang dapat diamati dari komunitas dan praktik-praktik keagaaman yang memberikan dukungan sosial baik lahiriah maupun batiniah. Kegiatan keagamaan membuka kesempatan dan media interaksi sosial (Merino and Nevado 2014; Ariadi et al. 2018). Dukungan sosial berbasis agama mampu mengatasi masalah depresi (Krause 2002). Studi menunjukkan dukungan sosial yang disokong oleh komunitas keagamaan mampu meningkatkan manfaat dukungan sosial itu sendiri (Ellison et al. 2010).

Hubungan antara agama dan kesehatan telah lama diketahui dan berlangsung hingga sekarang, dan bahkan akhir-akhir ini semakin mencuat dalam perilaku sosial dan ilmu kesehatan. Studi ini menemukan adanya keterkaitan tinggi antara religiusitas, spritualitas, dan strategi coping. Hal yang serupa ditemukan juga pada dukungan sosial, yang secara mengejutkan lebih memiliki peranan dalam strategi coping ketimbang dua aspek lainnya.

Dapat dikatakan dukungan sosial menempati posisi teratas sebagai faktor penopang strategi coping pasien. Meski begitu, sejatinya spiritualitas, religiusitas dan dukungan sosial sama-sama saling terhubung satu sama lain.

Pada penelitian ini, ditekankan bahwa religiusitas dan spiritualitas berdampak banyak pada penanganan dan penyembuhan pasien. Penelitian ini menyarankan kepada para tenaga medis, dokter, agar menyisipkan aspek agama dan spiritual sebagai bagian dari proses penyembuhan, karena iman adalah penyembuh terkuat. Studi ini juga menjelaskan bahwa studi kualitatif tetap harus terus dilakukan untuk lebih memahami fenomena ini. (*)

Penulis: Siti Mas’udah

Informasi yang lebih mendetail dari tulisan ini dapat dilihat di:

https://link.springer.com/article/10.1007/s10943-019-00909-4 e

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu