Menilik Manajemen Persediaan Obat di Rumah Sakit

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi obat-obatan. (Sumber: Lamuri Online)

Mendengar kata rumah sakit, di benak kita selalu mengarahkan kita pada sosok dokter dan orang sakit. Rumah sakit adalah sebuah tempat yang unik, ketika orang sakit dan orang sehat dapat bertemu dan berinteraksi. Industri rumah sakit tidak kalah kompleks dari pertemuan itu, di rumah sakit banyak profesi berkumpul bersama dan bekerja sama untuk menjalankan roda pelayanan.

Dalam menuju kesembuhan sering kita berpikir tentang obat. Tetapi pernahkah kita berpikir bahwa ada obat yang juga berada di rumah sakit? Seringkali kita berpikir bahwa obat berada di luar rumah sakit. Senyatanya, di rumah sakit ada instalasi khusus yang menangani masalah obat dan disebut instalasi farmasi. Instalasi ini menjamin terpenuhinya kebutuhan akan pasokan produk farmasi termasuk obat yang akan digunakan di rumah sakit.

Dengan penanganan manajemen yang baik, rumah sakit akan sangat terbantu dalam mengatur persediaan obat. Manajemen persediaan obat sangat krusial di rumah sakit, memastikan tidak ada satu haripun terjadi kekurangan obat dan tidak ada obat yang sampai kadaluwarsa. Tentunya bukan hal yang mudah untuk dilakukan dan diwujudkan.

Selama ini industri obat-obatan di Indonesia dikenal sangat rumit dan tempat berputar banyak uang. Manajemen persediaan obat di rumah sakit dituntut untuk menjawab tantangan tersebut dengan mengendalikan persediaan obat di rumah sakit. Ada tiga kondisi dalam persediaan obat di rumah sakit yakni kondisi kekurangan, kondisi stagnan, dan kondisi obat-obatan normal.

Obat-obatan dikategorikan stagnan jika sisa stok melebihi tiga kali penggunaan rata-rata per bulan. Obat-obatan dikatakan dalam kondisi kekurangan jika sisa stok sama dengan nol atau kurang pada kondisi stok aman. Obat normal adalah ketika ketersediaan obat pada jumlah optimal, tidak kurang dari safety stock, dan tidak lebih dari tiga kali penggunaan bulanan. Tentu dalam perencanaan obat, diperlukan keputusan tentang jenis obat mana yang akan kita beli, berapa jumlah pembelilannya, berapa kali dalam setahun obat tersebut akan dibeli, dan seberapa besar yang akan kita simpan, adalah beberpa hal yang tentu sangat sulit dilakukan.

Tanpa perencanaan yang baik dan manejemen yang efektif maka akan terjadi keadaan kekurangan dan keadaan stagnan. Keadaan kekurangan akan membuat mutu layanan menjadi berkurang, pasien menjadi panik dan menyebabkan mereka memenuhi kebutuhan akan obat di luar rumah sakit. Kondisi ini pada akhirnya juga akan mengurangi profit dari rumah sakit itu sendiri. Sedangkan keadaan stagnan membuat rumah sakit juga akan kebingungan dalam menyimpan obat dan membutuhkan pengeluaran yang tidak perlu. Selain itu keadaan stagnan akan membuat rumah sakit kehilangan profit dan revenue dari obat tersebut, selain ancaman obat yang akan kadaluwarsa.

Untuk menghindari keadaan kekurangan dan stagnan ada tiga metode yang digunakan dalam manajemen persediaan. Yakni, economic order quantity (EOQ), minimum-maximum stock level (MMSL), dan the traditional consumption of drug inventor. EOQ memberikan kita kesempatan untuk membeli obat secara ekonomis. Hal ini dilakukan dengan mengoptimalkan volume stok pada produk farmasi. Dengan mengoptimalkan stock maka risiko kondisi obat stagnan dan kekurangan akan bisa dihindari oleh rumah sakit. Metode ini mampu meminimalkan opportunity loss dan opportunity cost dalam manajemen persediaan di rumah sakit. Sehingga metode ini dapat membangun manajemen persediaan obat yang efektif dan efisien apabila dibandingkan dengan 2 metode lainnya yakni minimum-maximum stock level (MMSL), dan the traditional consumption of drug inventor. Dengan menerapkan metode yang paling efektif maka rumah sakit bisa menekan kerugian terutama dalam manajemen persediaan.

Manajemen persedian obat harus menjadi perhatian utama juga di rumah sakit dan klinik. Dengan manajemen persediaan obat yang baik maka rumah sakit dan klinik akan mampu menjamin kualitas layanan kesehatan yang baik untuk pasien.

Selain manfaat tersebut, manajemen persediaan yang baik akan dapat meningkatkan pendapatan dari rumah sakit dan klinik dengan menghindari obat yang berlimpah dan obat yang kekurangan. Hal ini merupakan sebuah tantangan besar bagi kita semua dalam penerapan manajemen persediaan obat yang efektif dan efisien. (*)

Penulis: Thinni Nurul Rochmah

Apabila saudara tertarik dengan topik ini, saudara dapat membacanya artikel Achieving cost-efficient management of drug supply via economic order quantityand minimum maximum stock level. Link artikel ini dapat diunduh  pada https://doi.org/10.1080/14737167.2019.1633308

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu