Aktivitas Antioksidan Curcumin pada Mencit yang Diberi Timbal

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi curcumin. (Sumber: indiamart)

Radikal bebas adalah molekul dengan elektron tidak lengkap dan menyebabkan reaktif. Radikal bebas dapat terjadi karena proses metabolisme tubuh atau akibat lingkungan yang terpapar polutan. Salah satu polutan yang berbahaya terhadap kesehatan tubuh manusia adalah logam berat, dan yang berpotensi untuk meracuni adalah timbal (Pb).

Timbal terikat 90 persen dalam sistem peredaran darah. Timbal dapat masuk dalam tubuh manusia melalui makanan (yang terkontaminasi alat masak atau makanan kaleng), pernafasan (akibat asap pabrik dan industri atau limbah), serta tanaman pangan yang diberi pupuk dan pestisida yang mengandung logam berat. Mekanisme utama toksisitas timbal adalah melalui stres oksidatif dan dapat membentuk senyawa kompleks dalam tubuh yang kemudian mengganggu aktivitas enzim tubuh. Paparan timbal menginduksi beberapa respons fisiologis dan biokimiawi dalam sel, serta menyebabkan kerusakan pada organ dalam tubuh.

Beberapa penelitian terkait timbal antara lain menyebutkan bahwa timbal dapat mengakibatkan turunnya kadar hemoglobin (Hb) dan jumlah eritrosit tikus (Sugiharto, 2004); menyebabkan stres oksidatif dan mengubah protein hati mencit (Xu, et al., 2007); menurunkan enzim antioksidan endogen yaitu superoxide dismutase (SOD) dan catalase (CAT), serta dapat meningkatkan peroksidasi lipid di organ ginjal (Sharma dan Singh, 2012). Paparan timbal juga dapat meningkatkan jumlah sel nekrotik dan sel-sel yang membengkak serta menurunkan sel-sel normal hepatosit mencit (Sugiharto et al., 2018).

Pemberian berbagai asupan antioksidan eksogen dapat mencegah atau mengurangi toksisitas timbal serta pembentukan stres oksidatif. Antioksidan adalah senyawa yang dapat menangkap radikal bebas dan menetralisir reaktif dari molekul oksidan atau mencegah proses oksidasi molekul lain. Sumber antioksidan banyak terdapat dalam makanan seperti buah, sayur, dan rimpang tanaman Zingiberaceae. Pada umumnya kelompok tanaman tersebut banyak mengandung polifenol, likopen, viamin C, dan lain-lain.

Indonesia adalah negara mega biodiversitas dan mempunyai banyak tanaman yang berpotensi sebagai bahan obat alami, antara lain tanaman temulawak. Temulawak (Curcuma xanthorrhiza) banyak ditemukan di daerah tropis dan mudah berkembang biak di sekitar daerah pemukiman penduduk. Rimpang temulawak sejak lama dikenal sebagai bahan ramuan obat karena mengandung bahan aktif curcumin.

Curcumin dapat berperan sebagai antioksidan karena mengandung senyawa fenolik dan flavonoid. Beberapa penelitian yang terkait dengan temulawak atau curcumin antara lain menyebutkan bahwa curcumin antioksidan kuat dengan toksisitas rendah, dan sebagai inhibitor tirosinase untuk mengurangi hiperpigmentasi pada kultur sel B16-F1 (Sugiharto, dkk., 2012 ; Sugiharto, et al., 2013 ; Sugiharto, et al., 2016); dapat menurunkan kadar Serum Glutamic Pyruvate Transaminase (SGPT) mencit yang disinari radiasi sinar gamma (Sari, dkk, 2012); serta menjaga jumlah eritrosit dan kadar hemoglobin (Hb) dalam kisaran normal (Simanungkalit, dkk., 2014).

Hasil perhitungan menunjukkan bahwa uji aktivitas antioksidan curcumin dengan metode 1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl (DPPH) diketahui mempunyai nilai inhibition concentration (IC50) sebesar 10,5 ppm. Berdasarkan data tersebut dapat dipastikan aktivitas antioksidan curcumin sangat kuat sebab mempunyai nilai IC50 kurang dari 50 ppm. Penelitian tentang pengaruh paparan timbal pada mencit menunjukkan bahwa secara signifikan dapat mengurangi kadar SOD, mengurangi jumlah limfosit, meningkatkan granulosit, tetapi tidak terdapat perbedaan signifikan pada berat hati atau indeks hepatosomatik dibandingkan dengan kelompok kontrol.

Asupan antioksidan eksogen seperti curcumin ternyata dapat membantu meningkatkan kembali kadar SOD. Curcumin mengandung senyawa fenolik dan flavonoid yang dapat mengikat ion Pb2+. Curcumin juga memiliki aktivitas sebagai imunomodulator untuk meningkatkan jumlah leukosit dengan cara mempengaruhi enzim yang terlibat dalam reaksi inflamasi. Pemberian curcumin juga dapat meningkatkan berat hati dibandingkan kelompok kontrol sebab dapat mengembalikan sel-sel epar yang rusak (Sugiharto et al., 2018).

Beberapa studi literatur juga didapatkan bahwa mekanisme kerja aktivitas antioksidan curcumin adalah menghilangkan atau mengurangi reactive oxygen species (ROS), mengurangi peroksidasi lipid dan mencegah penipisan glutathione (GSH), kegiatan anti-inflamasi, produksi metionin sebagai prekursor sintesis glutathione serta sebagai agen chelating (pengikat) logam berat (Joe et al., 2004 ; Khan et al., 2019; Raj dan Shankaran, 2016; Shah dan Jain, 2016). (*)

Penulis: Sugiharto

Artikel ilmiah populer ini disarikan dari artikel yang dipublikasikan di Jurnal Internasional Q4: http://www.envirobiotechjournals.com/article_abstract.php?aid=9744&iid=277&jid=4

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu