Dosen FKH UNAIR Banyuwangi Tanggapi Satwa yang Terdampak Kabut Asap

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Salah satu potert satwa yang menjadi korban dari kebakaran hutan dan lahan. (Foto: IDN Times)

UNAIR NEWS – Musim kemarau yang melanda sebagian wilayah di Indonesia mengakibatkan bencana kebakaran lahan dan hutan kembali terjadi. Dalam beberapa minggu terakhir, kebakaran yang melanda Kalimantan dan Sumatera semakin menambah persoalan rumit Indonesia. Di tengah isu yang semakin memanas di ibu kota Jakarta, bencana kebakaran hutan tak luput dari panasnya masalah yang seharusnya mendapat perhatian serius dari semua kalangan.

Bencana kabut asap tidak hanya menyengsarakan masyarakat terdampak, keberadaan satwa di hutan yang terbakar turut mengalami masalah serius. Habitat satwa dihutan menjadi hilang. Banyak satwa yang kondisinya terancam punah, sekarang semakin tak jelas keberadaannya.

Sebut saja orangutan sebagai salah satu satwa endemik Indonesia, kondisinya semakin memprihatikan. Tidak hanya golongan primata, golongan lain seperti reptil dan burung ikut merasakan dampak dari bencana tersebut.

Aditya Yudhana, drh., M.Si (Foto: Dokumen Pribadi)

Peran pemerintah dan semua kalangan sangat dibutuhkan untuk menjawab dan mengatasi hal tersebut. Sejauh ini, pemerintah masih cenderung memprioritaskan manusia dan infrastruktur terdampak. Ironinya, upaya terhadap satwa masih dipandang sebelah mata.

Melihat kondisi tersebut, Aditya Yudhana, drh., M.Si. selaku dosen satwa liar Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) UNAIR Banyuwangi berpandangan bahwa bencana tersebut memang tidak diketahui penyebabnya pastinya apa. Disamping hal itu, terus terang, fokus utamanya yang paling  dituju disini yaitu kondisi satwa yang terdampak.

“Melihat kondisinya yang semakin parah, disamping habitatnya rusak, kondisi satwa pasca kejadian yang tentunya akan menambah permasalahan serius,” ujar dosen yang biasa disapa dokter Adit.

Labuh lanjut, terangnya, upaya keras harus dilakukan terhadap satwa yang terdampak, sebut saja luka bakar, infeksi saluran pernafasan atas (ISPA) dan sebagainya harus mendapatkan perhatian khusus. Upaya rescue dan konservasi tidak hanya semata merawat satwa saat kejadian, namun setelahnya itu, bekerja bersama-sama untuk merawat satwa tersebut. Penanganan, perawatan, pemulihan pasca kejadian.

Permasalahan lain yang akan timbul, sambungnya, jika satwa yang mendapatkan penanganan tersebut di konservasi dan dirawat disekitar pemukiman warga. Penularan penyakit, khususnya penyakit yang bersifat zoonosis tak luput dari permasalah berikutnya. Penyakit zoonosis dapat menular dari hewan ke manusia atau sebaliknya.

“Jika upaya konservasi yang dilakukan tidak memenuhi standar, bisa saja hal tersebut akan terjadi, dan mungkin saja akan menimbulkan wabah baru,” ungkapnya.

Sampai saat ini, lanjut Adit, sebagian besar peran lembaga konservasi non pemerintah masih menjadi garda terdepan dalam penyelamatan satwa. Nantinya, peran lembaga konservasi dan komunitas seperti dokter hewan spesialis, paramedik veteriner dan volunteer mahasiswa menjadi ujung tombak keberlanjutan satwa. Hal itu, mengingat peran pemerintah dinilai sangat minim akan hal tersebut.

“Sebagai sesama makhluk hidup, mari bergerak menjaga alam kita. Manusia, hewan dan tumbuhan perlu saling menjaga, Karena semuanya akan saling memberi manfaat,” pungkasnya. (*)

Penulis: Muhammad Suryadiningrat

Editor: Nuri Hermawan

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu