Menilik Efektivitas Jamur dalam Mengurangi Polutan Air Limbah Domestik

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Sumber foto: Istimewa
Sumber foto: Istimewa

Selain bermanfaat untuk membuat makanan hasil fermentasi seperti tempe, kecap, dan tape, jamur bisa digunakan untuk mengolah air limbah. Bahkan, jamur memiliki kemampuan menguraikan senyawa organik pada limbah yang lebih besar daripada bakteri. Terutama dalam menguraikan polimer dengan ikatan kompleks seperti selulosa, hemiselulosa, dan lignin.

Jamur mengandung beberapa enzim ekstraseluler yang mampu menguraikan senyawa kompleks melalui reaksi oksidasi nonspesifik. Maka dari itu, jamur dapat berfungsi sebagai pengurai senyawa organik yang ada di air limbah dengan pH rendah. Hal ini sangat bermanfaat karena pada kondisi tersebut, pertumbuhan bakteri terhambat sehingga proses penguraian pun terhambat. Dalam kondisi ini, jamur dapat berkembang dengan cepat dan menggunakan nutrisi yang digunakan patogen untuk bertahan hidup, sehingga patogen hilang.

Selain itu, jamur dapat melakukan proses denitrifikasi lebih cepat dibandingkan bakteri. Proses denitrifikasi ini berguna untuk menghilangkan senyawa nitrit dan nitrat sehingga hasil olahan air limbah terbebas dari kedua senyawa yang dapat mengakibatkan kematian ikan dan pertumbuhan ganggang yang tak terkendali.

Kelebihan jamur lainnya dibandingkan bakteri adalah kemampuan bertahan hidup pada kondisi pH rendah, keterbatasan nutrisi, dan suhu rendah. Bukan hanya itu, jamur memproduksi antibiotik yang berperan menurunkan pertumbuhan bakteri dan patogen, serta meningkatkan penguraian bahan organik. Penelitian menunjukkan bahwa jamur Aspergillus niger dan Penicillium corylophilum mampu menurunkan parameter pencemaran air lebih baik dari bakteri.

Atas karakteristik tersebut, sebuah penelitian dilakukan untuk menilai efektivitas jamur dalam mengolah air limbah domestik yang mengandung bahan-bahan pembersih cair. Dalam penelitian ini, jamur yang digunakan adalah Aspergillus niger, Aspergillus sp., dan Fusarium solani karena Aspergillus niger mendominasi 98 persen mikroorganisme pada instalasi pengolahan air limbah, sementara Aspergillus sp. dan Fusarium solani banyak ditemukan pada endapan pengolahan air limbah.

Reaktor C dan D Ditambah Jamur

Terdapat 4 reaktor yang diuji dalam penelitian ini. Reaktor B dan D ditambahkan detergen sedangkan reaktor A dan C tidak. Penambahan detergen mempengaruhi tingkat keasaman dalam reaktor sehingga reaktor B dan D memiliki pH 2. Hal ini disebabkan kandungan HCl pada detergen. Lalu, reaktor C dan D ditambahkan isolate jamur, sedangkan reaktor A dan B tidak.

Efektivitas jamur dalam mengolah air limbah dilihat dari kinerja penyisihan bahan organic, yaitu fosfat dan ammonia. Parameter ini dipilih karena keduanya banyak ditemukan dalam air limbah domestik. Sumber utama fosfat adalah detergen, sementara sumber utama ammonia adalah urin dan limbah dapur.

Hasilnya, konsentrasi fosfat pada reaktor A dan C menurun mulai hari pertama hingga ke-18. Presentase penyisihan fosfat adalah 69,6 persen pada reaktor A dan 70,8 persen pada reaktor C.  Sementara persentase penyisihan fosfat pada reaktor B dan D naik-turun setiap hari. Kontras dengan reaktor A dan C, reaktor B hanya menyisihkan fosfat sebesar 14,6 pesren sedangkan reaktor D sebesar 16,5 persen. Hal ini dikarenakan tingkat keasaman reaktor yang mempengaruhi fungsi jamur dalam mengurai bahan organik. Persentase penyisihan reaktor D mulai meningkat sejak hari ke-4. Ini membuktikan bahwa jamur berfungsi sebagai pengurai bahan organik di air limbah dengan kondisi pH rendah, di mana pertumbuhan bakteri terhambat.

Persentase penyisihan amonia pada reaktor A adalah 89,5 persen dan pada reaktor C 90,2 persen. Setelah hari ke-7, presentase cenderung stabil dan besar presentase penyisihan kedua reaktor hamper sama, yaitu 98,8 persen dan 99,9 persen. Peningkatan persentase penyisihan amonia hinga 99 persen dikarenakan peran jamur sebagai mikroorganisme heterotropik yang mampu membantu proses nitrifikasi. Melalui proses ini, amonia diubah menjadi nitrat dan nitrit sehingga konsentrasi amonia pada reaktor menurun. Selain itu, jamur melakukan proses denitrifikasi yang mengurangi jumlah nitrat dan nitrit sehingga tingkat pencemaran air berkurang.

Sementara itu, reaktor B dan D hanya menyisihkan amonia sebesar 32,2 persen dan 30,8 persen. Pada kasus ini, penambahan jamur di reaktor D tidak begitu berpengaruh pada penyisihan amonia di kondisi asam, namun kedua reaktor masih memiliki kemampuan menurunkan konsentrasi amonia. Adanya jamur bermanfaat untuk kelangsungan proses nitrifikasi pada kondisi asam, di mana mikroorganisme autotropik yang berperan dalam nitrifikasi tidak bekerja.

Dari penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa reaktor yang ditambahkan jamur dan tidak ditambahkan jamur memiliki presentase penyisihan fosfat dan amonia yang sama. Penambahan jamur untuk mengolah air limbah domestik tidak memiliki dampak signifikan dalam mengurangi kadar amonia dan fosfat. Namun, kondisi asam mempengaruhi kinerja mikroorganisme dalam menguraikan air limbah karena tidak semua mikroorganisme dapat bertahan hidup dalam kondisi asam. (*)

Penulis: Nurina Fitriani

Informasi yang lebih mendetail dari tulisan ini dapat dilihat:

http://www.envirobiotechjournals.com/article_abstract.php?aid=9336&iid=268&jid=4

References

Isnadina, D. R., Fitriani, N., Citrasari , N., & Soegianto, A. (2019). Effectiveness of fungi to remove nitrogen and phosphorus in domestic waste water. Pollution Research, 59-64.

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu