Adakan INCOFIMS, FPK Diskusikan Pengembangan dan Manajemen Ilmu Perikanan Kelautan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
PARA pengisi acara dan undangan INCOFIMS 2019. (Foto: Dimar)
PARA pengisi acara dan undangan INCOFIMS 2019. (Foto: Dimar)

UNAIR NEWS – Pada acara International Conference Fisheries and Marine (INCOFIMS) yang digelar oleh Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) Universitas Airlangga (UNAIR), tiga pembicara internasional secara bergantian menawarkan langkah-langkah strategis terhadap pengembangan dan manajemen perikanan dan kelautan di Indonesia. Tiga keynote speaker utama itu, yakni Ir. Nilanto Perbowo, M.Sc. selaku Sekjen Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Indonesia; Prof. Hong Sung Yun selaku profesor Departemen Biologi Kelautan Universitas Nasional Pukyong Korea Selatan; serta Prof. Dean Jerry selaku pimpinan program genetika akuakultur James Cook University Australia.

Ir. Nilanto dan Prof. Hong mengawali materinya dengan menjelaskan mengenai kapasitas konsumsi, industri, serta penangkapan ikan yang masih rendah. Baik di Indonesia maupun global.

“Kita semua tahu kalau Indonesia itu negara maritim. Namun, sayangnya meski dari tahun ke tahun kapasitas tangkapan ikan meningkat, tapi nominalnya masih belum memenuhi ekspektasi. Hal itu berangkat dari kenyataan bahwa mayoritas nelayan Indonesia adalah small fisherman,” tutur Sekjen KKP tersebut.

“Data dari Ryther menunjukkan bahwa potensi lahan ikan dunia mencapai 240 Million Ton (MT) dengan potensi sustained catch 100 MT. Namun, total tangkapan ikan yang mampu diraih hanya mencapai 60 MT,” imbuhnya.

Prof. Hong berusaha menegaskan bahwa masih banyak pekerjaan rumah yang menanti dalam peningkatan produksi dan konsumsi kelautan dan perikanan. “Konsumsi ikan di Indonesia meningkat, namun bisa dibilang masih kalah dengan beberapa negara lain yang notabene bukan negara maritim sebesar Indonesia. Pada tahun 2011, angkanya ada pada 28,9 kg per kapita. Hal ini yang kemudian turut menimbulkan masalah stunting seperti yang dijelaskan Ir. Nilanto tadi,” tuturnya.

Maka dari itu, Ir. Nilanto sebagai keynote speaker pertama menawarkan empat langkah penting yang dapat diambil dalam peningkatan produksi perikanan dan kelautan. Yakni, inovasi teknologi dan skema finansial dalam bioteknologi kelautan, innovation village yang mengolaborasikan peneliti dan sumber daya manusia di perdesaan nelayan, transfer teknologi kepada komunitas dan industri, serta mendorong transformasi komunitas kelautan dan perikanan melalui start-up generation.

Sementara itu Prof. Jerry membawakan materi berbeda mengenai peningkatan pendekatan pemuliaan selektif tingkat lanjut pada udang penaeid dan barramundi. “Hanya 10 persen produksi akuakultur dunia yang didasarkan pada spesies peranakan yang dipilih secara selektif,” tutur Prof. Jerry sebagai pembuka materinya.

Kemudian Prof. Jerry menjelaskan bahwa dalam program pembiakan tradisional terdapat banyak keterbatasan seperti sulit memperkirakan karakter spesies dalam hal resistensi penyakit dan kualitas carcass, potensi akan rendahnya kualitas, serta rendahnya korelasi genetik. Karena itu, Prof. Jerry mengemukakan gagasannya mengenai selective breeding pada udang penaeid dan barramundi dalam bagan lingkar.

“Pada selective breeding, kita akan mampu menghasilkan barramundi dan udang yang berdiversitas, kemampuan adaptasi terhadap climate change, prediksi terhadap perkembangbiakan, serta manipulasi sex. Maka, salah satu kunci utama dari program ini adalah melalui seleksi genomik,” ungkapnya.

Perlu diketahui, seminar Internasional tahun kedua tersebut diadakan di Hotel Mercure Surabaya pada Kamis (26/9/19). Tercatat sebanyak 250 undangan dan sejumlah partisipan nasional serta internasional turut hadir dalam seminar tersebut. (*)

Penulis: Intang Arifia

Editor: Feri Fenoria Rifa’i

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu